Metode Pendidikan Agama
“MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF
STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION
(STAD)’’
DOSEN PEMBIMBING
Drs.H.Idham Kholid,MA
Di Susun
Oleh :
Durrotin Nasihah 201305010137
Khoirun Nisa 201305010116
Miftakhul Khoiri 201305010131
M.Hendra 201305010134
F A K U L A T A
S A G A M A
I S L A M
UNIVERSITAS
SUNAN GIRI SURABAYA
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.
A. Latar Belakang Masalah
Kegiatan belajar matematika efektif
apabila tujuan pembelajaran matematika dapat dicapai dengan baik. Guru
harus menguasai materi belajar dan dapat memilih metode mengajar yang cocok,
menerapkan strategi serta menciptakan suasana yang mendukung pada
proses belajar mengajar.Guru harus tepat dalam memilih metode dan strategi
pembelajaran. Guru yang kurang menguasai materi tentu akan kesulitan di dalam
mengajar. Hal ini dapat mengakibatkan siswa kurang mengerti atau mamahami
tentang materi yang disampaikan sehingga siswa menjadi malas untuk
belajar dan menganggap materi tersebut sulit.
Selama
ini pembelajaran yang diterapkan di sekolah adalah pembelajaran secara
konvensional, pembelajaran ini cenderung bersifat searah yaitu peran guru lebih
aktif dibanding peran siswa. Sehingga dalam hal ini siswa kurang bisa
mengembangkan kreatifitasnya dalam proses pembelajaran di kelas. Untuk
mengatasi permasalahan tersebut maka perlu digunakan metode pembelajaran yang
bertujuan untuk mengaktifkan siswa, dimana siswa akan lebih mudah menemukan dan
memahami konsep-konsep yang sulit serta dapat saling mendiskusikan
masalah-masalah dengan temannya.Model pembelajaran kooperatif yaitu belajar
dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen, terdiri dari suku atau ras yang
berbeda jenis kelamin yang berbeda yaitu laki-laki dan perempuan, kemampuan
tinggi, rendah dan sedang. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang, keberhasilan
dalam kelompok sangat penting dalam pembelajaran ini sehingga anak yang lemah
akan mendapat bantuan dari yang lebih pandai dan sebaliknya, anak yang pandai
akan dapat mengembangkan kemampuannya dengan mengajarkan materi pada temannya
yang kemampuannya rendah. Dalam hal ini, model pembelajaran kooperatif tipe
STAD merupakan tipe yang lebih sederhana dibandingkan tipe–tipe yang lain.
Interaksi sosial yang terjadi dalam
kelompok-kelompok akan dapat menjadikan pembelajaran matematika lebih bermakna.
Jadi materi pelajaran yang dipelajari siswa lebih mendalam dan meningkatkan
minat belajar siswa serta prestasi belajar siswa.Fenomena yang terjadi di dalam
pembelajaran matematika di sekolah saat ini adalah banyak terdengar keluhan
bahwa pelajaran matematika membosankan, tidak menarik bahkan penuh misteri.
Ilmu matematika dirasa sukar, sulit dan tidak nampak kaitannya dalam kehidupan
sehari-hari. Kenyataan ini adalah sebuah persepsi yang negatif terhadap
matematika. Sementara itu ada juga siswa yang sangat menikmati keasyikan
bermain dengan matematika, mengagumi keindahan matematika dan tertantang untuk
memecahkan setiap soal-soal matematika. Kenyataan ini adalah sebuah persepsi
yang positif terhadap matematika. Masalahnya yang terjadi saat ini adalah
persepsi negatif lebih banyak dari pada persepsi positifnya
Dari
pernyataan di atas guru hendaknya memilih dan menggunakan pendekatan yang banyak melibatkan siswa aktif dalam
belajar, baik secara fisik, mental maupun sosial, sehingga proses pembelajaran
matematika menjadi lebih bermakna. Karena dalam pembelajaran matematika,
penggunaan model dan pendekatan yang tepat sangat diperlukan.Bangun ruang
merupakan salah satu materi pokok dalam pelajaran matematika. Materi
tersebut dipilih dengan alasan bahwa konsep bangun ruang lebih khususnya limas
sulit dipahami siswa. Agar siswa ikut aktif dalam belajar matematika, maka
diperlukan pendekatan pembelajaran yaitu pendekatan pembelajaran kooperatif
tipe STAD. Sehingga materi tersebut dapat tersampaikan dengan baik dan dipahami
oleh siswa tersebut.
2.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan
dibahas pada makalah ini adalah sebagai berikut :
1.
Apa yang dimaksud dengan model
pembelajaran kooperatif ?
2.
Apa yang dimaksud dengan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD ?
3.
