“ HELENISME DAN ABAD
PERTENGAHAN“
DOSEN PEMBIMBING
RUKHUL AMIN, S.H.I.M.S.I
Di Susun Oleh
:
Suyitno 201305010129
Imam Nashiruddin 201305010098
M.Hendra 201305010134
M. Ilham Muslim 201305010120
F A K U L A T A S A G A M A
I S L A M
UNIVERSITAS SUNAN GIRI SURABAYA
2014
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah
sebagai lambang puji dan tasyakkur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
hidayahnya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah
tentang " HELENISME
DAN ABAD PERTENGAHAN ".
Sholawat
beserta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada junjungan kita nabi
Muhammad SAW, beserta keluarganya dan para shahabatnya semoga kita mendapat
syafaatnya kelak di hari kiamat, amin.!
Selanjutnya
kami ucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing
dan teman-teman yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini dengan
baik, dan kami sangat menyadari bahwa pembuatan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, maka dari itu kami membutuhkan keritik dan saran yang
bersifat membangun untuk kelancaran tugas-tugas selanjutnya.
Demikian
yang dapat kami sampaikan dan kami berharap semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kami dan bagi pembaca khususnya.
Penyusun
Sidoarjo, 28 September 2014
BAB l
PENDAHULUAN
Filsafat
dan ilmu pada dasarnya adalah dua kata yang saling terkait, baik secara
substansial maupun historis, karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan
filsafat. Filsafat telah merubah pola pemikiran bangsa Yunani dan umat manusia
dari pandangan mitosentris menjadi logosentris. Perubahan pola pikir tersebut
membawa perubahan yang cukup besar dengan ditemukannya hukum-hukum alam dan
teori-teori ilmiah yang menjelaskan bagaimana perubahan-perubahan itu terjadi,
baik yang berkaitan dengan makro kosmos maupun mikrokosmos. Dari sinilah lahir
ilmu-ilmu pengetahuan yang selanjutnya berkembang menjadi lebih terspesialisasi
dalam bentuk yang lebih kecil dan sekaligus semakin aplikatif dan terasa
manfaatnya.
Filsafat
sebagai induk dari segala ilmu membangun kerangka berfikir dengan meletakkan
tiga dasar utama, yaitu ontologi, epistimologi dan axiologi. Maka Filsafat Ilmu
menurut Jujun Suriasumantri merupakan bagian dari epistimologi (filsafat ilmu
pengetahuan yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu (pengetahuan ilmiah).
Dalam pokok bahasan ini akan diuraika pengertian filsafat ilmu, dan obyek yang
menjadi cakupannya.
Filsafat
ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun
historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaiknya
perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Kelahiran filsafat di Yunani
menunjukkan pola pemikiran bangsa Yunani dari pandangan mitologi akhirnya
lenyap dan pada gilirannya rasiolah yang dominan.
Perubahan
dari pola pikir mite-mite kerasio membawa implikasi yang tidak kecil. Alam
dengan segala gejalanya, yang selama itu ditakuti kemudian didekati dan bahkan
bisa dikuasai. Perubahan yang mendasar adalah ditemukannya hukum-hukum alam dan
teori-teori ilmiah yang menjelaskan perubahan yang terjadi, baik alam semesta
maupun pada manusia sendiri.
Dari
segi praktis, falsafat berarti alam pikiran atau alam berfikir. Berfilsafat
artinya berfikir. Namun tidak semua berfikir berarti berfilsafat. Berfilsafat
adalah berfikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sebuah semboyan mengatakan
bahwa setiap manusia adalah filosuf. Semboyan ini benar juga sebab semua
manusia berfikir. Akan tetapi, secara umum semboyan itu tidak benar sebab tidak
semua manusia yang berfikir adalah filosof. Tegasnya filsafat adalah hasil akal
manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya.
Dengan kata lain filsafat adalah ilmu yang berusaha mempelajari suatu sampai ke
akar-akarnya, sistematika dan menyeluruh sehingga mendapatkan hakikat kebenaran
dari sesuatu itu.
Pemikiran Filsafat mengalami
perkembangan yang sangat pesat dan cepat menyebar ke berbagai wilayah dengan
periode yang berbeda-beda seperti Filasafat Yunani, Filsafat Klasik, Filsafat
Islam, sampai pada Filsafat Modrn yang banyak ragam pemikirannya.
Periode-periode tersebut mempunyai cirri dan corak masing-masing meskipun
secara umum dari periode satu ke yang lainnya ada pemikiran yang bersentuhan.
Di dalam Periode tersebut terdapat periode Hellenistik atau Hellenisme yang
juga mempunyai cara pandang yang khas atau corak yang khusus.
BAB II
PEMBAHASAN
FILSAFAT
HELLENISME
Pengertian
Hellenisme
Helenis atau Helenisasi, istilah ini
berasal dari kata Yunani Helen (Istilah yang dipakai oleh orang Yunani untuk
menyebutkan etnik mereka). Helenis juga adalah istilah yang digunakan
untuk mendeskripsikan perubahan kultural di mana sesuatu yang bersifat bukan
Yunani menjadi Yunani (peradaban Helenistik). Prosesnya ada yang bersifat
sukarela, serta ada pula dengan penggunaan kekuatan. Iskandar/Aleksander Agung
menyebarkan wawasan peradaban Yunani, termasuk di dalamnya bahasa. Hasilnya
adalah, beberapa unsur yang berasal dari Yunani digabung dalam bentuk yang
bervariasi dengan unsur lain dari peradaban daerah yang dikuasai, yang dikenal
dengan Helenisme.
Filsafat
helenisme berasal dari filsafat hellens (nama orang) termasuk kaum zabaniyah,
yang mencari kebenaran melalui akal. Filsafat Hellenisme menurut pengertian
etika adalah “Manusia hendaknya mengikuti saja suratan takdir dan penentuan
alam baginya. Dengan demikian, ia akan mencapai harmoni dengan alam yang akan
membawanya kepada kebahagiaan (eudaimonia). Jadi, hukum alam harus
ditaati terlepas dari perasaan senang atau tidak, menguntungkan atau merugikan,
mengenakkan atau menjengkelkan. Soalnya bagi Zenon, kebahagiaan terletak dalam
tekad keras menjalankan kewajiban demi hukum alam yang objektif, bukan demi
perasaan atau selera subjektif orang perorang.
Sebelum lahirnya filsafat islam baik
didunia timur maupun dunia barat telah terdapat bermacam-macam alam pikiran,
diantaranya yang terkanal ialah pikiran mesir kuno, pikiran sumeria, babilonia,
dan assurya, pikiran iran, pikiran india, pikiran cina dan pikiran yunani.
Boleh jadi, pikiran-pikiran iran dan india sedikit banyak telah memberikan
sumbangan pada pembentukan filsafat islam, tetapi yang tampak jelas sekali
hubungannya, bahkan menjadi sumber(bukan sumber utama) bagi filsafat islam
ialah filsafat yunani.
Filsafat yunani yang sampai kepada dunia
islam tidaklah seperti yang ditinggalkan oleh orang-orang yunani sendiri, baik
melalui orang-orang Masehi Nestoria dan Jakobites maupun melalui
golongan-golongan lainnya. Akan tetapi filsafat sampai kapada mereka melalui
pemikiran Hellenisme Romawi yang mempunyai cirri khas tertentu yang
m,empengaruhi filsafat itu sendiri. Oleh karena itu tidak semua pikiran-pikiran
filsafat yang sampai pada dunia Islam berasal dari Yunai, baik dalam teks-teks
aslinya maupun dalam ulasan-ulasannya, melainkan hasil dari dua fase yang
berturut-turut, yaitu “Fase Hellenisme” dan “Fase Hellenisme Romawi”. Oleh
karena itu, dalam pikiran filsafat terdapat dua coprak yang berbeda atau dua
corak yang bercampur, sesuai dengan perbedaan alam pikiran pada dua masa yang
membicarakannya.
