“ Model dan Strategi Pembelajaran Active Learning ’’
DOSEN PEMBIMBING
Ibnu Athoillah,M.Pd.I.
Di Susun Oleh
:
M. Arifudin
M. Samsudin
Ilham Muslim
M. Hendra
Miftahul khoiri
Diah Lutfiana
F A K U L A T A
S A G A M A
I S L A M
UNIVERSITAS SUNAN GIRI SURABAYA
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembelajaran pada
dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik ke dalam proses belajar
sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang
diharapkan. Pembelajaran hendaknya memperhatikan kondisi individu anak karena
merekalah yang akan belajar. Anak didik merupakan individu yang berbeda satu
sama lain, memiliki keunikan masing-masing yang tidak sama dengan orang lain.
Oleh karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan
individual anak tersebut, sehingga pembelajaran benar-benar dapat merobah
kondisi anak dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak paham menjadi
paham serta dari yang berperilaku kurang baik menjadi baik.Kondisi riil anak
seperti ini, selama ini kurang mendapat perhatian di kalangan pendidik.Hal ini
terlihat dari perhatian sebagian guru/pendidik yang cenderung memperhatikan
kelas secara keseluruhan, tidak perorangan atau kelompok anak, sehingga perbedaan
individual kurang mendapat perhatian. Gejala yang lain terlihat pada kenyataan
banyaknya guru yang menggunakan metode pengajaran yang cenderung sama setiap
kali pertemuan di kelas berlangsung.
Pembelajaran yang
kurang memperhatikan perbedaan individual anak dan didasarkan pada keinginan
guru, akan sulit untuk dapat mengantarkan anak didik ke arah pencapaian tujuan
pembelajaran. Kondisi seperti inilah yang pada umumnya terjadi pada
pembelajaran konvensional.Konsekuensi dari pendekatan pembelajaran seperti ini
adalah terjadinya kesenjangan yang nyata antara anak yang cerdas dan anak yang
kurang cerdas dalam pencapaian tujuan pembelajaran.Kondisi seperti ini
mengakibatkan tidak diperolehnya ketuntasan dalam belajar, sehingga sistem
belajar tuntas terabaikan. Hal ini membuktikan terjadinya kegagalan dalam
proses pembelajaran di sekolah.
Menyadari
kenyataan seperti ini para ahli berupaya untuk mencari dan merumuskan suatu model pembelajaran yang dapat merangkul semua perbedaan yang
dimiliki oleh anak didik.Model pembelajaran
yang ditawarkan tersebut adalah strategi belajar aktif (active
learning).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latarbelakang dalam makalah, maka dapat
dirumuskan masalah yang akan dibahas sebagai berikut:
1.
Apakah yang dimaksud dengan model
pembelajaran Active Learning?
2.
Apa sajakah karakteristik dari Model
pembelajaran Active Learning?
3.
Apa sajakah prinsip-prinsip dari Model
pembelajaran Active Learning?
4. Bagaimana sintak-sintak atau
langkah-langkah dalam Model pembelajaran Active
Learning?
5.
Apa saja jenis-jenis dari Model
pembelajaran Active Learning?
6.
Apa sajakah kelebihan dan kelemahan Model
pembelajaran Active Learning?
1.3
Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut,
dapat dirumuskan beberapa tujuan :
1. Mengetahui pengertian dari Model
pembelajaran Active Learning
2. Mengetahui karakteristik dari Model
pembelajaran Active Learning
3. Mengetahui prinsip-prinsip dari Model
pembelajaran Active Learning
4. Mengetahui sintak atau
langkah-langkah dalam Model pembelajaran Active Learning
5. Mengetahui jenis-jenis Model
pembelajaran Active Learning
6. Mengetahui kelebihan dan kelemahan Model
pembelajaran Active Learning
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Model Pembelajaran Aktif (Active Learning)
Model pembelajaran
aktif adalah suatu model dalam
pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif menuju
belajar yang mandiri. Kemampuan belajar mandiri merupakan tujuan akhir dari
belajar aktif (active learning).Untuk dapat mencapai hal tersebut kegiatan
pembelajaran dirancang sedemikian rupa agar bermakna bagi siswa atau anak
didik.
Belajar aktif
merupakan perkembangan teori learning by
doing (1859-1952). Dewey menerapkan prinsip-prinsip “learning by doing”, bahwa siswa perlu terlibat dalam proses belajar
secara spontan. Dari rasa keingintahuan (curriositas) siswa terdapat hal-hal
yang belum diketahuinya, maka akan dapat mendorong keterlibatan siswa secara
aktif dalam suatu proses belajar. Belajar aktif berguna untuk menumbuhkan
kemampuan belajar aktif pada diri siswa serta menggali potensi siswa dan guru
untuk sama-sama berkembang dan berbagi
pengetahuan keterampilan, dan pengalaman.
Peran peserta
didik dan guru dalam konteks belajar aktif menjadi sangat penting. Guru
berperan aktif sebagai fasilitator yang membantu memudahkan siswa belajar,
sebagai pengelola yang mampu merancang dan melakasanakan kegiatan belajar
bermakna, serta mengelola sumber belajar yang diperlukan. Siswa juga terlibat
dalam proses belajar bersama guru karena siswa dibimbing, diajar dan dilatih
menjelajah, mencari mempertanyakan sesuatu menyelidiki jawaban atas suatu
pertanyaan, mengelola dan menyampaikan hsil perolehannya secara komunikatif.
Siswa diharapkan mampu memodifikasi pengetahuan yang baru diterima dengan
pengalaman dan pengetahuan yan pernah diterimanya.
Melalui model pembelajaran aktif, siswa diharapkan akan mampu mengenal
dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang mereka miliki. Di samping
itu, siswa secara penuh dan sadar dapat menggunakan potensi sumber belajar yang
terdapat di lingkungan sekitarnya, lebih terlatih untuk berprakarsa, berpikir
secara sistematis, krisis dan tanggap, sehingga dapat menyelesaikan masalah
sehari-hari melalui penelusuran informasi yang bermakna baginya.Belajar aktif
menuntut guru bekerja secara profesional, mengajar secara sistematis, dan
berdasarkan prnsip-prinsip pembelajaran yang efektif dan efisien. Artinya, guru
dapat merekayasa model pembelajaran yang dilaksanakan secara
sistematis dan menjadikan proses pembelajaran sebagai pengalaman yang bermakna
bagi siswa. Untuk itu, guru diharapkan memiliki kemampuan untuk:
a.Memanfaatkan sumber belajar dilingkungannya
secara optimal dalam proses pembelajaran
b. Berkreasi mengembangkan gagasan baru
c.Mengurangi kesenjangan pengetahuan yang
diperoleh siswa dari sekolah dengan pengetahuan yang diperoleh dari masyarakat
d.Mempelajari relevansi dan keterkaitan mata
pelajaran bidang ilmu dengan kebutuhan sehari-hari dalam masyarakat
e. Mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan
perilaku siswa secara bertahap dan utuh
f. Memberi kesempatan pada siswa untuk dapat
berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan
g. Menerapkan prinsip-prinsip belajar aktif.
Belajar aktif meliputi berbagai cara
untuk membuat siswa aktif sejak awal melakukan aktivitas-aktivitas yang
membangun kerja kelompok dan dalam waktu yang singkat membuat mereka berpikir
tentang materi pelajaran.Ketika peserta didik belajar dengan aktif berarti
mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Mereka secara aktif menggunakan
otak baik untuk menemukan ide pokok dari materi pelajaran, memecahkan persoalan
atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam suatu persoalan
yang ada dalam kehidupan nyata. Jadi pembelajaran aktif adalah suatu
model pembelajaran yang membuat siswa menjadi aktif, siswa diajak menyelesaikan
masalah dengan menggunakan pengetahuan yang mereka miliki dan menerapkan apa
yang telah mereka pelajari.