Apa saja kelebihan dan kekurangan
model pembelajran kooperatif tipe STAD ?
4.
Apa saja langkah-langkah yang ada
dalam tipe pembelajaran STAD
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Model Pembelajaran Kooperatif
Model
Pembelajaran kooperatif dikembangkan dari teori belajar konstruktivitisme yang
lahir dari Piaget dan Vigosky . Berdasarkan penelitian Piaget yang pertama
dikemukakan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak . (Ratna,1988:
181 dalam Rusman,2011:201)
Dalam model pembelajaran kooperatif
, guru yang lebih berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jembatan
penghubung ke arah pemahaman yang lebih tinggi , dengan catatan siswa sendiri .
Guru tidak hanya memberikan pengetahuan kepada siswa , tetapi juga harus
membangun pengetahuan dalam pikirannya . Siswa mempunyai kesempatan untuk
mendapatkan pengalaman langsung dalam menerapkan ide-ide mereka , ini merupakan
kesempatan bagi siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri .
Pembelajaran kooperatif adalah
strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok
kecil untuk saling berinteraksi (Nurulhayati,2002:25dalam Rusman,2011:203) .
Dalam sistem belajar yang kooperatif , siswa belajar bekerja sama dengan
anggota lainnya . Dalam model ini siswa memiliki dua tanggung jawab , yaitu
mereka belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk
belajar . Siswa belajar bersama dalam sebuah kelompok kecil dan mereka dapat
melakukannya seorang diri .
Pembelajaran kooperatif (
cooperative learning ) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar
dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari
4-6 orang dengan struktur kelompok yang berisfat heterogen.
Dalam pembelajaran ini akan tercipta
sebuah interaksi yang lebih luas, yaitu interaksi dan komunikasi yang dilakukan
antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan guru (multi way
traffic comunication).
Pada pembelajaran kooperatif di
yakini bahwa keberhasilan peserta didik tercapai jika setiap anggota
kelompoknya berhasil.(Woolfolk, 1993 dalam Budiyono dkk, 2012:13)
Lima unsur esensial yang di tekankan
dalam pembelajaran kooperatif yaitu, (a) saling ketergantungan positif, (b)
interaksi berhadapan (face to – face interaction), (c) tanggung jawab individu
(individual reponsibility), (d) ketrampilan sosial (social skills), (e) terjadi
proses dalam kelompok (group processing).
Model pembelajaran kooperatif
merupakan model pembelajaran yang banyak digunakan dan menjadi perhatian serta
di anjurkan oleh para ahli pendidikan. Hal ini dikarenakan berdasarkan hasil
penelitian yang di lakukan Slavin (1995) dinyatakan bahwa (1) penggunaan
pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekaligus
dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap toleransi dan menghargai
pendapat orang lain, (2) pembelajaran kooperatif dapat memenuhi kebutuhan siswa
dalam berpikir kritis memecahkan masalah dan meintegrasikan pengetahuan dan
pengalaman.
1. Model kooperatif tipe student teams achievement division
(STAD)
Model ini di kembangkan ole Robert
Slavin dan teman – temannya di Universitas John Hopkin. dalam STAD, siswa
dibagi menjadi kelompok beranggotakan empat orang yang beragam kemampuan,
jenis kelamin, dan sukunya. Guru memberikan suatu pelajarn dan siswa –
siswa di dalam kelompok memastikan bahwa semua anggota kelompok itu bisa
menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya semua siswa menjalani kuis peseorangan
tentang materi ersebut, dan pada saat itu mereka tidak boleh saling membantu
satu sama lain. Nilai – nilai hasil kuis siswa diperbandingkan dengan nilai
rata – rata mereka sendiri yang diperoleh sendrinya, dan nilai – nilai
itu diberi hadiah berdasarkan pada seberapa tinggi peningkatan yang bisa merek
capai atau seberpa tinggi nilai itu melampaui nilai mereka sebelumnya. Nilai –
nilai ini kemudian di jumlah untuk mendapat nilai kelompok, dan kelompok
yang dapat mencapai kriteria tertentu bisa mendapatkan sertifikat atau hadiah –
hadiah yang lainnya.