Fase
Hellenisme ialah
ketika pemikiran filsafat hanya dimiliki oleh orang-orang Yunani, yaitu sejak
abad ke-6 atau ke-5 SM sampai akhir abad ke-4 SM. Adapun Fase
Hellenisme Romawi (Greko Romawi) ialah fase yang datang sesudah fase
Hellenisme, dan meliputi semua pemikiran filsafat yang ada pada masa kerajaan
romawi, yang ikut serta membicaraan peningggalan Yunani, antara lain pemikiran
Romawi di Barat dan pemikiran di Timur yang ada di Mesir dan Siria. Fase ini
dimulai dari akhir abad ke-4 SM sampai pertengahan abad ke-7 M di Iskandariah,
atau sampai abad ke-8 M di Siria dan Irak, yaitu aliran Urfa, Ar-Ruha,
Nissibis, dan Antiochia, atau sampai pada masa penerjemahan di dunia Arab.
Karakteristik
Hellenisme
Filsafat Yunani bukanlah hasil ciptaan
filosof-filosof Yunani semata-mata, tetapi lebih tepat dikatakan sebagai
saingan (pilihan) dari kebudayaan Yunani sebelum masa berfilsafat, karena
filsafat di Yunani mula-mula dimaksudkan untuk melepaskan diri dari kekuasaan
golongan-golongan Agama bersahaja dengan jalan menguji ajaran-ajarannya. Apa
yang dapat dibenarkan oleh akal pikiran dinamakan filsafat, dan apa yang tidak
dapat diterima oleh akal pikiran dimasukkan dalam “cerita-cerita Agama”. Karena
itu dalam filsafat Yunani terdapat unsur-unsur Agama bersahaja (Agama-Agama
berhala), antara lain kepercayaan tentang adanya banyak zat yang membekasi alam
dan yang menjadi sumber segala peristiwanya, meskipun dalam bentuk yang berbeda
dengan apa yang ada pada Agama Yunani sendiri, karena zat yang berbilang dalam
Agama itu dinamakan ‘dewa-dewa’, sedang dalam filsafat disebut ‘akal
benda-benda langit’, sebagaimana yang kita lihat antara ‘akal bulan’ dengan
‘akal manusia’. Menurut filsafat Yunani bukan hanya sebab yang pertama (first
cause) yang mempengaruhi alam, tetapi juga ada kekuatan-kekuatan lain yang ikut
serta mempengaruhinya yaitu akal-akal yang menggerakkan benda-benda langit.
Demikian pula “Api Heractilus” yang
dianggap sebagai asal kejadian alam, boleh jadi karena pengaruh pemujaan api
yang dikenal oleh Agama-Agama Iran pada umumnya dan yang sampai di Yunani
sesudah adanya pertemuan antara barat dengan timur.
Ciri kedua dari pemikiran filsafat
Yunani ialah ketidak-selarasan, karena filsafat ini mula-mula terdiri dari
bermacam-macam soal yang tidak selaras. Sampaipun orang-orang yang mempunyai
pemikiran filsafat yang sistematis, seperti Plato dan Aristoteles, juga tidak
terhindar dari ketidak-selarasan ini dalam pemikirannya. Karena dalam
menguraikan sesuatu persoalan filsafat, mereka masih terpengaruh oleh
pikiran-pikiran orang sebelumnya, dengan segala macam perbedaannya dan yang
mengandung ketidak-selarasan pula. Sedang sistem filsafat mereka tidak lain
hanyalah merupakan usaha secara luas untuk mencakup segala hasil pemikiran
filsafat yang telah ada.
“Teori ide” dari Plato misalnya
merupakan usaha pemaduan antara dua pemikiran yang berlawanan. Heraclitus dan
pengikut-pengikutnya mengatakan bahwa segala sesuatu selalu berubah (perpetual
flux, panta rhei) dan pendapat ini telah dirubah oleh Pythagoras tokoh aliran
“Sofisme”, menjadi ajaran yang mengatakan bahwa “Perorangan menjadi ukuran
segala sesuatu” (man is the measure of all things). Kebalikan dari
Heraclitus ialah Parmenides, terkenal dengan sebutan ajaran aliran “Elea”, yang
mengatakan bahwa semua wujud ini satu, tidak ada yang banyak; yang satu
tersebut tetap, dan dalam alam ini tidak ada perubahan. Kedua pendapat
yang berlawanan ini dipadukan oleh Plato dengan mengatakan adanya dua alam,
yaitu “alam yang nyata’ (real) dan “alam indrawi” (sensible).
Pembagian Aristoteles terhadap wujud
menjadi form dan matter merupakan bentuk lain dari cara penggabungan terhadap
pendapat-pendapat Heraclitus dan Parmenides. Seperti halnya dengan Plato,
Aristoteles mengatakan bahwa hanya zat yang ada dengan sendirinya dan tidak
berubah-ubah (necessary and unchangeable) itulah yang bisa menjadi obyek
pengetahuan. “Alam indrawi” (sensible things) mendatang kemudian dan bisa
berubah-ubah, dan oleh karena itu bisa ada dan bisa tidak ada (to be and not to
be possible both to be and not to be). Hanya zat yang bukan indrawi (non
sensible) yang menjadi objek pikiran kita dapat tidak berubah, dan
tiap-tiap kejadian memerlukan adanya zat yang tidak dijadikan (that all
change presupposes an unchangeable and every becoming something that has not
become).
Meskipun Plato dan Aristoteles telah
berhasil memadukan pikiran-pikiran filsafat yang sebelumnya, namun keduanya
tidak dapat melarutkannya sama sekali, karena pikiran-pikiran filsafat tersebut
adalah pemikiran bermacam-macam aliran yang boleh jadi berbeda-beda
pandangannya terhadap hidup dan alam ini. Aliran-aliran ini adalah:
1.
Aliran
tabii (natural philosophy) dengan Democritus sebagai tokohnya dan
filosofi-filosoflonia, yang menghargai alam dan wujud benda setinggi-tingginya.
Karena itu menurut aliran ini alam itu abadi.
2.
Aliran
ketuhana yang mengakui zat-zat yang metafisik, diwakili oleh aliran Elea dan
Socrates, yang mengatakan bahwa sumber alam indrawi adalah sesuatu yang berada
diluarnya.
3.
Aliran
mistik dan Pythagoras sebagai tokohnya, yang bermaksud memperkecil atau
mengingkari nilai alam indrawi, dan oleh karena itu aliran ini menganjurkan
kepada manusia untuk meninggalkannya, serta menuju kepada alam yang penuh
kesempurnaan, kebahagiaan dan kebebasan mutlak, sesudah terikat oleh benda alam
ini.
4.
Aliran
kemanusiaan yang menghargai manusia setinggi-tingginya dan mengakui
kesanggupannya untuk mencapai pengetahuan, serta menganggap manusia sebagai
ukuran kebenaran. Aliran ini diwakili oleh Socrates dan golongan “sofis”
meskipun ada perbedaan antara dia dengan mereka.
