M A K A L A H
ADMINISTRASI PENDIDIKAN
Dosen Pembimbing : Laila Badriyah, M.Pd.I
KELOMPOK 4 : MANAJEMEN PENDIDIKAN
M. Mulki Sulaiman K 201305010133
M. Hendra 201305010134
Diah Lutfiana 201305010132
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS SUNAN GIRI SURABAYA
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Salah satu fungsi pendidikan
adalah sebagai proses pembentuk pribadi manusia. Semakin tinggi tingkat
pendidikan yang dicapai maka kualitas kepribadian manusia akan meningkat
seiring dengan meningkatnya tantangan hidup yang selalu berubah. Oleh sebab
itu, pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam kehidupan. Dengan
pendidikan, seseorang akan memiliki wawasan dan pengetahuan yang akan membantu
memperkokoh terbentuknya kualitas sikap dan nilai-nilai yang ada dalam dirinya,
yakni sebuah kepribadian atau karakter diri yang baik serta sesuai dengan nilai
dan norma yang ada.
Pasal 3
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
menyebutkan:
“Fungsi dari
pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, serta bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggungjawab
Menagemen
pendidikan adalah suatu kegiatan atau rangkaian kegiatan yang berupa proses
pengolahan usaha kerjasama sekelompok manusia yang tergabung dalam organisasi
pendidikan yang dilakukan dengan usaha bersama secara efektif dan efisien,
untuk mendaya gunakan semua sumber dan potensi yang ada demi tercapainya tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan
sebelumnya.
Dengan
managemen yang baik tentulah segala rencana dan kegiatanakan mencapai hasil
yang maksimal, begitupun sebaliknya. Oleh karena itu perlu mengkaji pengertian,
tujuan, pendekatan managemen, proses managemen, perkembangan pemikiran
managemen dalam menagemen pendidikan
supaya dalam menjalankan suatu system pendidikan dapat mencapai tujuan yang
telah di tepapkan.
B.
Rumusan Masalah
Agar lebih terarah dalam penulisan Makalah ini, maka
permasalahan-permasalahan dalam makalah
ini dapat kami rumuskan sebagai berikut :
1.
Apa yang dimaksud
dengan pengertian managemen ?
2.
Bagaimana
tujuan pendekatan managemen pendidikan ?
3.
Jenis Jenis
pendekatan managemen pendidikan ?
4.
Bagaimana
proses managemen pendidikan ?
C.
Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, penelitian ini dilakukan dengan
tujuan sebagai berikut :
1.
Untuk
Mengetahui pengertian managemen ?
2.
Untuk
Mengetahui tujuan dan pendekatan managemen pendidikan ?
3.
Untuk
Mengetahui Jenis Jenis pendekatan
managemen pendidikan ?
4.
Untuk
Mengetahui proses managemen pendidikan ?
BAB I
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Managemen pendidikan
Managemen pendidikan dalam kamus bahasa Belanda-Indonesia disebut
bahwa Istilah Managemen berasal dari “Administratie” yang berarti tata usaha,
Managemen berasal dari bahasa Inggris “ Administration” sebagai “ The
management of executive affairs” ( Encyclopedia American, 1978, p. 171 ), dalam
hal ini managemen bukan hanya pengaturan yang terkait dengan pekerjaan
tulis-menulis, tetapi pengaturan dalam arti luas.
Managemen sering diartikan sebagai ilmu, Kiat dan Profesi. Luther
gulick mengatakan managemen sebagai ilmu
karena Managemen merupakan suatu bidang ilmu pengetahuan yang secara sistematik
berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerja sama. Follet berpendapat
managemen sebagai kiat karena managemen mencapai sasaran melalui cara cara
dengan mengatur orang lain menjalankan dalam tugas. Managemen dipandang sebagai
Profesi karena managemen dilandasi keahlian khususuntuk mencapai suatu manager,
dan para professional dituntun oleh suatu kode etik.