Slavinmemaparkan bahwa: “gagasan
utama di belakang STAD adalah memacu siswa agar saling mendorong dan membantu
satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang di ajarkan guru”. Jika siswa
menginginkan kelompok memperoleh hadiah, mereka harus membantu teman sekelompok
mereka dalam mempelajari pelajaran. Mereka harus mendorong teman sekelompok
untuk melakukan yang terbaik, memperlihatkan norma – norma bahwa belajar itu
penting, berharga dan menyenangkan. Para siswa diberi waktu untuk bekerja sama
setelah pelajaran diberikan oleh guru, tetapi tidak saling membantu ketika menjalani
kuis, sehingga setiap siswa harus menguasai materi itu (tanggunggung jawab
perseorangan ). Para siswa mungkin bekerja berpasangan dan mungkin bertukar
jawaban, mendiskusikan ketidaksamaan, dan saling membantu satu sama lain,
mereka bisa mendiskusiakan pendekatan – pendekatan untuk memecahkan masalah
itu, atau merekabisa saling memberikan pertanyaan tentang isi dari materi yang
mereka pelajari itu.
2.
Langkah – langkah pembelajaran kooperatif model STAD
a.
Penyampaian tujuan dan motifasi
Menyampaikan tujuan pelajaran yang
ingin dicapai pada pembelajaran dan motivasi siswa untuk belajar.
b.
Pembagian kelompok
Siswa dibagi ke dalam beberapa
kelompok, dimana setiap kelompoknya terdiri dari 4 – 5 siswa yang
memprioritaskan heterogenitas (keagamaan) kelas dalam prestasi akademik,
gender/jenis kelamin, rasa atau etnik.
c.
Presentase dari Guru
Guru menyampaikan materi pelajaran
dengan terlebih dahulu menjelaskan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada
pertemuan tersbut serta pentingnya pokok bahasan tersebut dipelajari. Guru
memberi motivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif. Di dalam
proses pembelajaran guru dibantu oleh media, demonstrasi, pernyataan atau
masalah nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari – hari. Dijelaskan juga
tentang keterampilan dan kemampuan yang diharapkan dikusai siswa, tugas dan
pekerjaan yang harus dilakukan serta cara – cara mengerjakannya.
d.
Kegiatan belajar dalam Tim (kerja
tim)
Siswa belajar dalam kelompoknyang
telah dibentuk. Guru menyiakan lembar kerja sebagai pedoman bagi kerja kelompok
, sehingga semua anggota menguasai dan masing – masing memberikan kontribusi.
Selama tim bekerja, guru melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan
dan bantuan bila diperluan. Kerja tim ini merupakan ciri terpenting dari STAD.
e.
Kuis (Evaluasi)
Guru mengevaluasi hasil belajar
melalui pmberian kuis tentang materi yang dipelajari dan juga melakukan
penilaian terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok. Siswa
diberikan kursi secara individual dan tidak dibenarkan bekerja sama. Ini
ilakukan untuk menjamin agar siswa secara individual bertanggung jawab kepada
diri sendiri dalam memahami bahan ajar tersebut. Guru menetapkan skor batas
penguasaan untuk setiap soal, misalnya 60, 75, 84, dan seterusnya sesuai dengan
tingkat kesulitan siswa.
f.
Penghargaan prestasi tim
Setelah pelaksanaan kuis, guru
memeriksa hasil kerja siswa dan memberikan angka dengan rentang 0-100.
Selanjutnya pemberian penghargaan atas keberhasilan kelompok dapat dilakukan
oleh guru dengan melakukan tahapan-tahapan sebagai berikut :
g.
Menghitung skor individu
Menurut Slavin (Trianto, 2007:55),
untuk menghitung perkembangan skor individu dihitung sebagaimana dapat dilihat
pada tabel sebagai berikut :
Tabel penghitungan perkembangan skor
individu
No.
|
Nilai Tes
|
Skor Perkembangan
|
1.
2.
3.
4.
5.
|
Lebih dari 10 poin di bawah skor
dasar
10 sampai 1 poin di bawah skor
dasar
Skor 0 sampai 10 poin di atas skor
dasar
Lebih dari 10 poin di atas skor
dasar
Pekerjaan sempurna (tanpa
memperhatikan dasar)
|
0 poin
10 poin
20 poin
30 poin
30
oin
|
h .
Menghitung Skor Kelompok
Skor kelompok dihitung dengan
membuat rata – rata skor perkembangan anggota kelompok, yaitu dengan
menjumlahkan semua skor perkembangan anggota kelompok dan membagi sejumlah
anggota kelompok tersebut. Sesusai dengan rata – rata skor perkembangan
kelompok sebagaimana dalam tabel 7.3 sebagai berikut:
No.
|
rata – rata skor
|
Kualifikasi
|
1.
|
N
N
16 N
N
|
–
Tim yang baik (good team)
Tim yang baik sekali (great team)
Tim yang istimewa (super team)
|
i.
Pemberian hadiah dan pengakuan skor
kelompok
Setelah masing – masing kelompok
satu tim memperoleh predikat, guru memberikan hadiah atau penghargaan kepada
masing – masing kelompok sesuai dengan prstsinya (kiteria tertentu yang
ditetapkan guru).