Aliran-aliran filsafat tersebut sudah
barang tentu mempengaruhi hasil pemikiran filosof-filosof yang datang
kemudian, bagaimanapun kuat dan besarnya filosof-filosof tersebut. Plato
meskipun mengakui adanya Tuhan, tetapi tidak jelas pendapatnya tentang alam,
qadim-kah atau hadis. Ia lebih condong kepada tasawuf, namun ia terkenal
sebagai pencipta “teori universalitas” (kulliyat) dan logika seperti yang
terlihat dalam bukunya yang berjudul Euthydemus dan Gorgias, sedang tasawuf
berdasarkan mata hati”, dan logika berdasarkan pikiran.
Aristoteles adalah seorang monoisme,
yang mengakui keesaan sumber alam semesta, yaitu Zat yang wajibul-wujud. Tetapi
dalam pada itu ia membenarkan azali-nya alam keabadian jiwa, hal mana
menyebabkan adanya pluralitas (bilangan) pada alam yang qadim. Ia mengarang
buku Organon yang mengatur cara berpikir dan menciptakan adanya pengaruh akal
bulan, sebagai benda langit yang terdekat dengan bumi, pada akal manusia.
Meskipun Aristoteles telah lebih mampu dalam mempertemukan aliran-aliran
filsafat yang hidup sebelum dia, namun hasil pemikirannya masih menunjukkan
adanya ketidakselarasannya.
Ketidakselarasan ini menyebabkan adanya
perbedaan yang agak jauh antara Plato dengan Aristoteles sendiri, meskipun ada
usaha-usaha dari al Faribi dalam bukunya al Jam’u baina Sa’jai al Hakimain
(Pemanduan pikiran-pikiran kedua filosof) untuk menghapuskan
perbedaan-perbedaan itu, atau dengan mengatakan bahwa sebagai pendapatnya
dikeluarkan pada masa-masa tertentu dan pendapat-pendapat lain dikeluarkan pada
masa sesudahnya atau sebelumnya.
Akan tetapi bagi mereka yang mengetahui
ciri-ciri khas pemikiran Yunani, sebagai pemikiran yang dipengaruhi oleh
berbagai faktor atau aliran filsafat yang tidak seirama satu sama lain, maka
tidak perlu mengadakan pemaduan tersebut.
PERIODE
ETIK
Periode ini terdiri dari tiga sekolah
filsafat, yaitu Epikuros, Stoa dan Skeptis. Nama sekolah yang pertama diambil
dari kata pembangun sekolah itu sendiri, yaitu Epikuros. Adapun nama sekolah
yang kedua diambil dari kata”stoa” yang berarti ruang. Sedangkan nama skeptis
diberikan karena mereka kritis terhadap para filosof klasik sebelumnya.
Ajarannya dibangun dari berbagai ajaran lama, kemudian dipilih dan disatukan.
Untuk lebih jelasnya, dari ketiga macam sekolah tersebut, pemakalah akan
merincinya satu-persatu.
A.
Epikuros (341 SM)
Epikuros dilahirkan di samos pada tahun
341 SM. Pada tahun 306 ia mulai belajar di Athena, dan di sinilah ia meninggal
pada tahun 270. Filsafat Epikuros diarahkan pada satu tujuan belaka; memberikan
jaminan kebahagiaan kepada manusia. Epikuros berbeda dengan Aristoteles yang
mengutamakan penyelidikan ilmiah, ia hanya mempergunakan pengetahuan yang
diperolehnya dan hasil penyelidikan ilmu yang sudah ia kenal, sebagai alat
untuk membebaskan manusia dari ketakutan agama. Yaitu rasa takut terhadap
dewa-dewa yang ditanam dalam hati manusia oleh agama Grik lama. Menurut
pendapatnya ketakutan kepada agama itulah yang menjadi penghalang besar untuk
memperoleh kesenangan hidup. Dari sini dapat diketahui bahwa Epikuros adalah
penganut paham Atheis.
Epikuros adalah seorang filosof yang
menginginkan arah filsafatnya untuk mencapai kesenangan hidup. Oleh karena itu
tidak heran jika filosof yang satu ini menganut paham atheis. Hal ini
semata-mata ia lakukan untuk mencapai kebahagiaan yang sempurna, tanpa ada yang
membatasi. Menurutnya filsafat dibagi menjadi tga bagian, yaitu logika,
fisika dan etik.
1. Logika.
Epikuros berpendapat bahwa logika harus
melahirkan norma untuk pengetahuan dan kriteria untuk kebenaran. Norma dan
kriteria itu diperoleh dari pemandangan. Semua yang kita pandang itu adalah
benar. Baginya pandangan adalah kriteria .yang setinggi-tingginya untuk
mencapai kebenaran. Logikanya tidak menerima kebenaran sebagai hasil pemikiran.
Kebenaran hanya dicapai dengan pemandangan dan pengalaman.
2. Fisika.
Teori fisika yang ia ciptakan adalah
untuk membebaskan manusia dari kepercayaan pada dewa-dewa. Ia berpendapat bahwa
dunia ini bukan dijadikan dan dikuasai dewa-dewa, melainkan digerakkan oleh
hukum-hukum fisika. Segala yang terjadi disebabkan oleh sebab-sebab kausal dan
mekanis. Tidak perlu dewa-dewa 4itu diikutsertakan dalam hal peredaran alam
ini. Manusia merdeka dan berkuasa sendiri untuk menentukan nasibnya. Segala
fatalisme berdasar kepada kepercayaan yang keliru. Manusia sesudah mati tidak
hidup lagi, dan hidup di dunia ini terbatas pula lamanya, maka hidup itu adalah
barang sementara yang tidak ternilai harganya. Sebab itu, menurutnya hidup
adalah untuk mencari kesenangan.
Dari pandangan fisika yang dikemukakan
Epikuros, sangat terlihat bahwa ia adalah penganut paham atheisme. Teori-teori
yang ia ciptakan adalah untuk menihilkan peran Tuhan di dunia ini.
3. Etik.
Ajaran etik epikuros tidak terlepas dari
teori fisika yang ia ciptakan. Pokok ajaran etiknya adalah mencari kesenangan
hidup. Kesenangan hidup ialah barang yang paling tinggi nilainya. Kesenangan
hidup berarti kesenangan badaniah dan rohaniah. Badan terasa enak, jiwa terasa
tentram. Yang paling penting dan mulia menurutnya ialah kesenangan jiwa.
Dari ketiga ajaran Epikuros, jika
diaktualisasikan ke dalam agama Islam maka akibatnya bisa fatal sekali. Seorang
muslim akan menjadi atheis ketika mengikuti ajaran Epikuros ini. Di sinilah
bahaya filsafat jika kita telan mentah-mentah tanpa ada proses penyaringan
terlebih dahulu. Apalagi jika tidak dilandasi dengan akidah yang kuat.
B. Stoa (340 SM)
Pendirinya adalah Zeno dari Kition. Ia
dilahirkan di Kition pada tahun 340 sebelum Masehi. Awalnya ia hanyalah seorang
saudagar yang suka berlayar. Suatu ketika kapalnya pecah di tengah laut.
Dirinya selamat, tapi hartanya habis tenggelam. Karena itu entah mengapa ia
berhenti berniaga dan tiba-tiba belajar filsafat. Ia belajar kepada Kynia dan
Megaria, dan akhirnya belajar pada academia di bawah pimpinan Xenokrates, murid
Plato yang terkenal.
