PSIKOLOGI belajar
“ Hasil belajar ’’
DOSEN PEMBIMBING
MUHAMMAD AMIN, M.Pd
Di Susun
Oleh :
Durrotin
Nasihah 201305010157
Diah
Lutfiana 201305010132
M.
Hendra 201305010134
F A K U L A T A S A G A M A
I S L A M
UNIVERSITAS SUNAN GIRI SURABAYA
2015
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT atas terselesaikannya portofolio ini. Tanpa berkah
dan kemurahannya saya tidak mungkin menyelesaikan makalah ini. Kedua kalinya
salawat serta salam tetap tercurahkan pada nabi Muhammmad SAW yang telah
membawa kita dari jalan kebodohan menuju jalan yang terang benderang.
Didalam
makalah ini kami selaku penyusun hanya sebatas ilmu yang bisa kami sajikan,
memenuhi tugas dari dosen pembimbing. Kami menyadari bahwa keterbatasan
pengetahuan dan pemahaman kami tentang belajar dan pembelajaran, menjadikan
keterbatasan kami pula untuk memberikan informasi yang lebih detail tentang hal
tersebut, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Harapan
kami, semoga makalah ini membawa manfaat bagi kita. Akhir kata, kami sampaikan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses pembuatan
makalah i
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Masalah penting yang sering dihadapi oleh guru dalam
kegiatan pembelajaran adalah hasil belajar yang tidak sesuai harapan dan
pemilihan atau penentuan bahan ajar yang tepat dalam rangka membantu siswa
mencapai kompetensi. Dalam kegiatan proses belajar
mengajar, memiliki pengaruh besar terhadap proses kegiatan belajar mengajar itu
sendiri. Hal ini disebabkan karena kurikulum atau silabus, materi
bahan ajar hanya dituliskan secara garis besar dalam bentuk materi pokok. Sudah menjadi tugas guru untuk menjabarkan
materi pokok tersebut sehingga menjadi bahan ajar yang lengkap agar hasil belajar yang
diinginkan dapat tercapai. Selain
itu, bagaimana cara memanfaatkan bahan ajar juga merupakan masalah yang penting. Pemanfaatan yang dimaksud adalah
bagaimana cara mengajarkannya ditinjau dari pihak guru dan cara mempelajarinya
ditinjau dari pihak siswa.
Karena
itulah guru dituntut peka terhadap situasi yang dihadapinya sehingga guru dapat
menyesuaikan diri dalam mengajar. Guru harus mengetahui situasi siswa, situasi
kelas dalam proses belajar mengajar. Sebab, tiap siswa mengalami keragaman
dalama hal kecakapan potensi yang memungkinkan untuk berkembang. Misalnya,
bakat, minat dan kecerdasan maupun kecakapan yang diperoleh dalam hasil
pembelajaran. Situasi kelas juga dapat sangat menentukan terjadinya gairah yang
memotivasi belajar siswa.
Berbagai aspek tentang hasil belajar, faktor yang mempengaruhi hasil belajar,
hubunga media pembelajaran dengan hasil belajar, bahan ajar (cara penulisan dan penyusunan bahan ajar), dan komponen utama bahan
ajar merupakan pokok-pokok bahasan utama makalah ini.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan hasil belajar?
2. Ciri – cirri hasil belajar
3. Faktor
apa saja yang mempengaruhi hasil belajar?
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Hasil Belajar
Sebelum melangkah
lebih jauh, perlu diketahui bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh
anak setelah melalui kegiatan belajar, yang merupakan suatu proses dari seorang
yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif
menetap.
Menurut Benjamin S.
Bloom ada tiga ranah (domain) hasil belajar, yaitu kognitif,
afektif, dan psikomotorik. Menurut A.J. Romiszowski sebagaimana dikutip oleh
Mulyono Abdurrohman menegaskan bahwa hasil belajar merupakan keluaran (outputs) dari
suatu sistem pemrosesan masukan (inputs). Masukan
dari sistem tersebut berupa bermacam-macam informasi, sedangkan keluaran adalah
perbuatan atau kinerja (performance). Selanjutnya Romiszowski
mengemukakan, perbuatan merupakan petunjuk bahwa proses belajar telah terjadi.
Hasil belajar dapat dikelompokkan ke dalam dua macam saja yaitu; pengetahuan
dan ketrampilan. Pengetahuan terdiri dari empat macam yaitu :
a. Pengetahuan
tentang fakta
b. Pengetahuan
tentang prosedur
c . Pengetahuan
tentang konsep
d. Pengetahuan
tentang prinsip
Sedangkan
ketrampilan juga terdiri dari empat kategori yaitu :
a. Ketrampilan
untuk berpikir atau ketrampilan kognitif
b. Ketrampilan
untuk bertindak atau ketrampilan motorik
c. Ketrampilan
untuk bereaksi atau bersikap
d. Ketrampilan
berinteraksi
2.