Adapun pengertian Managemen menurut beberapaAhli :
1.
Hasibuan ( 1995
), managemen sebagai ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumberdaya
manusia dan sumber sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai
suatu tujuan tertentu.
2.
Gordon ( 1976 )
dalam Bafadal ( 2004: 49 ) menyatakan bahwa managemen merupakan metode yang
digunakan administrator untuk melakukan tugas tugas tertentu atau mencapai
tujuan tertentu.
3.
Wiliam H Newman
mengatakan Managemen adalah fungsi yang berhubungan dengan memperoleh hasil
tertentu melalui orang lain.
4.
Henry Fayol,
Managemen mengandung gagasan lima fungsi utama, yaitu Merancang mengorganisasi,
memerintah, mengoordinasi dan mengendalikan.
5.
Dalam Kurikulum
1975 yang disebutkan dalam buku pedoman pelaksanaan kurikulum IIID, baik untuk
SD, SMP, SMA, Management ialah Segala usaha bersama untuk mendayagunakan semua
sumber sumber ( Personel maupun materiil) secara efektif dan efidien guna
menunjang tercapainya tujuan pendidikan.
Jadi Managemen pendidikan adalah Rangkaian segala kegiatan
yang menunjuk kepada usaha kerja sama ssekelompok manusia yang tergabung dalam
organisasi pendidikan, untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan
sebelumnya, agar efektif dan efisien.
B.
Tujuan Dan
pendekatan Managemen Pendidikan
1.
Tujuan
Managemen pendidikan
1.1.
Terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran yang aktif, kreatif,
efektif menyenangkan dan bermakna.
1.2.Terciptanya
peserta didik yang aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritualkeagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakan, bangsa, dan Negara.
1.3.
Tertunjangnya kopetensi manajerial tenaga kependidikan sebagai manajer
1.4.
Tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien
1.5.
Tertunjangnya profesi sebagai manajer atau konsultan managemen pendidikan
1.6.Teratasinya
masalah mutu pendidikan, karena 80 % masalah mutu disebabkan oleh managemennya.
1.7.Terciptanya
perencanaan pendidikanyang merata, bermutu, Relevan, dan akuntabel
1.8.Meningkatkan
citra positif pendidikan.
C.
Jenis
Jenis Pendekatan dalam Manajemen Pendidikan
1. Manajemen adalah Kerjasama Orang – Orang
Untuk mencapai tujuan sekolah/organisasi yang telah dirumuskan yang
membutuhkan berbagai keahlian dalam berbagai bidang pendidikan, secara internal
sebuah sekolah yang ingin berkualitas membutuhkan orang-orang yang memiliki
keahlian seperti kepala sekolah sebagai manajer dengan keahliannya sebagai
pemimpin, sedangkan para guru yang memiliki keahlian menejemen kelas yang baik,
tenaga bimbingan dan konseling, ketatausahaan yang memiliki keterampilan dalam
sistem manajemen informasi dan administrasi, guna berbagai kebutuhan data
berkenaan kegiatan sekolah dan yang tidak kalah pentingnnya untuk mengambil
keputusan manajer. Perpustakaan membutuhkan pustakawan yang dapat mengelola
perpustakaan secara efektif dan memberikan kreatifitas untuk menghidupkan
suasana perpustakaan agar banyak dikunjungi siswa dan anggota sekolah lainnya.
Petugas laboratorium yang harus bisa mengelola penggunaan waktu, memelihara
serta memanfaatkan alat dengan berdayaguna. Dalam lingkungan eksternal
sekolah yang berhubungan dengan dunia pendidikan, dan orang tua adalah
sebagain stack holder yang mempercayakan putra-putrinya kepada
sekolah.