Setelah keluar ia mendirikan sekolah
sendiri yang disebut Stoa. Nama itu diambil dari ruangan sekolahnya yang penuh
ukiran Ruang, dalam bahasa Grik ialah “Stoa”. Tujuan utama dari ajaran Stoa
adalah menyempurnakan moral manusia. Dalam literatur lain disebutkan bahwa
pokok ajaran etik Stoa adalah bagaimana manusia hidup selaras dengan
keselarasan dunia. Sehingga menurut mereka kebajikan ialah akal budi yang
lurus, yaitu akal budi yang sesuai dengan akal budi dunia. Pada akhirnya akan
mencapai citra idaman seorang bijaksana; hidup sesuai dengan alam.
Ajarannya tidak jauh beda dengan
Epikuros yang terdiri dari tiga bagian, yaitu logika, fisika dan etik.
1. Logika.
Menurut kaum Stoa, logika maksudnya
memperoleh kriteria tentang kebenaran. Dalam hal ini, mereka memiliki kesamaan
dengan Epikuros. Apa yang dipikirkan tak lain dari yang telah diketahui
pemandangan. Buah pikiran benar, apabila pemandangan itu kena, yaitu memaksa
kita membenarkannya. Pemandangan yang benar ialah suatu pemandangan yang
menggambarkan barang yang dipandang dengan terang dan tajam. Sehingga orang
yang memandang itu terpaksa membanarkan dan menerima isinya.
Apabila
kita memandang sesuatu barang, gambarannya tinggal dalam otak kita sebagai
ingatan. Jumlah ingatan yang banyak menjadi pengalaman. Kaum Stoa bertentangan
pendapatnya dengan Plato dan Aristoteles. Bagi Plato dan Aristoteles pengertian
itu mempunyai realita, ada pada dasarnya. Ingat misalnya ajaran Plato tentang
idea. Pengertian umum, seperti perkumpulan, kampung, binatang dan lain
sebagainya adalah suatu realita, benar adanya. Sedangkan menurut kaum Stoa,
pengetian umum itu tidak ada realitanya, semuanya itu adalah cetakan pikiran
yang subjektif untuk mudah menggolongkan barang-barang yang nyata. Hanya
barang-barang yang kelihatan yang mempunyai realita, nyata adanya. Seperti
orang laki-laki, orang perempuan, kuda putih, kucing hitam adalah suatu
realita. Pendapat kaum Stoa ini disebut dalam filsafat pendapat nominalisme, sebagai
lawan dari realisme.
2. Fisika.
Fisika kaum Stoa tidak saja memberi
pelajaran tentang alam, tetapi juga meliputi teologi. Zeno sebagai pendiri
Stoa, menyamakan Tuhan dengan dasar pembangun. Dasar pembangun ialah api yang
membangun sebagai satu bagian daripada alam. Tuhan itu menyebar ke seluruh
dunia sebagai nyawa, seperti api yang membangun menurut sesuatu tujuan. Semua
yang ada tak lain dari api dunia itu atau Tuhan dalam berbagai macam bentuk.
Menurut mereka dunia ini akan kiamat dan
terjadi lagi berganti-ganti. Pada akhirnya Tuhan menarik semuanya kembali
padanya, oleh karena itu pada kebakaran dunia yang hebat, itu semuanya menjadi
api. Dari api Tuhan itu, terjadi kembali dunia baru yang sampai kepada
bagiannya yang sekecil-kecilnya serupa dengan dunia yang kiamat dahulu.
3. Etik.
Inti dari filsafat Stoa adalah etiknya.
Maksud etiknya itu ialah mencari dasar-dasar umum untuk bertindak dan hidup
yang tepat. Kemudian malaksanakan dasar-dasar itu dalam penghidupan.
Pelaksanaan tepat dari dasar-dasar itu ialah jalan untuk mengatasi segala
kesulitan dan memperoleh kesenangan dalam penghidupan. Kaum Stoa juga
berpendapat bahwa tujuan hidup yang tertinggi adalah memperoleh “harta yang
terbesar nilainya”, yaitu kesenangan hidup. Kemerdekaan moril seseorang adalah
dasar segala etik pada kaum Stoa.
C. Skeptis
Skeptis artinya ragu-ragu. Mereka
ragu-ragu untuk menerima ajaran-ajaran yang dari ahli-ahli filsafat sebelumnya.
Perlu diperhatikan bahwa skeptisisme sebagai suatu filsafat bukanlah sekedar
keragu-raguan, melaiankan sesuatu yang bsa disebut keraguan dogmatis. Seorang
ilmuwan mengatakan, “saya kira masalahnya begini dan begitu, tetapi saya tidak
yakin.” Seorang yang memiliki keingintahuan intelektual berujar, “saya tidak
tahu bagaimana masalahnya, tetapi saya akan berusaha mengetahuinya.” Seorang
penganut Skeptis filosofis mengatakan, “tak seorang pun yang mengetahui, dan
tak seorang pun yang akan bisa mengetahui.” Ini merupakan unsur dogmatisme yang
menyebabkan sistem tersebut lemah. Kaum Skeptis, tentu saja, membantah bahwa
mereka secara dogmatis menekankan mustahilnya pengetahuan, namun bantahan
mereka tidak meyakinkan.
Di masa Helen-Romawi ada dua sekolah
Skeptis. Kedua-duanya sama pendiriannya, keduanya ragu-ragu tentang ajaran kaum
klasik yang menyatakan bahwa kebenaran dapat diketahui. Tetapi dalam hal apa
yang dimaksud dengan sikap ragu-ragu itu, kedua sekolah itu berbeda pahamnya.
Sekolah yang satu disebut kaum skeptis aliran Pyrrhon dari Elis. Pyrrhon lahir
pada tahun 360 SM dan meninggal pada tahun 270 SM. Sekolah yang kedua disebut
Skeptis Akademia, karena aliran ini lahir dalam Akademia yang didirikan oleh
Plato. Aliran ini lahir kira-kira seumur orang sesudah Plato meninggal. Untuk
lebih lengkapnya, mari kita tinjau satu-persatu.
1. Skeptis Pyrrhon
Skeptisisme sebagai ajaran dari berbagai
madzhab, dikemukakan pertama kali oleh Pyrrhon, yang pernah menjadi seradu
dalam pasukan Alexandros, dan pernah bertugas bersama pasukan itu sampai ke
India. Sampai di India ia mempelajari mistik India. Tidak begitu mendalam,
tatapi cukup baginya untuk menentukan jalan pikirannya. Tatkala ia kembali ke
Elis, kota tempat ia lahir, didirikannya sekolah filsafat. Muridnya cukup
banyak. Ia sendiri tidak pernah menuliskan filsafatnya. Tatapi ajarannya itu
diketahui orang dari uraian-uraian para pengikutnya.
Menurut Pyrrhon, kebenaran tidak dapat
diduga. Kita harus sangsi terhadap sesuatu yang dikatakan orang benar. Apa yang
orang terima sebagai kebenaran, hanya berdasarkan kepada kebiasaan yang
diterima dari orang ke orang. Rupanya saja “benar”. Karena itu orang harus
sangsi terhadap hasil pikiran yang disebut benar. Pikiran itu sendiri saling
bertentangan. Hal ini cukup ternyata dalam pengalaman.
Dari dua ucapan yang bertentangan
tentang sesuatu, mestilah satu yang benar dan yang lainnya salah. Dan untuk
memutuskan mana yang benar dan mana yang salah dalam pertentangan pendapat yang
begitu banyak, perlulah ada suatu kriteria tentang kebenaran. Kriteria itulah
yang tidak ada. Oleh karena itu kebenaran tidak dapat diketahui. Maka dari itu,
menurut Pyrrhon, seorang cerdik pandai hendaklah menguasai diri jangan memberi
keputusan. Menjauhkan diri dari sikap memutus adalah jalanyang ditunjukkan
Pyrrhon untuk mencapai kesenangan hidup.