Ciri-ciri Hasil Belajar
Sebagai suatu bidang
kegiatan, evaluasi hasil belajar memiliki ciri-ciri khas yang berbeda dengan
bidang kegiatan yang lain. Diantara ciri-ciri yang dimiliki oleh evaluasi hasil
belajar adalah sebagaimana dikemukakan pada uraian berikut ini :
a. Evaluasi yang dilaksanakan dalam
rangka mengukur keberhasilan belajar peserta didik itu, pengukurannya dilakukan
secara tidak langsung. Seorang pendidik (guru atau dosen) yang ingin menentukan
manakah diantara peserta didik (murid atau mahasiswa) yang tergolong lebih
pandai dibanding peserta didik yang lain, maka yang diukur dan dicari adalah
indikator atau “hal-hal yang merupakan pertanda“ bahwa seseorang dapat disebut
sebagai orang yang pandai. Carl Witherington sebagaimana dikutif oleh Anas
Sudijono, mangatakan bahwa indikator yang dapat dijadikan kiteria atau tolok
ukur untuk menyatakan bahwa seorang peserta didik termasuk kategori “pandai”
adalah, bila peserta didik itu memiliki berbagai kemampuan seperti; kemampuan
untuk bekerja dengan angka-angka atau bilangan-bilangan, kemampuan menggunakan
bahasa dengan baik dan benar, kemampuan untuk menangkap sesuatu yang baru atau
dengan secara cepat dapat mengikuti pembicaraan orang lain, kemampuan untuk
memahami hubutungan antar gejala yang satu dengan lain, dan kemampuan untuk
berfantasi atau berpikir secara abstrak.
b. Pengukuran dilakukan dalam rangka
menilai keberhasilan belajar peserta didik pada umumnya menggunakan
ukuran-ukuran yang bersifat kuantitatif atau lebih sering menggunakan
simbol-simbol angka. Hasil-hasil pengukuran yang berupa angka itu selanjutnya
dianalisis dengan menggunakan metode statistik yang pada akhirnya diberikan
interpretasi secara kualitatif. Sebagai contoh dalam pemberian nilai rapor atau
surat tanda tamat belajar (STTB) bagi peserta didik pada Sekolah Dasar, Sekolah
Lanjutan Tingkat Pertama dan Sekolah Menengah Umum, digunakan nilai standar
berskala sepuluh, yaitu rentangan nilai mulai dari 1 sampai 10.
c. Kegiatan evaluasi hasil belajar
pada umumnya menggunakan unit-unit atau satuan-satuan yang tetap. Penggunaan
unit-unit atau satuan yang tetap didasarkan pada teori yang menyatakan bahwa
pada setiap populasi peserta didik yang sifatnya heterogen (misalnya; berbeda
jenis kelamin, berbeda sekolah asal, berbeda status ekonomis orang tua, berbeda
latar belakang pendidikan orang tua, bervariasi lingkungan sosial, dan berbeda
domisili), jika dihadapkan pada suatu tes hasil belajar maka
prestasi belajar yang mereka raih berbeda-beda sesuai dengan sifat
heterogen yang dimiliki peserta didik.
d. Prestasi belajar yang dicapai
oleh para peserta didik dari waktu kewaktu adalah bersifat relatif, dalam arti;
bahawa hasil evaluasi terhadap keberhasilan belajar peserta didik itu pada
umumnya tidak selalu menunjukkan kesamaan atau keajegan. Jadi evaluasi yang dilaksanakan
pada tahap pertama untuk subyek yang sama belum tentu hasil yang diperoleh sama
dengan hasil-hasil evaluasi yang dilaksanakan pada tahap berikut. Sebagai
contoh, seorang mahasiswa yang pada penugasan terstruktur di luar kelas tahap
pertama berhasil meraih nilai 100, pada ujian pertengangan semester hanya
mendapat nilai 60. Ketidaksamaan hasil evaluasi itu secara umum
terjadi disebabkan karena dalam kegiatan evaluasi hasil belajar itu yang diukur
bukan benda mati melainkan makhluk hidup yang sewaktu-waktu dapat berubah
karena ruang dan waktu.
e. Dalam kegiatan evaluasi hasil
belajar, sulit untuk dihindari terjadinya kekeliruan pengukuran (error ).