STAD merupakan suatu metode generik
tentang pengaturan kelas dan bukan metode pengajaran komprehensif untuk subjek
tertentu, guru menggunakan pelajaran dan materi mereka sendiri. Lembar tugas
dan kuis disediakan bagi kebanyakan subjek sekolah untuk siswa, tetapi
kebanyakan guru meggunakan materi mereka sendiri untuk menambah atau mengganti
materi – materi ini.
3.
Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kooperatif Tipe
STAD
Kelebihan dan kekurangan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD menurut Roestiyah (2001:17) , yaitu:
1.
Kelebihan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD, yaitu:
a.
Dapat memberikan kesempatan kepada
siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas suatu masalah.
b.
Dapat memberikan kesempatan kepada
siswa untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai suatu masalah.
d.
Para siswa lebih aktif bergabung
dalam pelajaran mereka dan mereka lebih aktif dalam diskusi.
e.
Dapat memberikan kesempatan kepada siswa
untuk mengembangkan rasa menghargai, menghormati pribadi temannya, dan
menghargai pendapat orang lain.
4. Kekurangan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD, yaitu:
Menurut Dess (1991) Pembelajaran STAD juga mempunyai kekurangan – kekurangan :
Menurut Dess (1991) Pembelajaran STAD juga mempunyai kekurangan – kekurangan :
a.
Membutuhkan waktu yang lebih lama
untuk siswa sehingga sulit mencapai target kurikulum.
b.
Membutuhkan waktu yang lebih lama
untuk guru sehingga pada umumnya
guru tidak mau menggunakan pembelajaran
kooperatif.
c.
Menuntut sifat tertentu dari siswa ,
misalnya sifat suka bekerja sama
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
a.
Pembelajaran kooperatif adalah
setrategi belajar dimana siswa dapat belajar dalam kelompok kecil yang memiliki
tingkat kemampuan yang berbeda.
b.
Pembelajaran dengan pendekatan
keterampilan proses dalam setting pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat
mengubah pembelajaran dari teacher center menjadi student centered.
c.
Pada intinya konsep dari model
pembelajaran tipe STAD adalah guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja
dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran
tersebut.
d.
Model pembelajaran tipe STAD
mempunyai banyak kelebihan sehingga dapat mendorong peningkatan mutu
pendidikan.
2. Saran
a.
Diharapkan guru mengenalkan dan
melatihkan keterampilan proses dan keterampilan proses dan keterampilan
kooperatif sebelum atau selama pembelajaran agar siswa mampu menemukan dan
mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta dapat menumbuhkan dan
mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut.
b.
Agar pembelajaran-pembelajaran
kooperatif tipe STAD dapat berjalan, sebaiknya guru membuat perencanaan
mengajar materi pelajaran, dan menentukan semua konsep-konsep yang akan
dikembangkan, dan untuk setiap konsep ditentukan metode atau pendekatan yang
akan digunakan serta ketrampilan proses yang akan dikembangkan.
c Pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat
digunakan sebagai alternatif untuk
meningkatkan prestasi dan keaktifan siswa belajar pada pokok bahasan
menghitung permukaan limas.
d.
Untuk menambah motivasi anak didik
sebaiknya sehabis mengadakan kuis, guru diharapkan memberikan penghargaan baik
berupa nilai maupun barang.
DAFTAR
PUSTAKA
Rusman.2011.Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionaisme Guru.Jakarta:Rajawali
Pers.
Budiyono,Budi
Usodo &Yemi Kuswardi.2012.Model,Media dan Evaluasi
Pembelajaran Matematika.Surakarta:UNS
Pembelajaran
Kooperatif Tipe STAD .
2011 . http://www.sarjanaku.com (
24 September 2012 )
Paul
M La Bounty dkk . 2011 . International Society of Sports
Nutrition position stand: meal frequency.springer.com (20 September 2012)
Irma
Pujiati . 2008 .PeningkatanMotivasidanKetuntasanBelajarMatematikaMelaluiPembelajaranKooperatifTipe STAD
. Jurnal Ilmiah Kependidikan, Vol. I, No. 1
Mega
Irhamna. 2009 . Cooperative Learning dengan Model STAD pada Pembelajaran Matematika Kelas VIII SMP
Negeri 2 Delitu. Jurnal Penelitian Kependidikan , Tahun
19,Nomor 2, Oktober 2009
Nanik
Pudjowati . 2009 . Implementasi Model STAD
(Student Teams Achievement Divisions )SebagaiUpayaPeningkatanApresiasi HAM
PadaPesertaDidikKelas VII SMP 1. JurnalLemlit, Volume 3, Nomer 2,
Desember 2009

Tidak ada komentar:
Posting Komentar