2.2 Karakteristik Active Learning
Pembelajaran aktif
adalah segala bentuk
pembelajaran yang memungkinkan siswaberperan
secara aktif dalam
proses pembelajaran itu
sendiri baik dalam
bentuk interaksiantar siswa
maupun siswa dengan pengajar
dalam proses pembelajarantersebut.
Menurut Bonwell (1995), pembelajaran
aktif memiliki karakteristik-karakteristik sebagaiberikut:
·
Penekanan
proses pembelajaran bukan
pada penyampaian informasi
olehpengajar melainkan pada
pengembangan keterampilan
pemikiran analitis dankritis terhadap topik atau permasalahan
yang dibahas.
·
Siswa tidak
hanya belajar secara pasif
tetapi mengerjakansesuatu yang
berkaitan dengan materi pelajaran.
·
Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan
sikap-sikap yang berhubungan dengan materipelajaran,
·
Siswa
lebih banyak dituntut
untuk berpikir kritis,
menganalisa danmelakukan
evaluasi,
·
Umpan-balik yang lebih cepat akan terjadi pada
proses pembelajaran.
Di samping karakteristik tersebut, secara
umum suatu proses
pembelajaran
aktifmemungkinkan diperolehnya beberapa
hal. Pertama, interaksi yang timbul
selama prosespembelajaran akan
menimbulkan positive interdependence, dimana konsolidasi pengetahuanyang dipelajari
hanya dapat diperoleh secara bersama-sama melalui eksplorasi aktif
dalambelajar. Kedua, setiap individu harus terlibat aktif dalam proses
pembelajaran dan guru harus mendapatkan
penilaian untuk setiap
siswa sehingga terdapat individualaccountability. Ketiga,
proses pembelajaran aktif
ini agar dapat berjalan
dengan efektifdiperlukan tingkat
kerjasama yang tinggi sehingga akan memupuk social
skills.
Dengan demikian
kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan sehingga penguasaan materijuga
meningkat. Suatu studi yang dilakukan Thomas (1972) menunjukkan bahwa setelah
10menit pelajaran, siswa
cenderung akan kehilangan
konsentrasinya untuk mendengarpelajaran yang diberikan
oleh pengajar secara
pasif. Hal ini tentu
akan makin membuatpembelajaran tidak
efektif jika pembelajaran
terus dilanjutkan tanpa
upaya-upaya untukmemperbaikinya.
Dengan menggunakan cara-cara pembelajaran aktif, hal tersebut dapatdihindari.Pemindahan peran
pada siswa untuk aktif belajar dapat mengurangikebosanan ini bahkan bisa menimbulkan
minat belajar yang besar pada siswa. Padaakhirnya hal
ini akan membuat
proses pembelajaran mencapai learning
outcomes yangdiinginkan.
2.3 Prinsip-Prinsip
Active Learning
Untuk
menjadikan aktif, maka pembelajaran harus direncanakan dan dilaksanakan secara
sistematis serta mengetahui prinsip-prinsipnya. Prisip-prinsip belajar aktif antara
lain:
1.
Stimulus
belajar
Yang
dimaksud dengan stimulus belajar adalah segala hal di luar individu itu untuk
mengadakan reaksi atau perbuatan belajar.Pesan yang diterima siswa dari guru
melalui informasi biasanya dalam bentuk stimulus.Stimulus tersebut dapat
berbentuk verbal atau bahasa, visual, auditif, taktik dan lain-lain.Stimulus
hendaknya disampaikan dengan upaya membantu agar siswa menerima pesan dengan
mudah.
2.
Perhatian
dan motivasi
Perhatian
adalah pemusatan tenaga psikis tertuju kepada suatu obyek. Sedangkan
yang dimaksud dengan motivasi adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri
siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan
belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai.
Perhatian dan motivasi akan berpengaruh
terhadap hasil belajar siswa, untuk memotivasi dan memberikan perhatian pada
kegiatan belajar, guru dapat melakukan berbagai model pembelajaran yang sesuai
dengan kemampuan dan pembelajaran yang menyenangkan. Motivasi belajar yang diberikan oleh
guru tidak akan berarti tanpa adanya perhatian dan motivasi siswa.
Ada beberapa cara untuk menumbuhkan perhatian dan motivasi, antara lain melalui cara mengajar yang bervariasi, mengadakan pengulangan informasi, memberikan stimulus baru melalui pertanyaan kepada siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan keinginan belajarnya, menggunakan media dan alat bantu yang menarik perhatian siswa seperti gambar, foto, diagram dan lain-lain. Secara umum siswa akan terangsang untuk belajar apabila ia melihat bahwa situasi belajar mengajar cenderung memuaskan dirinya sesuai dengan kebutuhannya.
Ada beberapa cara untuk menumbuhkan perhatian dan motivasi, antara lain melalui cara mengajar yang bervariasi, mengadakan pengulangan informasi, memberikan stimulus baru melalui pertanyaan kepada siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan keinginan belajarnya, menggunakan media dan alat bantu yang menarik perhatian siswa seperti gambar, foto, diagram dan lain-lain. Secara umum siswa akan terangsang untuk belajar apabila ia melihat bahwa situasi belajar mengajar cenderung memuaskan dirinya sesuai dengan kebutuhannya.
3.
Respon
yang dipelajari
Belajar
adalah proses belajar yang aktif, sehingga apabila tidak dilibatkan dalam
berbagai kegiatan belajar sebagai respon siswa terhadap stimulus guru, maka
tidak mungkin siswa dapat mencapai hasil belajar yang dikehendaki.
Keterlibatan atau respon siswa terhadap stimulus guru bisa meliputi berbagai bentuk seperti perhatian, proses internal terhadap informasi, tindakan nyata dalam bentuk partisipasi kegiatan belajar seperti memecahkan masalah, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, menilai kemampuan dirinya dalam menguasai informasi, melatih diri dalam menguasai informasi yang diberikan oleh guru dan lain-lain.
Keterlibatan atau respon siswa terhadap stimulus guru bisa meliputi berbagai bentuk seperti perhatian, proses internal terhadap informasi, tindakan nyata dalam bentuk partisipasi kegiatan belajar seperti memecahkan masalah, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, menilai kemampuan dirinya dalam menguasai informasi, melatih diri dalam menguasai informasi yang diberikan oleh guru dan lain-lain.
4.
Penguatan
Setiap
tingkah laku yang diikuti oleh kepuasan terhadap bebutuhan siswa akan mempunyai
kecenderungan untuk diulang kembali. Sumber penguat belajar untuk pemuasan
kebutuhan yang berasal dari luar adalah nilai, pengakuan prestasi siswa,
persetujuan pendapat siswa, pemberian hadiah dan lain-lain.
5.
Asosiasi
Secara
sederhana, berfikir asosiatif adalah berfikir dengan cara mengasosiasikan
sesuai dengan lainnya. Berfikir asosiatif itu merupakan proses pembentukan
hubungan antara rangsangan dengan respon.Asosiasi dapat dibentuk melalui pemberian bahan yang
bermakna, berorientasi kepada pengetahuan yang telah dimiliki siswa, pemberian
contoh yang jelas, pemberian latihan yang jelas, pemberian latihan yang
teratur, pemecahan masalah yang serupa, dilakukan dalam situasi yang
menyenangkan.Di sini siswa dihadapkan pada situasi baru yang dapat menuntut
pemecahan masalah melalui informasi yang telah dimilikinya.