Sekolah berhubungan dengan pengawas selaku pembina sekolah, kasubdin Dinas
Pendidikan kota/kabupaten dengan berbagai stafnya, Kepala Dinas Provinsi,
sampai kepada menteri pendidikan dengan berbagai bagiannya dan berbagai
urusannya. Dengan demikian manajemen melibatkan banyak orang untuk mencapai
tujuan yang telah dirumuskannya. Orang-orang dari tingkat menteri sampai
ketingkat sekolah (kepala sekolah, guru, dan yang lainnya)harus memiliki
persepsi yang sama dalam melaksanakan kegiatannya, yaitu mencapai tujuan yang
telah disepakati secara efektif dan efisien dengan mutu yang terjamin.
2. Manajemen adalah Suatu Proses
Seperti halnya sebuah pendidikan, manajemen adalah suatu proses, pendekatan
ini menekankan perilaku sebagaimana fungsi manajemen itu sendiri yaitu proses
planning, organizing, staffing, directing, coordinating, reporting, dan
budgeting.
3. Manajemen sebagai Sebuah Siste
Sebagai sebuah sistem adalah suatu keseluruhan yang terdiri atas
bagian-bagian yang saling berinteraksi dalam suatu proses untuk mengubah
masukan menjadi keluaran. Sistem disini yakni input-proses-ouput-outcome.
4. Manajemen sebagai Pengelolaan
Jika kita melihat manajemen sebagai pengelolaan akan terlihat adanya
pengaturan atau pengelolaan sumberdaya yang dimiliki dalam sekolah atau
sumberdaya yang harus ada untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Sumberdaya tersebut harus dimanfaatkan seefisien dan seefektif mungkin.
5. Kepemimpinan dalam Manajemen Pendidikan
a.
Definisi Kepemimpinan
Menurut Wirawan seperti yang dikutip oleh (Syaiful Sagala, 2006:143),
kepemimpinan berasal dari kata “pemimipin”. Pemimpin ialah: orang yang dikenal oleh pengikutnya dan berusaha mempengaruhi para pengikutnya untuk meraih
tujuan visinya. Sementara itu, menurut Fred E. Fiedler dalam buku (M.Ngalim
Purwanto,2008:27) mengungkapkan bahwa: pemimpin adalah individu dalam suatu
kelompok yang memberikan tugas pengarahan dan pengoordinasian yang relevan
dengan kegiatan-kegiatan kelompok. Lebih lanjut Syiful Sagala menyatakan,
pemimpin yang efektif adalah: pemimpin yang anggotanya dapat merasakan bahwa
kebutuhan mereka terpenuhi, baik kebutuhan bekerja, motivasi, rekreasi,
kebutuhan sandang, pangan, tempat tinggal maupun kebutuhan lainnya. Sementara
itu, kepemimpinan ialah: sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat
kepribadian, termasuk didalamya kewibawaan untuk dijadikan saran dalam rangka
meyakinkan yang diyakininya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas yang
diberikan dengan penuh semangat serta merasa tidak terpaksa (M.Ngalim Purwanto
2008:26).
b.
Sifat-sifat kepemimpinan
Menurut abdurrahaman, ada lima
sifat pokok kepemimpinan secara umum yaitu:
·
Adil
·
Penuh inisiatif
·
Penuh daya tarik
·
Penuh percaya diri
Disamping itu, ada
beberapa sifat yang dibutuhkan dalam kepemimpinan dalam hal pendidikan.