2. Skeptis Akademia
Meskipun sekolah ini didirikan oleh
Plato, tetapi generasinya tidak lagi mengusung ajaran-ajaran Plato. Para
pengikut Plato, terutama di bawah pengaruh Arkesilaos lebih mengutamakan ajaran
Plato yang bersifat negatif. Ajaran Arkesilaos berpangkal kepada ajaran Plato
yang mengatakan bahwa dunia yang kelihatan ini adalah gambaran saja dari yang
asli, bahwa pengetahuan yang didapat dari penglihatan dan pemandangan adalah
bayangan pengetahuan, bukan gambaran dari pengetahuan yang sebenarnya.
Pengetahuan yang sebenarnya tidak tercapai oleh manusia.
Arkesilaos
dan para pengikutnya tidak sejauh kaum sketis Pyrrhon menolak kemungkinan
mencapai kebenaran. Mereka terutama menolak dogma-dogma yang dikemukakan oleh
kaum Epikuros dan kaum Stoa, bahwa segala pengetahuan berdasarkan pemandangan.
Mereka tidak menolak sama sekali kemungkinan untuk mencapai pengetahuan. Norma
pengetahuan itu ialah “kemungkinan”.
Kaum
Skeptis aliran Arkesilaos berpendapat bahwa cita-cita orang bijaksana ialah
bebas dari berbuat salah. Kaum Epikuros dan Stoa mengatakan bahwa memperoleh
kebenaran yang sungguh-sungguh dengan membentuk dalam pikiran hasil pandangan.
Menurut Arkesilaos yang seperti itu tidak mungkin. Kriteria daripada kebenaran
tidak dapat diperoleh dari pikiran manusia. Sedangkan pikiran berdasarkan
kepada bayangan saja, barang-barang yang dipikirkan itu pada dasarnya tidak
dapat dikenal.
Ketika
Arkesilaos talah meninggal, ajaran itu dihidupkan lagi oleh Karneades. Ia
mengatakan bahwa kriteria bagi kebenaran tidak ada. Pemandangan-pemandangan tak
pernah dapat membedakan dengan shahih pandangan yang benar dan pandangan salah.
Tetapi sekalipun kebenaran yang sebenarnya tidak dapat diketahui dan pengetahuan
yang shahih tidak dapat dicapai, orang tak perlu bersikap menolak terus-menerus
dan menjauhkan diri dari mempertimbangkan sesuatunya. Sebagai pegangan dalam
hidup sehari-hari dikemukakan oleh Karneades tiga tingkat “kemungkinan.” Pertama,
pemandangan itu mungkin benar. Kedua, kemungkinan itu tidak dapat dibantah.
Ketiga, kemungkinan itu tidak dapat dibantah dan telah ditinjau dari segala
sudut.
PERIODE RELIGI
Pada masa etik, agama itu dianggap
sebagai sesuatu belenggu yang menanam rasa takut dalam hati manusia. Karena itu
agama dipandang sebagai suatu penghalang untuk memperoleh kesenangan hidup. Dan
tujuan filsafat menurut Epikuros dan Stoa harus merintis jalan ke arah mencapai
kesenangan hidup.
Didorong
oleh perasaan dan keadaan bangsa Yunani dan bangsa lainnya yang senantiasa
merasa tertekan di bawah kekuasaan kerajaan Roma, maka ajaran Etik tidak dapat
memberikan jalan keluar. Kemudian perasaan agamalah yang akhirnya muncul
sesudah beberapa abad terpendam dapat mengobati jiwa yang terluka. Mulai dari
sinilah pandangan filsafat berbelok arah, dari otak turun ke hati. Keinginan
untuk mengabdi kepada Tuhan hidup kembali. Perasaan menyerah kepada Tuhan Yang
Maha Kuasa memberikan kesenangan rohani. Perasaan bimbang hilang, cinta terikat
kepada Tuhan Yang Maha Tinggi.soal rasio tidal ada lagi, soal
irasionalisme-lah yang muncul kemudian. Dengan sendirinya, fakultas filsafat
berkembang ke jurusan mistik. Perasaan mistik tidak dapat dipupuk dengan
pikiran yang rasional, melainkan dengan jiwa yang murni. Pada periode ini, ada
tiga aliran yang berperan, yaitu aliran Neo-Pythagoras, aliran Philon, aliran
Plotinus atau Neo-Platonisme. Tetapi di sini kami hanya menjelaskan dua aliran
saja, yaitu Neo Pythagoras dan Philon, karena aliran Neo Platonisme akan
dijelaskan oleh pemakalah selanjutnya.
A.
Aliran Neo Pythagoras
Dinamakan Neo Pyithagoras karena ia
berpangkal pada ajaran Pyithagoras yang mendidik kebatinan dengan belajar
menyucikan roh. Yang mengajarkannya ialah mula-mula ialah Moderatus dan Gades,
yang hidup dalam abad pertama tahun masehi. Ajaran itu kemudian diteruskan oleh
Nicomachos dari Gerasa.
Untuk mendidik perasaan cinta dan
mengabdi kepada Tuhan, orang harus menghidupkan dalam perasaannya jarak yang
jauh antara Tuhan dan manusia. Makin besar jarak itu makin besar cinta kepada
Tuhan. Dalam mistik ini, tajam sekali dikemukakan perbedaan antara Tuhan dan
manusia, Tuhan dan barang. Bedanya Tuhan dan manusia digambarkan dalam mistik
neo Pythagoras sebagai perbedaan antara yang sebersih-bersihnya dengan yang
bernoda. Yang sebersih-bersihnya adalah Tuhan, yang bernoda ialah manusia.
Menurut mereka, Tuhan sendiri tidak
membuat bumi ini. sebab apabila Tuhan membuat bumi ini , berarti ia
mempergunakan barang yang bernoda sebagai bahannya. Dunia ini dibuat oleh pembantunya,
yaitu Demiourgos. Kaum ini percaya bahwa jiwa ini akan hidup selama-lamanya dan
pindah-pindah dari angkatan makhluk turun temurun. Kepercayaan inilah yang
menjadi pangkal ajaran mereka tentang inkarnasi.
B.
Philon Alexandreia
Alexandria terletak di Mesir. Di sana
bertemu antara filsafat Yunani yang bersifat intelektualis dan rasionalis, dan
pandangan agama kaum Yahudi yang banyak mengandung mistik. Pencetusnya adalah
Philon. Ia hidup dari 25 SM, sampai 45 M. ia mencapai umur 70 tahun. Ia adalah
seorang pendeta Yahudi, karenanya filsafat yang dipelajarinya terpengaruh oleh
pandangan agama.
Yang menjadi pokok pandangan filsafatnya
ialah hubungan manusia dengan Tuhan. Baginya Tuhan itu Maha Tinggi tempatnya.
Tuhan hanya dapat diketahui oleh kata-kata-Nya yang terdapat dalam kitab suci,
dari alam dan dari sejarah. Tuhan sendiri tidak dapat diketahui oleh manusia
dengan panca inderanya.
Karena
Tuhan itu begitu tinggi kedudukannya, perlulah ada perantara yang menghubungkan
Tuhan dengan alam. Makhluk terutama yang terdekat dengan Tuhan ialah “Logos”. Logos
itu ialah sumber dari segala cita-cita yang sebagai pikiran Tuhan. Logos juga
beredar dalam dunia yang nyata sebagai penjelmaan dari akal Tuhan. Kewajiban
manusia yang pertama, menurut mereka, ialah mengasuh jiwa mendekati Tuhan.