2.4 Sintak atau
Langkah-Langkah Active Learning
Pembelajaran aktif (Active Learning) dimaksudkan untuk
mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga
semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan
karakteristik pribadi yang mereka miliki. Disamping itu, pembelajaran aktif (Active Learning) juga dimaksudkan untuk menjaga
perhatian siswa agar tetap tertuju pada proses pembelajaran. Menurut Machmudah (2008),berikut adalah sintak atau
langkah-langkah
model pembelajaran aktif (Active Learning) :
· Fase 1: Menyampaikan tujuan dan motivasi
siswa
Dalam fase
ini guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai
pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa. Tujuan belajar yang disampaikan
adalah untuk memahami sel darah pada sistem peredaran darah.
·
Fase 2: Menyajikan informasi
Dalam fase ini
guru menyampaikan penjelasan
umum tentang peredaran darah kepada
siswa.
·
Fase 3: Mengorganisasikan siswa ke dalam
kelompok
Dalam fase ini
guru membagikan kartu berisi
informasi tentang sel darah sebagai penentuan kelompok siswa.
·
Fase 4: Membimbing kelompok bekerja dan
belajar
Dalam fase ini guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka
mengerjakan tugas mereka.
·
Fase 5: Evaluasi
Dalam fase ini guru meminta siswa
mempresentasikan hasil diskusi,
guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari
dengan memberikan soal dan penjelasan.
· Fase 6: Memberikan penghargaan
Dalam fase ini
guru memberikan penghargaan bagi kelompok
yang terbaik sesuai dengan kriteria guru.
2.5 Jenis-jenis Active Learning
Menurut Hamruni (2012),
Model Pembelajaran Active Learning dapat diterapkan menggunakan beberapa
metode, antara lain :
a.
True or False (Benar atau Salah)
Metode ini merupakan
aktifitas kolaboratif yang mengajak siswa untuk terlibat ke dalam materi secara
langsung.Metode ini meminta kepada siswa untuk menyatakan benar atau salah atas
pernyataan yang ditulis oleh guru pada masing-masing kartu.
Adapun langkah-langkah
yang ditempuh sebagai berikut:
1.Guru membuat list pernyataan yang berhubungan
dengan materi pelajaran, separohnya benar dan separohnya lagi salah.
Masing-masing pernyataan ditulis pada selembar kertas yang berbeda.Jumlah
lembar pernyataan disesuaikan dengan jumlah siswa.
2.Guru memberi setiap siswa satu kertas kemudian
mereka diminta untuk menentukan benar atau salah pernyataan tersebut.
Selanjutnya guru menjelaskan bahwa masing-masing dari mereka bebas menggunakan
cara apa saja untuk menentukan jawaban.
3.Setelah selesai, guru meminta siswa membaca
masing-masing pernyataan dan meminta jawaban dari mereka benar atau salah.
4.Guru memberi masukan untuk setiap jawaban dan
menegaskan bahwa yang dilakukan oleh siswa adalah bekerja bersama.
5.Guru menekankan kepada siswa bahwa kerja sama
dalam kelompok akan membantu kelas.
b.
Guided Teaching (Pembelajaran Terbimbing)
Metode ini merupakan aktifitas untuk
mengetahui tingkat pemahaman siswa atau untuk memperoleh hipotesa.Metode ini
meminta kepada siswa untuk membandingkan antara jawaban mereka dengan materi
yang telah disampaikan oleh guru.
Adapun
langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.Guru
menyampaikan beberapa pertanyaan kepada siswa untuk mengetahui pikiran dan
kemampuan yang mereka miliki.
2.Guru
memberi kesempatan beberapa menit kepada siswa untuk menjawab pertanyaan dengan
meminta mereka untuk bekerja berdua atau dalam kelompok kecil.
3.Guru
meminta siswa menyampaikan hasil jawaban mereka, kemudian guru mencatat
jawaban-jawaban mereka.
4.Guru
menyampaikan poin-poin utama dari materi, kemudian meminta siswa untuk
membandingkan jawaban mereka dengan poin-poin yang telah disampaikan. Setelah
itu, guru mencatat poin-poin yang dapat memperluas bahasan materi.
c. Card Sort (Cari Kawan)
Metode ini merupakan aktifitas kolaboratif
yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, karakteristik klasifikasi, fakta
tentang objek atau mereview informasi.Metode ini meminta kepada masing-masing
kelompok siswa untuk mempresentasikan isi kartu yang ada di kelompoknya.
Adapun
langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.Guru
membagi kertas yang berisi informasi kepada setiap siswa.
2.Guru
meminta siswa untuk bergerak dan berkeliling di dalam kelas untuk menemukan
kartu yang kategorinya sama.
3.Guru
meminta siswa mempresentasikan kategori masing-masing di depan kelas.
4.Guru
memberikan poin-poin penting terkait dengan bahan materi.
d.
The Power of Two (Gabungan Dua Kekuatan)
Metode ini merupakan
aktifitas pembelajaran yang digunakan untuk mendorong pembelajaran kooperatif dan
memperkuat pentingnya serta manfaat sinergi.Metode ini meminta kepada siswa
untuk menjawab pertanyaan dari guru secara individual, kemudian melakukan
sharing bersama seorang siswa di sebelahnya.
Adapun
langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.Guru mengajukan satu atau dua pertanyaan
kepada siswa yang menuntut perenungan dan pemikiran.
2.Guru meminta setiap siswa menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut secara individual.
3.Setelah selesai, guru meminta mereka untuk
berpasangan dan saling bertukar jawaban dan membahasnya.
4.Guru meminta pasangan-pasangan tersebut
membuat jawaban baru atas pertanyaan dan memperbaiki jawaban indiviual mereka.
5.Kemudian guru membandingkan jawaban-jawaban
mereka
e.
Rotating Roles (Permainan Bergilir)
Metode ini merupakan aktifitas yang memberikan
kesempatan kepada siswa untuk melatih kecakapan dalam bermain peran terhadap
situasi kehidupan nyata.Metode ini meminta kepada siswa untuk membuat skenario
kehidupan yang nyata berkaitan dengan materi yang sedang didiskusikan.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai
berikut:
1.Guru
membagi siswa dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari tiga
siswa.
2.Guru
memerintahkan setiap kelompok membuat tiga skenario kehidupan nyata yang
berkaitan dengan topik diskusi.
3.Kemudian
guru meminta satu anggota dari setiap kelompok untuk menyampaikan skenario
kepada kelompok lain. Selanjutnya, setiap tim mempunyai kesempatan untuk
latihan peran utama, dan dalam skenario tersebut guru konsentrasi pada
identifikasi pelaku utama dalam penggunaan konsep dan kecakapan serta bagaimana
pengembangannya.
4.Setelah
selesai, guru mengumpulkan seluruh kelompok untuk diskusi umum dari poin-poin
belajar skenario dan nilai aktifitas di dalamnya.
f.
Reading Guide
Pembelajaran
dilakukan berbasis bacaan (teks). Agar proses membaca ini bisa efektif, maka
guru memberikan pedoman (guide)
membaca. Pedoman ini berisi pertanyaan – pertanyaan yang harus dijawab siswa
berdasarkan isi bacaan (teks), bisa berisi tugas – tugas yang harus dilakukan
siswa dalam pembelajaran.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai
berikut:
1.Berilah siswa teks (bacaan) yang harus mereka pelajari,
akan lebih baik lagi bila ditunjukkan halamannya.