Seperti diketahui, dalam usaha untuk menilai hasil belajar peserta didik
(murid, siswa, dan mahasiswa ), Pendidik (guru dan dosen )
mengadakan pengukuran terhadap peserta didik dengan menggunakan alat pengukur
tes atau ujian, baik ujian tertulis maupun ujian lesan . Dengan mendasarkan
diri pada jumlah jawaban betul atau kualitas jawaban yang diberikan oleh
peserta tes, pendidik selaku penilai memberikan skor-skor yang diberi nama
“nilai”. Pendidik yang baik senantiasa menyadari tentang
kemungkinan–kemungkinan ada perbedan-perbedaan antara tes atau ujian,
dengan nilai yang benar-benar menjadi hak peserta didik yang
bersangkutan. Jadi bisa dipahami bahwa kekeliruan pengukuran akan segera muncul
apabila terdapat perbedaan antara nilai yang telah diberikan kepada peserta
didik, dengan nilai yang merupakan hak peserta didik yang
bersangkutan untuk diperoleh.
3. Faktor
yang Mempengaruhi Hasil Belajar
a. Faktor dari dalam diri siswa
Faktor
yang datang dari diri siswa terutama terdapat dalam kemampuan yang dimilikinya.
Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang
dicapai. Seperti dikemukakan oleh Clark bahwa
hasil belajar siswa di sekolah 70 % dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30 %
dipengaruhi oleh lingkungan. Di samping itu ada juga motivasi belajar, minat
dan pengertian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomis, faktor
fisik, dan faktor psikhis.
b. Faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan
Artinya,
ada faktor yang berada di luar dirinya yang dapat menentukan atau mempengaruhi
hasil belajar yang dicapai. Yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar di
sekolah ialah kualitas pengajaran. Yang dimaksud dengan kualitas pengajaran
ialah tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses belajar mengajar dalam
mencapai tujuan pengajaran.
Dari
kedua hal tersebut sangat berpengaruh dalam peningkatan kualitas aspek kognitif
siswa. Caroll sebagaimana dikutip
oleh Gene Lucas berpendapat
bahwa hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi lima faktor, yakni bakat
pelajar, waktu yang tersedia untuk belajar, waktu yang diperlukan siswa untuk
menjelaskan pelajaran, kualitas pengajaran dan kemampuan individu.
Sedangkan
menurut Keller sebagaimana dikutip
oleh Mulyono Abdurrohman berasumsi,
masukan pribadi berupa motivasi dan harapan untuk berhasil, dan masukan yang
berasal dari lingkungan berupa rangsangan dan pengolahan motivasional tidak
berpengaruh langsung terhadap hasil belajar, tetapi berpengaruh terhadap
besarnya usaha yang dicurahkan oleh anak untuk mencapai hasil
belajar. Sedangkan hasil belajar dipengaruhi oleh besarnya usaha yang
dilakukan anak. Hasil belajar juga dipengaruhi oleh intelegensi dan penguasaan
awal anak tentang materi yang akan dipelajari. Ini berarti bahwa guru perlu
menyusun rancangan dan pengelolaan pembelajaran yang memungkinkan anak bebas
untuk melakukan eksplorasi terhadap lingkungan, yang pada akan berpengaruh
terhadap konsekuensi atas hasil belajar, yang erat berhungan dengan motivasi.
Konsekuensi atas hasil belajar tidak hanya dipengaruhi oleh hasil belajar itu
sendiritetapi juga adanya ulangan penguatan (reinforcement) yang diberikan
lingkungan sosial, terutama guru atau orang tua.
1. Fungsi
Penilaian Hasil Belajar yang Baik
Penilaian
atau evaluasi pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau harga atau
nilai berdasarkan kriteria tertentu. Proses belajar mengajar adalah proses yang
bertujuan. Tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan tingkah laku yang
diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajar.
Fungsi
dari penyelesaian hasil belajar dalam proses belajar mengajar dirumuskan
sebagai berikut :
a. Untuk
mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran, dalam hal ini adalah tujuan
instruksional khusus. Dengan fungsi ini dapat diketahui tingkat penguasaan
bahan pelajaran yang harus dikuasai oleh para siswa.
b. Untuk
mengetahui keefektivan proses belajar mengajar yang telah dilakukan guru.
Dengan fungsi ini guru dapat mengetahui berhasil tidaknya ia mengajar.
Dengan demikian fungsi
penilaian dalam proses belajar mengajar bermanfaat ganda, yakni bagi siswa dan
bagi guru. Penilaian hasil belajar dapat dilaksanakan dua tahap. Pertama, tahap
jangka pendek, yakni penilaian yang dilaksanakan guru pada akhir proses belajar
mengajar. Penilaian ini disebut penilaian formatif. Kedua, tahap jangka
panjang, yakni penilaian yang dilaksanakan setelah proses belajar mengajar
berlangsung beberapa kali atau setelah menempuh periode tertentu, misalnya
penilaian tengah semester atau penilaian pada akhir semester. Penilaian ini
disebut penilaian sumatif.