Kesenangan hidup sebesar-besarnya adalah mengabdi kepada Tuhan. Tujuan
tertinggi ialah bersatu dengan Tuhan.
FILSAFAT ABAD
PERTENGAHAN
Sejarah filsafat Abad Pertengahan dimulai kira-kira pada abad ke-5 sampai awal abad ke-17. Para sejarawan umumnya menentukan tahun 476, yakni masa berakhirnya Kerajaan Romawi Barat yang berpusat di kota Roma dan munculnya Kerajaan Romawi Timur yang kelak berpusat di Konstantinopel (sekarang Istambul), sebagai data awal zaman Abad Pertengahan dan tahun 1492 (penemuan benua Amerika oleh Columbus) sebagai data akhirnya.
Masa ini diawali
dengan lahirnya filsafat Eropa. Sebagaimana halnya dengan filsafat Yunani yang
dipengaruhi oleh kepercayaan, maka filsafat atau pemikiran pada Abad
Pertengahan pun dipengaruhi oleh kepercayaan Kristen. Artinya, pemikiran
filsafat Abad Pertengahan didominasi oleh agama. Pemecahan semua persoalan
selalu didasarkan atas dogma agama, sehingga corak pemikiran kefilsafatannya
bersifat teosentris.
Tuhan mencipta alam
semesta serta waktu dari keabadian, gagasan penciptaan tidak bertentangan
dengan alam abadi. Kitab suci mengajarkan bahwa alam semesta berawal mula,
tetapi filsafat tidak membuktikan hal itu, seperti halnya filsafat juga tidak
dapat membuktikan bahwa alam semesta tidak berawal mula.
Adapun istilah
Abad Pertengahan sendiri (yang baru muncul pada abad ke-17) sesungguhnya hanya
berfungsi membantu kita untuk memahami zaman ini sebagai zaman peralihan (masa
transisi) atau zaman tengah antara dua zaman penting sesudah dan sebelumnya,
yakni Zaman Kuno (Yunani dan Romawi) dan Zaman Modern yang diawali dengan masa
Renaissans pada abad ke-17.
Dengan demikian,
bentangan waktu seribu tahun sejarah filsafat Barat Kuno (Yunani dan Romawi)
yang sudah kita bahas dilanjutkan dengan masa seribu tahun sejarah filsafat
Abad Pertengahan yang akan kita bahas dalam makalah kami ini.
Periode abad pertengahan
mempunyai perbedaan yang mencolok dengan abad sebelumnya. Perbedaan ini
terletak pada dominasi agama. Timbulnya agama kristen pada permulaan abad
masehi membawa perubahan besar terhadap kepercayaan agama. Zaman pertengahan
adalah zaman keemasan bagi kekristenan.Disinalah yang menjadi persoalan nya,
karena agama kristen itu mengajarkan bahwa wahyu tuhanlah yang merupakan
kebenaran sejati. Hal ini berbeda dengan pandangan yunani kuno mengatakan bahwa
kebanaran dapat di capai oleh kemampuan akal.
B. Ciri Filsafat Abad
Pertengahan
Filsafat Abad
Pertengahan dicirikan dengan adanya hubungan erat antara agama Kristen dan
filsafat. Dilihat
secara menyeluruh, filsafat Abad Pertengahan memang merupakan filsafat
Kristiani. Para pemikir zaman ini hampir semuanyaklerus, yakni
golongan rohaniwan atau biarawan dalam Gereja Katolik (misalnya uskup, imam,
pimpinan biara, rahib), minat dan perhatian mereka tercurah pada ajaran agama
kristiani.
Akan tetapi, orang
akan sungguh-sungguh salah paham jika memandang filsafat Abad Pertengahan
semata-mata sebagai filsafat yang melulu berisi dogma atau anjuran resmi
Gereja. Sebab, sebagaimana nanti akan kita lihat, tema yang selalu muncul dalam
sejarah filsafat Abad Pertengahan adalah hubungan antara iman yang berdasarkan
wahyu Allah sebagaimana termaktub dalam kitab suci dan pengetahuan yang
berdasarkan kemampuan rasio manusia. Dan, dalam hal ini, tidak semua pemikir
abad pertengahan mempunyai jawaban yang akur.
Adanya beragai macam
aliran pemikiran yang mengkaji tema tersebut menunjukkan bahwa para pemikir
pada zaman itu ternyata bisa berargumentasi secara bebas dan mandiri sesuai
dengan keyakinannya. Kendati tidak jarang mereka, karena ajarannya, harus
berurusan dan bentrok dengan para pejabat gereja sebagai otoritas yang kokoh
dan terkadang angkuh pada masa itu. Oleh karena itu, kiranya dapat dikatakan
bahwa filsafat abad pertengahan adalah suatu filsafat agama dengan agama
kristiani sebagai basisnya.
Periode abad
pertengahan mempunyai perbedaan yang menyolok dengan abad sebelumnya. Perbedaan
itu terutama terletak pada dominasi agama. Timbulnya agama Kristen yang
diajarkan oleh nabi isa pada permualaan abad masehi membawa perubahan besar
terhadap kepercayaan keagamaan.
Agama Kristen menjadi
problema kefilsafatan karena mengajarkan bahwa wahyu Tuhanlah yang merupakan
kebenaran yang sejati. Hal ini berbeda dengan pendangan yunani kuno yang
mengatakan bahwa kebanaran dapat dicapai oleh kemampuan akal. Mereka belum
mengenal adanya wahyu.
Mengenai sikap terhadap pemikiran Yunani
ada dua:
1. Golongan yang menolak
sama sekali pemikiran Yunani, karena pemikiran Yunani merupakan pemikiran orang
kafir karena tidak mengakui wahyu.
2. Menerima filsafat
yunani yang mengatakan bahwa karena manusia itu ciptaan Tuhan maka
kebijaksanaan manusia berarti pula kebijaksanaan yang datangnya dari Tuhan.
Mungkin akal tidak dapat mencapai kebanaran yang sejati. Oleh karena itu, akal
dapat dibantu oleh wahyu.
1. Periode-periode pada
abad pertengahan
Sejarah filsafat abad
pertengahan dibagi menjadi dua zaman atau periode, yakni periode pratistik dan
periode skolastik .
a. Patristik (100-700)
Patristik berasal dari
kata Latin Patres yang berarti bapa-bapa greja, ialah ahli
agama kristen pada abad permulaan agama kristen.
Didunia barat agama
katolik mulai tersebar dengan ajaranya tentang tuhan, manusia dan etikanya.
Untuk mempertahankan dan menyebarkanya maka mereka menggunakan filsafat yunani
dan memperkembangkanya lebih lanjut, khususnya menganai soal soal tentang
kebebasan manusia, kepribadian, kesusilaan, sifat tuhan. Yang terkenal
Tertulianus (160-222), origenes (185-254), Agustinus (354-430), yang
sangat besar pengaruhnya (De Civitate Dei).
Pratistik berasal dari
kata latin prates yang berarti Bapa-Bapa Gereja, ialah ahli
agama Kristen pada abad permulaan agama Kristen. Zaman ini muncul pada abad
ke-2 sampai abad ke-7, dicirikan dengan usaha keras para Bapa Gereja untuk
mengartikulasikan, menata, dan memperkuat isi ajaran Kristen serta membelanya
dari serangan kaum kafir dan bid’ah kaum Gnosis. Bagi para Bapa Gereja, ajaran
Kristen adalah filsafat yang sejati dan wahyu sekaligus. Sikap para Bapa Gereja
terhadap filsafat yunani berkisar antara sikap menerima dan sikap penolakan.