2.Mintalah peserta didik untuk membaca teks (bacaan) secara
individual, kemudian membuat resume mengenai topik – topik penting yang ada
dalam bacaan tersebut (berbentuk pointers).
3.Diskusikan topik – topik penting hasil temuan siswa dan
nyatakan bahwa ada sejumlah topik itu memang penting namun ada pula yang tidak
penting.
4.Selanjutnya guru membagikan memberikan lembaran pedoman
belajar dalam memahami teks (bacaan), biasanya berbentuk pertanyaan.
5.Para siswa diminta menjawab pertanyaan – pertanyaan yang
ada dalam lembar pedoman tersebut.
6.Diskusikan jawaban – jawaban siswa tersebut.
g.
Info Search
Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar di
luar kelas, keluar dari lingkungan kelas. Mereka bisa belajar di perpustakaan, warnet, mencari jurnal,
dan sumber – sumber belajar yang lain.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai
berikut:
1.Bagilah siswa dalam kelompok –
kelompok kecil, sekitar 2 atau 3 orang.
2.Berilah masing - masing kelompok pertanyaan atau tugas yang
bisa dicari jawabannya di tempat – tempat yang sudah ditunjukkan guru.
3.Pertanyaan atau tugas yang
diberikan sebaiknya disandarkan pada beberapa buku (leteratur).
4.Kelompok mengerjakan tugas atau
menjawab pertanyaan, dan sekitar 30 menit sebelum habis jam pelajaran mereka
harus kembali masuk ke dalam kelas.
5.Di kelas, masing – masing kelompok
melaporkan hasil belajarnya dalam mencari informasi diberbagai sumber belajar
tersebut.
6.Diskusikan temuan – temuan
kelompok tersebut
h.
Index Car Match
Metode ini adalah cara menyenangkan lagi aktif untuk meninjau ulang
materi pembelajaran. Selain itu memberi kesempatan pada peserta didik untuk berpasangan dan
memainkan kuis kepada kawan sekelas.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.Pada kartu indeks terpisah,
tulislah pertanyaan tentang apa pun yang diajarkan dalam kelas. Buatlah kartu
pertanyaan yang sesuai dengan jumlah siswa.
2.Pada kartu terpisah, tulislah
jawaban bagi setiap pertanyaan – pertanyaan tersebut.
3.Gabungkan dua lembar kartu dan
kocok bebrapa kali sampai benar – benar acak.
4.Berikan satu kartu pada setiap
peserta didik. Jelaskan bahwa ini adalah latihan permainan. Sebagian memegang
pertanyaan dan sebagian lain memegang jawaban.
5.Perintahkan peserta didik menemukan
kartu pemainnya. Ketika permainan dibentuk, perintahkan peserta didik yang
bermain utnuk mencari tempat duduk bersama.
i. Everyone
is A Teacher Here
Metode ini mudah dalam memperoleh pertisipasi kelas yang
besar dan tanggung jawab individu.Metode ini memberikan kesempatan pada
setiap peserta didik untuk bertindak sebagai seorang “pengajar” terhadap
peserta didik lain.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai
berikut:
1.Bagikan kartu indeks kepada setiap
peserta didik. Mintalah para peserta menulis sebuah pertanyaan yang mereka miliki tentang materi pelajaran
yang sedang dipelajari di dalam kelas atau topik khusus yang akan mereka
diskusikan di kelas.
2.Kumpulkan kartu, koscok dan
bagikan satu pada setiap siswa. Mintalah siswa membaca diam – diam pertanyaan
atau topik pada kartu dan pikirkan satu jawaban.
3.Panggilah sukarelawan yang akan
membaca dengan keras kartu yang mereka dapat dan memberi respons.
4.Setelah diberi respons, mintalah
yang lain di dalam kelas untuk menambahakan apa yang telah disumbang
sukarelawan.
5.Lanjutkan selama masih ada
sukarelawan.
j. Student
Created Case Study
Studi kasus merupakan salah satu di antara sekian metode
pembelajaran yang dianggap sangat baik. Satu tipe diskusi kasus menfokuskan isu
menyangkut suatu situasi nyata kasus atau contoh yang mengharuskan siswa untuk
mengambil tindakan, menyimpulkan manfaat yang dapat dipelajari dan cara – cara
mengendalikan atau menghindari situasi serupa pada waktu yang akan datang. Teknik berikut memungkinkan
peserta didik menciptakan studi kasus sendiri.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai
berikut:
1.Bagi kelas menjadi pasangan –
pansangan atau trio. Ajaklah mereka mengembangkan sebuah studi kasus dan sisa
kelas dapat menganalisis dan mendiskusikan.
2.Jelaskan bahwa tujuan studi kasus
adalah mempelajari topik dengan menguji situasi nyata atau contoh yang
merefleksikan topik.
3.Berikan waktu yang cukup bagi
seetiap pasangan atau trio untuk mengembangkan kasus atau isu untuk
didiskusikan atau suatu problem untuk dipecahkan, yaitu suatu masalah yang
relevan dengan materi pembelajaran.
4.Kemudian setiap pasangan membuat
rangkuman studi kasus, secara khusus detail kejadian yang mengarah pada
pemecahan masalah.
5.Ketika studi kasus selesai,
mintalah kelompok – kelompok agar mempresentasikan kepada kelas. Persilahkan
seorang anggota kelompok memimpin diskusi kasus.
k.
Point-Counterpoint
Metode ini merupakan sebuah teknik untuk merangsang diskusi dan
mendapatkan pemahaman lebih mendalam tentang berbagai isu yang kompleks. Format tersebut mirip dengan sebuah
perdebatan, namun tidak terlalu formal dan berjalan dengan lebih cepat.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai
berikut:
1.Pilihlah sebuah masalah yang
mempunya dua perspektif (sudut pandang) atau lebih.
2.Bagilah kelas ke dalam kelompok –
kelompok menurut jumlah perspektif yang telah ditetapkan, dan mintalah tiap
kelompok mengungkapkan mendiskusikan alasan – alasan yang melandasi sudut
pandang masing – masing tim. Doronglah mereka bekerja dengan patner tempat
duduk atau kelompok – kelompok inti yang kecil.
3.Gabungkan kembali seluruh kelas,
tetapi mintalah para anggota dari tiap kelompok untuk duduk bersama dengan
jarak antara sub – sub kelompok .
4.Jelaskan bahwa peserta didik bisa
memulai perdebatan . Setelah itu peserta didik mempunyai kesempatan
menyampaikan sebuah argument yang sesuai dengan posisi yang telah
ditentukan.Teruskan diskusi tersebut, dengan bergerak secara cepat maju –
mundur di antara kelompok – kelompok.
5.Simpulkan kegiatan tersebut dengan
membandingkan isu – isu sebagaimana Anda melihatnya. Berikan reaksi dan diskusi
lanjutan.
l. Students
Questions Have
Metode ini merupakan cara yang mudah untuk mempelajari tentang
keinginan dan harapan siswa. Cara ini menggunakan sebuah teknik mendapatkan
partisipasi melalui tulisan dari pada lisan atau percakapan.Harapan siswa ini
bisa dilihat dari jumlah centangan yang ada pada sebuah pertanyaan.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai
berikut:
1.Bagikan kartu kosong setiap siswa (kertas HVS dibagi 4
bagian).
2.Mintalah setiap siswa menulis beberapa pertanyaan yang
mereka miliki tentang pembelajaran yang sedang dipelajari (tidak usah
mencantumkan nama peserta didik).