Diantaranya ialah:
a)
Rendah hati dan sederhana
Seorang pemimpin dalam lembaga pendidikan, hendaknya jangan mempunyai sifat
sombong tapi yang diperlukan adalah banyak bertanya dan mendengarkan dari pada
berkata dan menyuruh. Dan kelebihan yang dimiliki pemimpin hendaknya
dipergunakan untuk membantu anggotanya atau bawahannya sehingga dengan demikian
mereka akan merasa bahwa pemimpinnya selalu dekat dengan mereka dan bisa
membantu jika mereka butuh bantuan.
b)
Bersifat suka menolong
Seorang pemimpin hendaknya selalu bersedia (menyediakan waktu) untuk
mendengarkan kesulitan-kesulitan yang disampaikan anggotanya. Gunanya adalah
untuk mempertebal kepercayaan anggotanya bahwa ia benar-benar tempat berlidung
dan pembimbing mereka.
c)
Sabar dan memiliki
kestabilan emosi
Seorang pemimipin harus memiliki sifat sabar, jangan lekas merasa kecewa
dan memperlihatkan kekecewaannya dihadapan bawahanya, karena akan sangat
mempengaruhi kinerja anggotnya tersebut.
d)
Pecaya pada diri sendiri
Pemimpin yang percaya diri dan dapat mengimplikasikannya dalam sikap dan
tingkah lakunya maka akan menimbulkan pula sifat percaya diri pada anggotanya.
e)
Jujur, adil dan dapat
dipercaya
f)
Keahlian dalam jabatan
Keahlian dalam jabatan
merupakan, syarat utama dalam kepemimpinan tanpa keahlian seseorang tidak bisa
menjadi pemimpin. Selain keahlian dalam jabatan, pengalaman dan penguasaan
semua macam, pengetahuan yang diperlukan untuk memperoleh dan menambah
kecakapan menjadi pemimpin.
c.
Tipe atau gaya
kepemimpinan
a)
Kepemimpinan yang
otokratis
Dalam kepemimpinan yang
otokratis, pemimpin bertindak sebagai diktator terhadap anggotanya. Baginya
memimpin adalah menggerakan dan memaksa kelompok. Selain itu, dalam tindakan
dan perbuatanya ia tidak dapat diganggu gugat. Kekuasaan yang berlebihan
seperti ini dapat menimbulkan sikap menyerah tanpa kritik, pada anggotanya, serta
menimbulkan sikap “asal bapak senang” terhadap pemimpin dan kecenderungan untuk
mengabaikan perintah dan tugas jika tidak ada pengawasan langsung.
b)
Kepemimpinan yang laissez
faire
Tipe yang seperti ini
diartikan sebagai: membiarkan orang-orang berbuat sekehendaknya. Pemimpin yang
seperti ini sama sekali tidak mengontrol dan tidak memberikan koreksi terhadap
pekerjaan anggotanya. Pembagian tugas dan kerjasama diserahkan pada anggotanya
tanpa pengaruh atau saran dari pemimpin. Dalam tipe kepemimpinan ini, biasanya
struktur organisasinya tidak jelas dan kabur. Segala kegiatan dilakukan tanpa
rencana dan tanpa pengawasan dari pemimpin.
Tingkat keberhasilan organisasi atau lembaga yang dipimpin dengan gaya laissez faire ini, semata-mata disebabkan kesadaran dan dedikasi beberapa anggota kelompok dan bukan karena pengaruh dari pemimpinya.
Tingkat keberhasilan organisasi atau lembaga yang dipimpin dengan gaya laissez faire ini, semata-mata disebabkan kesadaran dan dedikasi beberapa anggota kelompok dan bukan karena pengaruh dari pemimpinya.
c)
Kepemimpinan yang
demokratis
Pemimpin yang demokratis
menafsirkan kepemimpinannya bukan sebagai diktator. Melainkan sebagai pemimpin
ditengah anggotanya. Hubungan dengan anggota kelompok bukan seperti buruh dan
majikan. Tetapi, melainkan sebagai saudara tua ditengah-tengah anggotanya.
Pemimpin yang demokratis berusaha menstimulasi anggotanya agar secara
kooperatif untuk mencapai visi dan misi lembaganya. Dalam melaksanakan tugas,
ia mau menerima dan bahkan mengharapkan pendapat dan saran-saran dari
kelompoknya, juga kritikan-kritikan yang membangun. Selain itu ia juga
mempunyai kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri dan menaruh kepercayaan
pula pada anggota-anggotanya.