Penganiayaan keji atas umat Kristen dan karangan-karangan yang menyerang ajaran
Kristen membuat para bapa gereja awal memberikan reaksi pembelaan (apologia)
atas iman Kristen dengan mempelajari serta menggunakan paham-paham filosofis.
Akibatnya, dalam
perjalanan waktu, terjadilah reaksi timbal balik, kristenisasi helenisme dan
helenisasi kristianisme. Maksudnya, untuk menjelaskan dan membela ajaran iman
Kristen, para Bapa Gereja memakai filsafat Yunani sebagai sarana (helenisme”di
kristenkan”). Namun, dengan demikian, unsur-unsur pemikran kebudayaan
helenisme, terutama filsafat Yunani, bisa masuk dan berperan dalam bidang
ajaran iman Kristen dan ikut membentuknya (ajaran Kristen “di Yunanikan” lewat
gaya dan pola argumentasi filsafat yunani). Misalnya, Yustinus Martir melihat
“Nabi dan Martir” kristus dalam diri sokrates. Sebaliknya, bagi Tertulianus
(160-222), tidak ada hubungan antaraAthena (simbol filsafat) dan Yerussalem
(simbol teologi ajaran kristiani). Bagi Origenes (185-253) wahyu ilahi adalah
akhir dari filsafat manusiawi yang bisa salah. Menurutnya orang hanya boleh
mempercayai sesuatu sebagai kebenaran bila hal itu tidak menyimpang dari
trasdisi gereja dan ajaran para rasul. Pada abad ke-5, Augustinus (354-430)
tampil. Ajarannya yang kuat dipengaruhi neo-platonisme merupakan sumber
inspirasi bagi para pemikir abad pertengahan sesudah dirinya selama sekitar 800
tahun.
Zaman Patristik ini
mengalami dua tahap:
1. Permulaan agama
Kristen. Setelah mengalami berbagai kesukaran terutama mengenai filsafat Yunani
maka agama Kristen memantapkan diri. Keluar memperkuat gereja dan ke dalam menetapkan
dogma-dogma.
2. Filsafat Augustinus
yang merupakan seorang ahli filsafat yang terkenal pada masa patristik.
Augustinus melihat dogma-dogma sebagai suatu keseluruhan.
Setelah berakhirnya
zaman sejarah filsafat Barat Kuno dengan ditutupnyaAkademia Plato
pada tahun 529 oleh Kaisar Justinianus, karangan-karangan peninggalan para Bapa
Gereja berhasil disimpan dan diwariskan di biara-biara yang , pada zaman itu
dan berates-ratus tahun sesudahnya, praktis menjadi pusat-pusat intelektual
berkat kemahiran para biarawan dalam membaca, menulis, dan menyalinnya ke dalam
bahasa Latin-Yunani serta tersedianya fasilitas perpustakaan.
b. Skolastik 800-1500
Zaman Skolastik
dimulai sejak abad ke-9. Kalau tokoh masa Patristik adalah pribadi-pribadi yang
lewat tulisannya memberikan bentuk pada pemikiran filsafat dan teologi pada
zamannya, para tokoh zaman Skolastik adalah para pelajar dari lingkungan
sekolah-kerajaan dan sekolah-katedral yang didirikan oleh Raja Karel Agung
(742-814) dan kelak juga dari lingkungan universitas dan ordo-ordo biarawan.
Dengan demikian, kata
“skolastik” menunjuk kepada suatu periode di Abad Pertengahan ketika banyak
sekolah didirikan dan banyak pengajar ulung bermunculan. Namun, dalam arti yang
lebih khusus, kata “skolastik” menunjuk kepada suatu metode tertentu, yakni
“metode skolastik”.
Dengan metode ini,
berbagai masalah dan pertanyaan diuji secara tajam dan rasional,
ditentukan pro-contra-nya untuk kemudian ditemukan pemecahannya.
Tuntutan kemasukakalan dan pengkajian yang teliti dan kritis atas pengetahuan
yang diwariskan merupakan ciri filsafat Skolastik.
Sesudah agustinus:
keruntuhan. Satu-satunya pemukir yang tampil kemuka ialah: Skotus Erigena
(810-877). Kemudian: Skolastik, disebut demikian karena filsafat diajarkan pada
universitas-universitas (sekolah) pada waktu itu. Persoalan-persoalan:
tentang pengertian-pengertian umum (pengaruh plato). Filsafat mengabdi
pada theologi. Yang terkenal: Anselmus (1033-1100), Abaelardus
(1079-1142). Periode ini terbagi menjadi tiga tahap:
1. Periode Skolstik awal
(800-120)
Ditandai dengan
pembentukan metode yang lahir karena hubungan yang rapat antara agama dan
filsafat. Ditandai oleh pembentukan metode yang lahir karena hubungan yang
rapat antara agama dan filsafat. Yang tampak pada permulaan ialah persoalan
tentang universalia. Ajaran Agustinus dan neo-Platonisme mempunyai pengaruh
yang luas dan kuat dalam berbagai aliran pemikiran.
Pada periode ini,
diupayakan misalnya, pembuktian adanya Tuhan berdasarkan rasio murni, jadi
tanpa berdasarkan Kitab Suci (Anselmus dan Canterbury). Selanjutnya, logika
Aristoteles diterapkan pada semua bidang pengkajian ilmu pengetahuan dan “metode
skolastik” dengan pro-contra mulai berkembang (Petrus
Abaelardus pada abad ke-11 atau ke-12). Problem yang hangat didiskusikan pada
masa ini adalah masalah universalia dengan konfrontasi antara “Realisme”
dan “Nominalisme” sebagai latar belakang problematisnya. Selain itu, dalam abad
ke-12, ada pemikiran teoretis mengenai filsafat alam, sejarah dan bahasa,
pengalaman mistik atas kebenaran religious pun mendapat tempat.
Pengaruh alam
pemikiran dari Arab mempunyai peranan penting bagi perkembangan filsafat
selanjutnya. Pada tahun 800-1200, kebudayaan Islam berhasil memelihara warisan
karya-karya para filsuf dan ilmuwan zaman Yunani Kuno. Kaum intelektual dan
kalangan kerajaan Islam menerjemahkan karya-karya itu dari bahasa Yunani ke
dalam bahasa Arab. Maka, pada para pengikut Islam mendatangi Eropa (melalui
Spanyol dan pulau Sisilia) terjemahan karya-karya filsuf Yunani itu, terutama
karya-karya Aristoteles sampai ke dunia Barat. Dan salah seorang pemikir Islam
adalah Muhammad Ibn Rushd (1126-1198). Namun jauh sebelum Ibn Rushd, seorang
filsuf Islam bernama Ibn Sina (980-1037) berusaha membuat suatu sintesis antara
aliran neo-Platonisme dan Aristotelianisme.
Dengan demikian, pada
gilirannya nanti terbukalah kesempatan bagi para pemikir kristiani Abad Pertengahan
untuk mempelajari filsafat Yunani secara lebih lengkap dan lebih menyeluruh
daripada sebelumnya. Hal ini semakin didukung dengan adanya biara-biara
yang antara lain memeng berfungsi menerjemahkan, menyalin, dan memelihara karya
sastra.
2. Periode puncak
perkembangan skolastik (abad ke-13)
Periode puncak
perkembangan skolastik : dipengaruhi oleh Aristoteles akibat kedatangan ahli
filsafat Arab dan yahudi.[13] Filsafat
Aristoteles memberikan warna dominan pada alam pemikiran Abad Pertengahan.