3.Putarlah kartu tersebut searah jarum jam. Ketika setiap
kartu diedarkan pada peserta berikutnya, siswa harus membacanya dan memberikan
tanda centang pada kartu itu apabila kartu itu berisi pertanyaan yang setujui.
4.Saat kartu kembali pada penulisnya, setiap peserta berarti
telah membaca seluruh pertanyaan kelompok tersebut. Selanjutnya,
mengidentifikasi pertanyaan mana yang memperoleh suara terbanyak.Jawab masing –
masing pertanyaan tersebut dengan mengembangkan diskusi kelas.
5.Panggil juga beberapa peserta untuk berbagi pertanyaan
secara sukarela, sekalipun mereka tidak memperoleh suara terbanyak.
6.Kumpulkan semua kartu. Kartu tersebut mungkin berisi
pertanyaan yang mungkin dijawab oleh guru pada pertemuan berikutnya.
m.
Listening Team
Metode ini merupakan sebuah cara membantu peserta didik agar tetap
terfokus dan siap dalam pembelajaran yang berlangsung. Strategi Listening Team ini
menciptakan kelompok – kelompok kecil yang bertanggung jawab menjelaskan materi
pembelajaran sesuai dengan posisinya masing – masing.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai
berikut:
1.Bagilah peserta didik menjadi
empat tim, dan berilah tim – tim itu tugas ini:
Tim
|
Peranan
|
Tugas
|
A
|
Penanya
|
Setelah pelajaran yang didasarkan
ceramah selesai, paling tidak menanyakan dua pertanyaan mengenai materi yang
disampaikan
|
B
|
Setuju
|
Setelah pelajaran yang didasarkan
pada ceramah selesai, menyatakan poin – poin yang mereka sepakati dan
menjelaskan alasannya
|
C
|
Tidak Setuju
|
Setelah pelajaran yang didasarkan
pada ceramah selesai, mengomentari poin yang tidak mereka setujui dan
menjelaskan alasannya
|
D
|
Pemberi contoh
|
Setelah pelajaran yang didasarkan
pada ceramah selesai, memberi contoh – contoh kasus atau aplikasi materi.
|
2.Sampaikan materi pembelajaran
berbasis ceramah (kuliah). Setelah selesai, berilah tim waktu beberapa saat
untuk mendiskusikan tugas – tugas mereka.
3.Persilahkan tiap – tiap tim untuk
bertanya, menyepakati, menyanggah, memberi contoh, dan sebagainya. Strategi ini
akan memperoleh partisipasi peserta didik yang mencengangkan lebih daripada yang
pernah dibayangkan.
2.6 Kelebihan dan
Kelemahan Active Learning
Active
learning sebagai model dalam
pembelajaran mempunyai keuntungan sebagai berikut :
1.Peserta
didik lebih termotivasi
Model pembelajaranactive learning memungkinkan terjadinya
pembelajaran yang menyenangkan. Suasana yang menyenangkan merupakan faktor
motivasi untuk peserta didik. Lebih mudah menyampaikan materi ketika
peserta didik menikmatinya. Dengan melakukan hal yang
sedikit berbeda, peserta didik akan lebih termotivasi untuk berpartisipasi
dalam pembelajaran.
2.Mempunyai
lingkungan yang aman
Kelas
merupakan tempat di mana terjadi percobaan serta kegagalan-kegagalan.
Kita tidak hanya membolehkan terjadinya hal-hal tersebut, tetapi juga memberi
semangat bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.Resiko harus diambil
untuk mendapatkan sesuatu yang berharga.Pendidik dapat menyediakan
lingkungan yang aman melalui modelling dan setting batas- batas
perilaku dalam kelas.
3.Pertisipasi
oleh seluruh kelompok belajar
Peserta
didik merupakan bagian dari rencana pembelajaran.
Informasi tidak diberikan pada peserta didik, tetapi peserta didik
mencarinya.Beberapa kegiatan membutuhkan kekuatan, kecerdasan, dan membutuhkan
peserta didik untuk menjadi bagiannya.Semua mempunyai tempat dan berkontribusi
berdasarkan karakteristik masing-masing.
4.Setiap orang
bertanggungjawab dalam kegiatan belajarnya sendiri
Setiap orang
bertanggungjawab untuk memutuskan apakah sesuatu hal tepat untuk mereka. Setiap
orang dapat menginterpretasikan tindakan-tindakan untuk mereka sendiri dan
mengaplikasikannya sesuai dengan kondisi mereka.
5.Kegiatan
bersifat fleksibel dan ada relevansinya
Peraturan
dan bahasa boleh diubah menyesuaikan dengan tingkat kebutuhan. Dengan membuat
perubahan, kita dapat melakukan kegiatan yang relevan dengan berbagai
usia kelompok yang bervariasi dengan mengeksplorasi konsep yang sama.
6.Reseptif
meningkat
Dengan
menggunakan active learning sebagai model dalam
pembelajaran di mana prinsip-prinsip dan penerapan dari prinsip-prinsip
diekspresikan oleh peserta didik, informasi menjadi lebih mudah untuk diterima
dan diterapkan.
7.Pendapat induktif
distimulasi
Jawaban atas
pertanyaan tidak diberikan tetapi pertanyaan
tersebut dieksplorasi.Pertanyaan dan jawaban muncul dari peserta didik selama
kegiatan pembelajaran.
8.Partisipan
mengungkapkan proses berpikir mereka
Sementara
kegiatan diskusi berlangsung, pendidik dapat mengukur tingkat pemahaman peserta
didik.Dengan demikian pendidik dapat berkonsentrasi pada hal-hal yang harus
diberikan sesuai dengan kebutuhan.
9.Memberi
kesempatan untuk memperbaiki kesalahan
Jika peserta
didik melakukan kesalahan yang menyebabkan kegagalan, hentikan kegiatan
dan pikirkan alternatif lain dan mulai lagi kegiatan. Dengan demikian peserta
didik dapat belajar bahwa kesalahan dapat menjadi sesuatu hal yang
menguntungkan dan membimbing kita
untuk menjadi lebih baik.
10. Memberi
kesempatan untuk mengambil resiko
Peserta
didik merasa bebas untuk berpartisipasi dan belajar melalui keterlibatan mereka
karena mereka tahu bahwa kegiatan yang dilakukan
merupakan simulasi. Mengambil resiko merupakan hal yang sulit dalam
masyarakat yang mengidolakan pemenang. Dengan memberikan kesempatan pada
siswa untuk berpartisipasi tanpa tekanan untuk menjadi pemenang, kita telah
memberi kebebasan untuk mencoba tanpa merasa malu untuk melakukan kesalahan.
Sedangkan kelemahan-kelemahan dalam
penerapan model pembelajaranactive
learning adalah:
1.Keterbatasan
waktu
Waktu yang disediakan untuk
pembelajaran sudah ditentukan sebelumnya, sehingga untuk kegiatan pembelajaran
yang memakan waktu lama akan terputus menjadi dua
atau lebih pertemuan.
2.Kemungkinan
bertambahnya waktu untuk persiapan
Waktu yang digunakan untuk persiapan
kegiatan akan bertambah, baik waktu untuk merancang kegiatan maupun untuk
mempersiapkan agar peserta didik siap untuk melakukan kegiatan.
3.Ukuran kelas
yang besar
Kelas yang mempunyai jumlah
peserta didik yang relatif banyak akan mempersulit terlaksananya kegiatan
pembelajaran dengan active learning. Kegiatan diskusi tidak akan dapat
memperoleh hasil yang optimal.