6. Komunikasi dalam Manajemen Pendidikan
Reca (2010: 2)
menungkapkan komunikasi memiliki hubungan yang erat sekali dengan kepemimpinan,
bahkan dapat dikatakan bahwa tiada kepemimpinan tanpa komunikasi. Apalagi
diantara syarat seorang pemimpin selain ia harus berilmu, berwawasan kedepan,
ikhlas, tekun, berani, jujur, sehat jasmani dan rohani, ia juga harus memiliki
kemampuan berkomunikasi. Sementara itu, manajemen adalah proses perencanaan,
pengorganisasisan, pengarahan dan pengawasan dengan memberdayakan anggota organisasi
dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi
yang telah ditetapkan. Manajemen dibutuhkan oleh semua organisasi, karena tanpa
manajemen, semua usaha akan sia-sia dan pencapaian tujuan akan lebih sulit
diwujudkan.
Komunikasi dalam
organisasi adalah komunikasi di suatu organisasi yang dilakukan pimpinan, baik
dengan para karyawan maupun dengan khalayak yang ada kaitannya dengan
organisasi, dalam rangka pembinaan kerja sama yang serasi untuk mencapai tujuan
dan sasaran organisasi. Proses komunikasi memungkinkan manajer untuk
melaksanakan tugas-tugas mereka. Informasi harus dikomunikasikan kepada stafnya
agar mereka mempunyai dasar perencanaan, agar rencana-rencana itu dapat
dilaksanakan. Pengorganisasian memerlukan komunikasi dengan bawahan
tentang penugasan mereka. Pengarahan mengharuskan manejer untuk berkomunikasi
dengan bawahannya agar tujuan kelompok dapat tercapai. Oleh karena itu, seorang
manajer akan dapat melaksanakan fungsi-fungsi manajemen melalui interaksi dan
komunikasi dengan pihak lain. Jadi komunikasi dalam menajemen itu sangat
diperlukan karena dengan adanya komunikasi maka segala sesuatu dapat tercipta
dan terlaksana.
D.
proses
managemen pendidikan
a.
Perencanaan
Perencanaan seyogyanya melibatkan seluruh komponen organisasi yang terkait dan melibatkan stake holder (legislatif, kalangan dunia usaha/industri, Dewan Pendidikan) duduk bersama dalam meja bundar guna merumuskan permasalahan yang dihadapi, menetapkan tujuan dan sasaran (komitmen) dan rencana pelaksanaan termasuk didalamnya adalah perencanaan penganggaran (konsensus). Konsensus yang telah ditetapkan harus dipublikasikan secara terbuka. Konsensus tersebut berupa dokumen perencanaan pendidikan daerah yang merupakan Dokumen Rencana Induk Pengembangan Pendidikan Kabupaten.
Perencanaan seyogyanya melibatkan seluruh komponen organisasi yang terkait dan melibatkan stake holder (legislatif, kalangan dunia usaha/industri, Dewan Pendidikan) duduk bersama dalam meja bundar guna merumuskan permasalahan yang dihadapi, menetapkan tujuan dan sasaran (komitmen) dan rencana pelaksanaan termasuk didalamnya adalah perencanaan penganggaran (konsensus). Konsensus yang telah ditetapkan harus dipublikasikan secara terbuka. Konsensus tersebut berupa dokumen perencanaan pendidikan daerah yang merupakan Dokumen Rencana Induk Pengembangan Pendidikan Kabupaten.
b.
Pengorganisasian
Peran kepemimpinan (leadership) seorang administrator/manajer sangat penting dalam rangka menjalankan perencanaan. Dalam fungsi Pengorganisasian, pemimpin organisasi menentukan siapa melakukan apa (who does what) sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.