Aristoteles diakui sebagai Sang Filsuf, gaya pemikiran Yunani semakin diterima,
keluasan cakrawala berpikir semakin ditantang lewat perselisihan dengan
filsafat Arab dan Yahudi. Universitas-universitas pertama didirikan di Bologna
(1158), Paris (1170), Oxford (1200), dan masih banyak lagi universitas yang
mengikutinya. Pada abad ke-13, dihasilkan suatu sintesis besar dari khazanah
pemikiran kristiani dan filsafat Yunani. Tokoh-tokohnya adalah Yohanes Fidanza
(1221-1257), Albertus Magnus (1206-1280), dan Thomas Aquinas (1225-1274). Hasil
sintesis besar ini dinamakan summa (keseluruhan).
3. Periode Skolastik
lanjut atau akhir (abad ke-14-15)
Periode skolastik
Akhir abad ke 14-15 ditandai dengan pemikiran islam yang berkembang kearah
nominalisme ialah aliran yang berpendapat bahwa universalisme tidak memberi
petunjuk tentang aspek yang sama dan yang umum mengenai adanya sesuatu
hal. Kepercayaan orang pada kemampuan rasio member jawaban atas
masalah-masalah iman mulai berkurang. Ada semacam keyakinan bahwa iman dan
pengetahuan tidak dapat disatukan. Rasio tidak dapat mempertanggungjawabkan
ajaran Gereja, hanya iman yang dapat menerimanya.
Salah seorang yang
berfikir kritis pada periode ini adalah Wiliam dari Ockham (1285-1349). Anggota
ordo Fransiskan ini mempertajam dan menghangatkan kembali persoalan mengenai
nominalisme yang dulu pernah didiskusikan. Selanjutnya, pada akhir periode ini,
muncul seorang pemikir dari daerah yang sekarang masuk wilayah Jerman, Nicolaus
Cusanus (1401-1464). Ia menampilkan “pengetahuan mengenai ketidaktahuan” ala Sokrates
dalam pemikiran kritisnya:”Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dapat ku ketahui
bukanlah Tuhan”. Pemikir yang memiliki minat besar pada kebudayaan
Yunani-Romawi Kuno ini adalah orang yang mengatur kita memasuki zaman baru,
yakni zaman Modern, yakni zaman Modern yang diawali oleh zaman Renaissans,
zaman “kelahiran kembali” kebudayaan Yunani-Romawi di Eropa mulai abad ke-16.
Baru sesudah tahun
1200 filsafat berkembang kembali berkat pengaruh filsafat araab yang diteruskan
ke Eropa.
c. Fisafat arab
Berkat pengaruh
Helenisme (iskandar), filsafat yunani hidup terusdi Siria, diperkembangkan
lebih lanjut oleh filusuf-filusuf Arab, kemudian diteruskan ke Eropa
melalui sepanyol.
a) Alkindi (800-870)
satu-satunya orang arab asli. Corak filsafatnya ialahpemikiran kembali dari
ciptaan Yunani (menterjemahkan 260 buku Yunani) dalam bentuk bebas dengan
refleksinya dengan iman islam
b) Alfarabi (872-950),
filusuf muslim dalam pangkal filsafatnya dari Plotinus.
c) Al-Ghazali (1059-1111)
filusuf besar islam yang mengarang Ihya Ulumuddin, di Spanyol
d) Ibnu sina
(avicena)(980-1037) yang besar pengaruhnya terhadap filsafat barat, sejak usia
10 tahun sudah hafal Al-Qur’an.
e) Ibnu Bajjah (1138),
penafsiran karya fisik dan metafisik Aristoteles.
f) Ibnu Rushd (Averros)
(1126-1198) yang disebut jiga penafsir Arostoteles dan yang sangat berpengaruh
terhadap aliran-aliran di Eropa, jiga seorang filusuf besar Muslim.
g) Avencebrol (ibnu
Gebol) (1020-1070)
h) Main monides (moses
bin maimon) (1135-1204)
d. Zaman Keemasan
Perkembangan baru
karena adanya universitas-universitas (paris), karangan karangan Aristoteles
mulai dikenal umum melalui filusuf-filusuf arab dan Yunani.
a) Pengikut-pengikut
Agustinus : sigerbonafenturant
b) Pengikut-pengikut ibn
Rushd: Siger dari Barabant (1235-1281).
c) Pengikut-pengikut
Aristoteles : Albertus Magnus (1206-1280), dan muridnya; Thomas Aquinas
(1225-1274), yang berhasil menemukan sintesis antara Aristoteles—Plato—
Agustinus dan skolastik.
Perbedaan agama dan
filsafat dan sintesisnya, pemecahan soal-soal besar tentang pengetahuan,
tentang “ada” dan dasarnya tentang etika. Pengaruhnya sampai sekarang masih
sangat kuat.
Disamping
aliran-aliran ini terdapat juga ;
1) Aliran Neo-platonis:
Roger Bacon (1210-1292).
2) Aliran empirisme
(pengaruh Aristoteles), yang membela kaidah ilmu pasti dalam ilmu pengetahuan
dan penyelidikan berdasarkan eksperimen-eksperimen.
3) Duns-Scotus
(1270-1308) pembahasan yang tajam, perimtis jalan bagi filsafat abad ke XIV,
positivitas (hanya apa yang kongkrit yang dapat dilihat dan yang dapat diraba
dan dapat dimengerti) dan voluntaristis (lebih mementingkan kehendak dari pada
pikiran)
4) W. Ockham (1550) yang
meneruskan ajaran Scotus: tentang pengetahuan: konseptualitas (lihat logika:
pengertian-pengertian umum tidak “benar” sesuai dengan kenyataan)
e. Zaman Peralihan:
1400-1550
Renaissence,
perkambangan humanisme, pertentangan besar antara tradisi dan kemajuan.
Perkembangan baru dari sistem-sistem lama (Plato—Aristoteles, Stoa) dan usaha
mencari sintesis sintesis baru. Persoalan yang terbesar ialah hubungan antara
ilmu pengetahuan dan Agama.
PENUTUP
C. Kesimpulan
Zaman pertengahan
ialah zaman dimana Filsafat Abad Pertengahan dicirikan dengan adanya
hubungan erat antara agama Kristen dan filsafat. Dilihat secara menyeluruh,
filsafat Abad Pertengahan memang merupakan filsafat Kristiani. Para pemikir
zaman ini hampir semuanya klerus, yakni golongan rohaniwan
atau biarawan dalam Gereja Katolik (misalnya uskup, imam, pimpinan biara,
rahib), minat dan perhatian mereka tercurah pada ajaran agama kristiani.
Sejarah filsafat abad
pertengahan dibagi menjadi dua zaman atau periode, yakni periode pratistik dan
periode skolastik .
DAFTAR PUSTAKA
Mustansyir, Rizal.
(2009). Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Belajar Offset
Salam, Burhanuddin.
(1995). Pengantar Filsafat. Jakarta: Bumi Aksara
Surajiyo.
(2005). Ilmu filsafat suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara
Muzairi. (2009). Filsafat
Umum. Yogyakarta: Teras
Petrus, Simon.
(2004). Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius
Tafsir, Ahmad.
(2010). Filsafat Umum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Suriasumantri, jujun S. (2009). Filsafat Ilmu
sebuah pengantar populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Mohammad Hatta, Alam
Pikiran Yunani, Jakarta: Tintamas, 1986, cet. 3.
Drs. Atang Abdul
Hakim, M.A. & DRs. Beni Ahmad Saebani, M.Si. FILSAFAT UMUM “Dari Metologi
Sampai Teofilosofi”, Bandung: Pustaka Setia, 2008, cet. 1.