4.Keterbatasan
materi, peralatan dan sumberdaya
Keterbatasan materi, peralatan yang
digunakan untuk melakukan kegiatan pembelajaran, serta sumberdaya akan
menghambat kelancaran penerapan active learning dalam pembelajaran.
5.Resiko
penerapan active learning
Hambatan terbesar adalah keengganan
pendidik untuk mengambil berbagai resiko diantaranya resiko peserta didik tidak
akan berpartisipasi, menggunakan kemampuan berpikir yang lebih tinggi atau
mempelajari konten yang cukup. Pendidik takut untuk dikritik dalam mengajar dan merasa kehilangan kendali kelasserta keterbatasan keterampila
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Pembelajaran aktif (active learning) untuk mengoptimalkan penggunaan semua
potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai
hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi mereka miliki. Di samping itu, pembelajaran
aktif juga untuk menjaga perhatian siswa atau anak didik agar tetap tertuju
pada proses pembelajaran. Dan dalam proses kegiatan
belajar mengajar akan lebih mudah dipahami serta lebih lama diingat siswa,
apabila siswa dilibatkan secara aktif baik mental, fisik, dan sosial. Dalam
pelaksanaan pembelajaran aktif guru dapat menggunakan berbagai metode yang
sesuai dengan kondisi siswa. Penggunaan metode belajar aktif dalam kegiatan
belajar mengajar akan lebih efektif apabila disesuaikan dengan kondisi belajar
dan kemampuan guru dalam melaksanakan metode tersebut.
3.1 Saran
Untuk mewujudkan pembelajaran yang inovatif maka dapat
digunakan model pembelajaran active learning sehingga proses pembelajarannya tidak hanya berpusat pada guru, tetapi siswa
juga harus terlibat aktif dalam proses pembelajaran sehingga pembelajaran akan
menjadi lebih bermakna. Dibutuhkan kecakapan guru dalam mengendalikan
kelas, keaktifan siswa dalam proses belajar, waktu dan fasilitas pendukung yang memadai dalam
penerapan pembelajaran
aktif.
Semoga dengan
makalah yang telah dibuat ini dapat memberi tambahan pengetahuan terkait model
pembelajaran aktif (active learning) sehingga guru dapat memilih dan
menerapkannya dengan baik dalam pembelajaran yang lebih inovatif dan bermakna.
DAFTAR PUSTAKA
Bellamy, L., Barry, W., &
Foster, S. (1999).A Learning Centered
Approach to EngineeringEducation for the 21st Century: The Workshop.
College of Engineering and AppliedSciences :Arizona
State University.
Bonwell, C.C. (1995). Center forTeaching and Learning,Active Learning: Creating excitement in the
classroom.St. Louis College of Pharmacy.
Hamruni. 2012. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta :
Insan Madani
Machmudah, Ummi. 2008. Active Learning Dalam Pembelajaran Bahasa
Arab. Malang : UIN-Malang
Press
Silberman,
Mel.(2004). Active Learning, 101
Strategi Pembelajaran Aktif, (terjemahan Sarjuli et al.). Yogyakarta:Yappendis.
Siregar,
Eveline dan Hartini Nara.(2010). Teori Belajar dan Pembelajaran.Jakarta:Ghalia Indonesia.
Thomas, J. (1972). The
variation of memory with time for information appearing during alecture.
Studies in Adult Education, 4, 57-62
Zaini, Hisyam. (2008). Strategi Pembelajaran Aktif.
Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.
STRATEGI PEMBELAJARAN
“ Model dan Strategi Pembelajaran
Active Learning ’’

DOSEN PEMBIMBING
Ibnu Athoillah,M.Pd.I.
Di Susun Oleh
:
M. Arifudin
M. Samsudin
Ilham Muslim
M. Hendra
Miftahul khoiri
Diah Lutfiana
F A K U L A T A
S A G A M A
I S L A M
UNIVERSITAS SUNAN GIRI SURABAYA
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembelajaran pada
dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik ke dalam proses belajar
sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang
diharapkan. Pembelajaran hendaknya memperhatikan kondisi individu anak karena
merekalah yang akan belajar. Anak didik merupakan individu yang berbeda satu
sama lain, memiliki keunikan masing-masing yang tidak sama dengan orang lain.
Oleh karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan
individual anak tersebut, sehingga pembelajaran benar-benar dapat merobah
kondisi anak dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak paham menjadi
paham serta dari yang berperilaku kurang baik menjadi baik.Kondisi riil anak
seperti ini, selama ini kurang mendapat perhatian di kalangan pendidik.Hal ini
terlihat dari perhatian sebagian guru/pendidik yang cenderung memperhatikan
kelas secara keseluruhan, tidak perorangan atau kelompok anak, sehingga perbedaan
individual kurang mendapat perhatian. Gejala yang lain terlihat pada kenyataan
banyaknya guru yang menggunakan metode pengajaran yang cenderung sama setiap
kali pertemuan di kelas berlangsung.
Pembelajaran yang
kurang memperhatikan perbedaan individual anak dan didasarkan pada keinginan
guru, akan sulit untuk dapat mengantarkan anak didik ke arah pencapaian tujuan
pembelajaran. Kondisi seperti inilah yang pada umumnya terjadi pada
pembelajaran konvensional.Konsekuensi dari pendekatan pembelajaran seperti ini
adalah terjadinya kesenjangan yang nyata antara anak yang cerdas dan anak yang
kurang cerdas dalam pencapaian tujuan pembelajaran.Kondisi seperti ini
mengakibatkan tidak diperolehnya ketuntasan dalam belajar, sehingga sistem
belajar tuntas terabaikan. Hal ini membuktikan terjadinya kegagalan dalam
proses pembelajaran di sekolah.
Menyadari
kenyataan seperti ini para ahli berupaya untuk mencari dan merumuskan suatu model pembelajaran yang dapat merangkul semua perbedaan yang
dimiliki oleh anak didik.Model pembelajaran
yang ditawarkan tersebut adalah strategi belajar aktif (active
learning).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latarbelakang dalam makalah, maka dapat
dirumuskan masalah yang akan dibahas sebagai berikut:
1.
Apakah yang dimaksud dengan model
pembelajaran Active Learning?
2.
Apa sajakah karakteristik dari Model
pembelajaran Active Learning?
3.
Apa sajakah prinsip-prinsip dari Model
pembelajaran Active Learning?
4. Bagaimana sintak-sintak atau
langkah-langkah dalam Model pembelajaran Active
Learning?
5.
Apa saja jenis-jenis dari Model
pembelajaran Active Learning?
6.
Apa sajakah kelebihan dan kelemahan Model
pembelajaran Active Learning?
1.3
Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut,
dapat dirumuskan beberapa tujuan :
1. Mengetahui pengertian dari Model
pembelajaran Active Learning
2. Mengetahui karakteristik dari Model
pembelajaran Active Learning
3. Mengetahui prinsip-prinsip dari Model
pembelajaran Active Learning
4. Mengetahui sintak atau
langkah-langkah dalam Model pembelajaran Active Learning
5. Mengetahui jenis-jenis Model
pembelajaran Active Learning
6. Mengetahui kelebihan dan kelemahan Model
pembelajaran Active Learning
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Model Pembelajaran Aktif (Active Learning)
Model pembelajaran
aktif adalah suatu model dalam
pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif menuju
belajar yang mandiri. Kemampuan belajar mandiri merupakan tujuan akhir dari
belajar aktif (active learning).Untuk dapat mencapai hal tersebut kegiatan
pembelajaran dirancang sedemikian rupa agar bermakna bagi siswa atau anak
didik.