Peran kepemimpinan (leadership) seorang administrator/manajer sangat penting dalam rangka menjalankan perencanaan. Dalam fungsi Pengorganisasian, pemimpin organisasi menentukan siapa melakukan apa (who does what) sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.
c.
PenggerakanPelaksanaan
Peran administrator menjadi kunci keberhasilan terhadap implementasi perencanaan pendidikan. Administrator melakukan koordinasi dan pengarahan terhadap seluruh bagian atau sektor yang terlibat dalam upaya percepatan penuntasan Wajar 9 Tahun.
Peran administrator menjadi kunci keberhasilan terhadap implementasi perencanaan pendidikan. Administrator melakukan koordinasi dan pengarahan terhadap seluruh bagian atau sektor yang terlibat dalam upaya percepatan penuntasan Wajar 9 Tahun.
d.
Pengawasan/Pengendalian
merupakan proses untuk mengamati secara terus menerus (bekesinambungan) pelaksanaan rencana kerja yang sudah disusun dan mengadakan koreksi (perbaikan) terhadap penyimpangan yang terjadi. Untuk menjalankan fungsi ini diperlukan adanya standar kinerja yang jelas. Pengawasan dan pengendalian juga merupakan alat ukur apakah implementasi sesuai dengan rencana yang merupakan konsesus bersama yang telah ditetapkan sebelumnya.
merupakan proses untuk mengamati secara terus menerus (bekesinambungan) pelaksanaan rencana kerja yang sudah disusun dan mengadakan koreksi (perbaikan) terhadap penyimpangan yang terjadi. Untuk menjalankan fungsi ini diperlukan adanya standar kinerja yang jelas. Pengawasan dan pengendalian juga merupakan alat ukur apakah implementasi sesuai dengan rencana yang merupakan konsesus bersama yang telah ditetapkan sebelumnya.
BAB
III
PENUTUP
a.
Kesimpulan
Managemen pendidikan adalah
Rangkaian segala kegiatan yang menunjuk kepada usaha kerja sama ssekelompok manusia yang tergabung dalam
organisasi pendidikan, untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan
sebelumnya, agar efektif dan efisien
Perencanaan pengajaran
dalam rangka mempersiapkan alternatifalternatif
pemecahan masalah guna memenuhi kebutuhan
pendidikan secara realistis harus berpedoman kepada tujuantujuan yang
telah ditetapkan secara jelas dan terinci. Berbagai tujuan yang telah
ditetapkan akan menentukan pula pola
pendekatan perencanaannya.
Ini berarti bahwa sektor pendidikan harus menyediakan lembagalembaga
pendidikan serta fasilitas untuk menampung
seluruh kelompok umur yang ingin memperoleh pendidikan. Jika jumlah tempat yan tersedia masih lebih
kecil dari pada jumlah tempat yang seharusnya ada, maka dikatakan bahwa permintaan masyarakat
melebihi penyediaan. Perbedaanperbedaan dalam tujuan itu menyebabkan timbulnya bermacammacam
pendekatan dalam perencanaan pendidikan.
Jenis jenis pendektan dalam manjemen
pendidikan
1.
Manajemen adalah Kerjasama Orang – Orang
2.
Manajemen adalah Suatu Proses
3.
Manajemen sebagai Sebuah Sistem
4.
Manajemen sebagai Pengelolaan
5.
Kepemimpinan dalam Manajemen Pendidikan
6.
Komunikasi dalam Manajemen Pendidikan
Proses
Managemen Pendidikan
1.
Pengorganisasian
2.
Perencanaan
3.
PenggerakanPelaksanaan
4.
Pengawasan/Pengendalian
DAFTAR PUSTAKA
Fattah,
Nanang,(2004), Landasan Manajemen
Pendidikan, (Edisi ketujuh)
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Mustari,
Mohamad,(2014), Manajemen Pendidikan,
Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Terus Berkarya Seakan HIDUP Selamanya
Terus Beribadah Seakan MATI Besok Pagi