2. Sasaran
dan Jenis Penilaian Hasil Belajar
Langkah selanjutnya
yang harus ditempuh guru dalam mengadakan penilaian ialah menetapkan apa yang
menjadi sasaran atau objek dan jenis alat penilaian. Hal ini penting diketahui
agar memudahkan guru dalam menyusun alat evaluasinya.
Pokok bahasan ini akan
dibahas satu persatu. Pertama, sasaran penilaian penting diketahui agar
memudahkan guru dalam menyusun alat evaluasinya. Pada umumnya ada tiga sasaran
pokok penilaian,
yakni :
a. Segi
tingkah laku, artinya segi yang menyangkut sikap, minat, perhatian, ketrampilan
siswa sebagai akibat dari proses mengajar dan belajar.
b. Segi
isi pendidikan, artinya penguasaan bahan pelajaran yang diberikan guru dalam
proses belajar mengajar.
c. Segi
yang menyangkut proses mengajar dan belajar itu sendiri. Proses mengajar dan
belajar perlu diadakan penilaian secara objektif dari guru, sebab baik tidaknya
proses mengajar dan belajar akan menentukan baik tidaknya hasil yang dicapai
siswa.
Ketiga
pokok sasaran pokok tersebut harus dievaluasi secara menyeluruh, artinya jangan
hanya menilai segi penguasaan materi semata-mata, tetapi juga harus menilai
segi perubahan tingkah laku dan proses mengajar itu sendiri secara adil. Dengan
menetapkan sasaran tersebut maka seorang guru akan mudah menetapkan alat
evaluasi .
Kedua,
setelah sasaran ditetapkan maka langkah kedua bagi guru adalah menetapkan alat
penilaian yang paling tepat untuk menilai sasaran tersebut. Pada umumnya alat
evaluasi dibedakan menjadi dua jenis, yakni :
a. Tes
Tes yang ada sudah distandarisasi,
artinya tes tersebut telah mengalami proses validasi (ketepatan) dan
reliabilitasi untuk suatu tujuan tertentu dan untuk sekelompok siswa. Tes ini
terdiri dari tiga bentuk, yakni :
1) Tes
lisan
2) Tes
tulisan
3) Tes
tindakan
Jenis ini biasanya digunakan untuk
menilai isi pendidikan, misalnya aspek pengetahuan, kecakapan, ketrampilan dan
pemahaman pelajaran yang telah diberikan guru.
b. Non tes
Untuk menilai aspek tingkah laku, jenis
non tes lebih sesuai digunakan sebagai alat evaluasi. Seperti menilai aspek
sikap, minat, perhatian, dan karakteristik. Alat evaluasi jenis ini antara lain
:
1) Observasi
Yang dimaksud observasi adalah
pengamatan kepada tingkah laku pada suatu situasi tertentu.
2) Wawancara
Yang dimaksud wawancara ialah komunikasi
langsung antara yang mewawancarai dengan yang diwawancarai.
3) Studi
kasus
Mempelajari individu dalam periode
tertentu secara terus menerus untuk melihat perkembangan. Misalnya untuk melihat
sikap siswa terhadap pelajaran yang diberikan guru selama satu semester.
4) Rating
Scale (skala penilaian)
Rating scale, merupakan satu alat
penilaian yang menggunakan skala yang telah disusun dari ujung yang negatif
sampai kepada ujung yang positif.
5) Check
list
Hampir menyerupai rating scale,
hanya pada check list tidak perlu disusun kriteria cukup,
dengan kemungkinan-kemungkinan jawaban yang akan minta dari yang dievaluasi
6) Inventory
Daftar pertanyaan yang disertai
alternatif jawaban diantara setuju, kurang setuju, atau tidak setuju.
PENUTUP
KESIMPULAN
Hasil belajar adalah
kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar, yang merupakan
suatu proses dari seorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan
perilaku yang relatif menetap. Sebagai suatu bidang kegiatan, evaluasi hasil
belajar memiliki ciri-ciri khas yang berbeda dengan bidang kegiatan yang lain.
Faktor
yang mempengaruhi hasil belajar adalah faktor dari dalam diri siswa faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor
lingkungan.
SARAN
Makalah ini kami akui masih
banyak banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh
karena itu harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang
bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Mulyono
Abdurrohman, Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar, Rineka
Cipta, Jakarta, 1999, hal. 37.
[3] Anas
Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, PT. Raja
Grafindo Persada, jakarta, 1996, hal. 33-38
[5] Richard Clark
and Calvin Bovy, Cognitive Prescriptive theory and
Psycoeducational Design, University of Southern California,
California, 1981, p. 12.
[6] Gene Lucas at
al, Exploring Teaching Alternatives, Bergers Publishing
Company, Mineapolis, 1977, p. 16
[1] Nana
Sudjana, Op. Cit., hal. 111.
[2] Ibid., hal.
112.
[3] Ibid., hal.
113-115.