Belajar aktif
merupakan perkembangan teori learning by
doing (1859-1952). Dewey menerapkan prinsip-prinsip “learning by doing”, bahwa siswa perlu terlibat dalam proses belajar
secara spontan. Dari rasa keingintahuan (curriositas) siswa terdapat hal-hal
yang belum diketahuinya, maka akan dapat mendorong keterlibatan siswa secara
aktif dalam suatu proses belajar. Belajar aktif berguna untuk menumbuhkan
kemampuan belajar aktif pada diri siswa serta menggali potensi siswa dan guru
untuk sama-sama berkembang dan berbagi
pengetahuan keterampilan, dan pengalaman.
Peran peserta
didik dan guru dalam konteks belajar aktif menjadi sangat penting. Guru
berperan aktif sebagai fasilitator yang membantu memudahkan siswa belajar,
sebagai pengelola yang mampu merancang dan melakasanakan kegiatan belajar
bermakna, serta mengelola sumber belajar yang diperlukan. Siswa juga terlibat
dalam proses belajar bersama guru karena siswa dibimbing, diajar dan dilatih
menjelajah, mencari mempertanyakan sesuatu menyelidiki jawaban atas suatu
pertanyaan, mengelola dan menyampaikan hsil perolehannya secara komunikatif.
Siswa diharapkan mampu memodifikasi pengetahuan yang baru diterima dengan
pengalaman dan pengetahuan yan pernah diterimanya.
Melalui model pembelajaran aktif, siswa diharapkan akan mampu mengenal
dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang mereka miliki. Di samping
itu, siswa secara penuh dan sadar dapat menggunakan potensi sumber belajar yang
terdapat di lingkungan sekitarnya, lebih terlatih untuk berprakarsa, berpikir
secara sistematis, krisis dan tanggap, sehingga dapat menyelesaikan masalah
sehari-hari melalui penelusuran informasi yang bermakna baginya.Belajar aktif
menuntut guru bekerja secara profesional, mengajar secara sistematis, dan
berdasarkan prnsip-prinsip pembelajaran yang efektif dan efisien. Artinya, guru
dapat merekayasa model pembelajaran yang dilaksanakan secara
sistematis dan menjadikan proses pembelajaran sebagai pengalaman yang bermakna
bagi siswa. Untuk itu, guru diharapkan memiliki kemampuan untuk:
a.Memanfaatkan sumber belajar dilingkungannya
secara optimal dalam proses pembelajaran
b. Berkreasi mengembangkan gagasan baru
c.Mengurangi kesenjangan pengetahuan yang
diperoleh siswa dari sekolah dengan pengetahuan yang diperoleh dari masyarakat
d.Mempelajari relevansi dan keterkaitan mata
pelajaran bidang ilmu dengan kebutuhan sehari-hari dalam masyarakat
e. Mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan
perilaku siswa secara bertahap dan utuh
f. Memberi kesempatan pada siswa untuk dapat
berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan
g. Menerapkan prinsip-prinsip belajar aktif.
Belajar aktif meliputi berbagai cara
untuk membuat siswa aktif sejak awal melakukan aktivitas-aktivitas yang
membangun kerja kelompok dan dalam waktu yang singkat membuat mereka berpikir
tentang materi pelajaran.Ketika peserta didik belajar dengan aktif berarti
mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Mereka secara aktif menggunakan
otak baik untuk menemukan ide pokok dari materi pelajaran, memecahkan persoalan
atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam suatu persoalan
yang ada dalam kehidupan nyata. Jadi pembelajaran aktif adalah suatu
model pembelajaran yang membuat siswa menjadi aktif, siswa diajak menyelesaikan
masalah dengan menggunakan pengetahuan yang mereka miliki dan menerapkan apa
yang telah mereka pelajari.
2.2 Karakteristik Active Learning
Pembelajaran aktif
adalah segala bentuk
pembelajaran yang memungkinkan siswaberperan
secara aktif dalam
proses pembelajaran itu
sendiri baik dalam
bentuk interaksiantar siswa
maupun siswa dengan pengajar
dalam proses pembelajarantersebut.
Menurut Bonwell (1995), pembelajaran
aktif memiliki karakteristik-karakteristik sebagaiberikut:
·
Penekanan
proses pembelajaran bukan
pada penyampaian informasi
olehpengajar melainkan pada
pengembangan keterampilan
pemikiran analitis dankritis terhadap topik atau permasalahan
yang dibahas.
·
Siswa tidak
hanya belajar secara pasif
tetapi mengerjakansesuatu yang
berkaitan dengan materi pelajaran.
·
Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan
sikap-sikap yang berhubungan dengan materipelajaran,
·
Siswa
lebih banyak dituntut
untuk berpikir kritis,
menganalisa danmelakukan
evaluasi,
·
Umpan-balik yang lebih cepat akan terjadi pada
proses pembelajaran.
Di samping karakteristik tersebut, secara
umum suatu proses
pembelajaran
aktifmemungkinkan diperolehnya beberapa
hal. Pertama, interaksi yang timbul
selama prosespembelajaran akan
menimbulkan positive interdependence, dimana konsolidasi pengetahuanyang dipelajari
hanya dapat diperoleh secara bersama-sama melalui eksplorasi aktif
dalambelajar. Kedua, setiap individu harus terlibat aktif dalam proses
pembelajaran dan guru harus mendapatkan
penilaian untuk setiap
siswa sehingga terdapat individualaccountability. Ketiga,
proses pembelajaran aktif
ini agar dapat berjalan
dengan efektifdiperlukan tingkat
kerjasama yang tinggi sehingga akan memupuk social
skills.
Dengan demikian
kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan sehingga penguasaan materijuga
meningkat. Suatu studi yang dilakukan Thomas (1972) menunjukkan bahwa setelah
10menit pelajaran, siswa
cenderung akan kehilangan
konsentrasinya untuk mendengarpelajaran yang diberikan
oleh pengajar secara
pasif. Hal ini tentu
akan makin membuatpembelajaran tidak
efektif jika pembelajaran
terus dilanjutkan tanpa
upaya-upaya untukmemperbaikinya.
Dengan menggunakan cara-cara pembelajaran aktif, hal tersebut dapatdihindari.Pemindahan peran
pada siswa untuk aktif belajar dapat mengurangikebosanan ini bahkan bisa menimbulkan
minat belajar yang besar pada siswa. Padaakhirnya hal
ini akan membuat
proses pembelajaran mencapai learning
outcomes yangdiinginkan.
2.3 Prinsip-Prinsip
Active Learning
Untuk
menjadikan aktif, maka pembelajaran harus direncanakan dan dilaksanakan secara
sistematis serta mengetahui prinsip-prinsipnya. Prisip-prinsip belajar aktif antara
lain:
1.
Stimulus
belajar
Yang
dimaksud dengan stimulus belajar adalah segala hal di luar individu itu untuk
mengadakan reaksi atau perbuatan belajar.Pesan yang diterima siswa dari guru
melalui informasi biasanya dalam bentuk stimulus.Stimulus tersebut dapat
berbentuk verbal atau bahasa, visual, auditif, taktik dan lain-lain.Stimulus
hendaknya disampaikan dengan upaya membantu agar siswa menerima pesan dengan
mudah.
2.
Perhatian
dan motivasi
Perhatian
adalah pemusatan tenaga psikis tertuju kepada suatu obyek. Sedangkan
yang dimaksud dengan motivasi adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri
siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan
belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai.
Perhatian dan motivasi akan berpengaruh
terhadap hasil belajar siswa, untuk memotivasi dan memberikan perhatian pada
kegiatan belajar, guru dapat melakukan berbagai model pembelajaran yang sesuai
dengan kemampuan dan pembelajaran yang menyenangkan. Motivasi belajar yang diberikan oleh
guru tidak akan berarti tanpa adanya perhatian dan motivasi siswa.
Ada beberapa cara untuk menumbuhkan perhatian dan motivasi, antara lain melalui cara mengajar yang bervariasi, mengadakan pengulangan informasi, memberikan stimulus baru melalui pertanyaan kepada siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan keinginan belajarnya, menggunakan media dan alat bantu yang menarik perhatian siswa seperti gambar, foto, diagram dan lain-lain. Secara umum siswa akan terangsang untuk belajar apabila ia melihat bahwa situasi belajar mengajar cenderung memuaskan dirinya sesuai dengan kebutuhannya.
Ada beberapa cara untuk menumbuhkan perhatian dan motivasi, antara lain melalui cara mengajar yang bervariasi, mengadakan pengulangan informasi, memberikan stimulus baru melalui pertanyaan kepada siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan keinginan belajarnya, menggunakan media dan alat bantu yang menarik perhatian siswa seperti gambar, foto, diagram dan lain-lain. Secara umum siswa akan terangsang untuk belajar apabila ia melihat bahwa situasi belajar mengajar cenderung memuaskan dirinya sesuai dengan kebutuhannya.
3.
Respon
yang dipelajari
Belajar
adalah proses belajar yang aktif, sehingga apabila tidak dilibatkan dalam
berbagai kegiatan belajar sebagai respon siswa terhadap stimulus guru, maka
tidak mungkin siswa dapat mencapai hasil belajar yang dikehendaki.
Keterlibatan atau respon siswa terhadap stimulus guru bisa meliputi berbagai bentuk seperti perhatian, proses internal terhadap informasi, tindakan nyata dalam bentuk partisipasi kegiatan belajar seperti memecahkan masalah, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, menilai kemampuan dirinya dalam menguasai informasi, melatih diri dalam menguasai informasi yang diberikan oleh guru dan lain-lain.
Keterlibatan atau respon siswa terhadap stimulus guru bisa meliputi berbagai bentuk seperti perhatian, proses internal terhadap informasi, tindakan nyata dalam bentuk partisipasi kegiatan belajar seperti memecahkan masalah, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, menilai kemampuan dirinya dalam menguasai informasi, melatih diri dalam menguasai informasi yang diberikan oleh guru dan lain-lain.
4.
Penguatan
Setiap
tingkah laku yang diikuti oleh kepuasan terhadap bebutuhan siswa akan mempunyai
kecenderungan untuk diulang kembali. Sumber penguat belajar untuk pemuasan
kebutuhan yang berasal dari luar adalah nilai, pengakuan prestasi siswa,
persetujuan pendapat siswa, pemberian hadiah dan lain-lain.
5.
Asosiasi
Secara
sederhana, berfikir asosiatif adalah berfikir dengan cara mengasosiasikan
sesuai dengan lainnya. Berfikir asosiatif itu merupakan proses pembentukan
hubungan antara rangsangan dengan respon.Asosiasi dapat dibentuk melalui pemberian bahan yang
bermakna, berorientasi kepada pengetahuan yang telah dimiliki siswa, pemberian
contoh yang jelas, pemberian latihan yang jelas, pemberian latihan yang
teratur, pemecahan masalah yang serupa, dilakukan dalam situasi yang
menyenangkan.Di sini siswa dihadapkan pada situasi baru yang dapat menuntut
pemecahan masalah melalui informasi yang telah dimilikinya.
2.4 Sintak atau
Langkah-Langkah Active Learning
Pembelajaran aktif (Active Learning) dimaksudkan untuk
mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga
semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan
karakteristik pribadi yang mereka miliki. Disamping itu, pembelajaran aktif (Active Learning) juga dimaksudkan untuk menjaga
perhatian siswa agar tetap tertuju pada proses pembelajaran. Menurut Machmudah (2008),berikut adalah sintak atau
langkah-langkah
model pembelajaran aktif (Active Learning) :
· Fase 1: Menyampaikan tujuan dan motivasi
siswa
Dalam fase
ini guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai
pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa. Tujuan belajar yang disampaikan
adalah untuk memahami sel darah pada sistem peredaran darah.
·
Fase 2: Menyajikan informasi
Dalam fase ini
guru menyampaikan penjelasan
umum tentang peredaran darah kepada
siswa.
·
Fase 3: Mengorganisasikan siswa ke dalam
kelompok
Dalam fase ini
guru membagikan kartu berisi
informasi tentang sel darah sebagai penentuan kelompok siswa.
·
Fase 4: Membimbing kelompok bekerja dan
belajar
Dalam fase ini guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka
mengerjakan tugas mereka.
·
Fase 5: Evaluasi
Dalam fase ini guru meminta siswa
mempresentasikan hasil diskusi,
guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari
dengan memberikan soal dan penjelasan.
· Fase 6: Memberikan penghargaan
Dalam fase ini
guru memberikan penghargaan bagi kelompok
yang terbaik sesuai dengan kriteria guru.
2.5 Jenis-jenis Active Learning
Menurut Hamruni (2012),
Model Pembelajaran Active Learning dapat diterapkan menggunakan beberapa
metode, antara lain :
a.
True or False (Benar atau Salah)
Metode ini merupakan
aktifitas kolaboratif yang mengajak siswa untuk terlibat ke dalam materi secara
langsung.Metode ini meminta kepada siswa untuk menyatakan benar atau salah atas
pernyataan yang ditulis oleh guru pada masing-masing kartu.
Adapun langkah-langkah
yang ditempuh sebagai berikut:
1.Guru membuat list pernyataan yang berhubungan
dengan materi pelajaran, separohnya benar dan separohnya lagi salah.
Masing-masing pernyataan ditulis pada selembar kertas yang berbeda.Jumlah
lembar pernyataan disesuaikan dengan jumlah siswa.
2.Guru memberi setiap siswa satu kertas kemudian
mereka diminta untuk menentukan benar atau salah pernyataan tersebut.
Selanjutnya guru menjelaskan bahwa masing-masing dari mereka bebas menggunakan
cara apa saja untuk menentukan jawaban.
3.Setelah selesai, guru meminta siswa membaca
masing-masing pernyataan dan meminta jawaban dari mereka benar atau salah.
4.Guru memberi masukan untuk setiap jawaban dan
menegaskan bahwa yang dilakukan oleh siswa adalah bekerja bersama.
5.Guru menekankan kepada siswa bahwa kerja sama
dalam kelompok akan membantu kelas.
b.
Guided Teaching (Pembelajaran Terbimbing)
Metode ini merupakan aktifitas untuk
mengetahui tingkat pemahaman siswa atau untuk memperoleh hipotesa.Metode ini
meminta kepada siswa untuk membandingkan antara jawaban mereka dengan materi
yang telah disampaikan oleh guru.
Adapun
langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.Guru
menyampaikan beberapa pertanyaan kepada siswa untuk mengetahui pikiran dan
kemampuan yang mereka miliki.
2.Guru
memberi kesempatan beberapa menit kepada siswa untuk menjawab pertanyaan dengan
meminta mereka untuk bekerja berdua atau dalam kelompok kecil.
3.Guru
meminta siswa menyampaikan hasil jawaban mereka, kemudian guru mencatat
jawaban-jawaban mereka.
4.Guru
menyampaikan poin-poin utama dari materi, kemudian meminta siswa untuk
membandingkan jawaban mereka dengan poin-poin yang telah disampaikan. Setelah
itu, guru mencatat poin-poin yang dapat memperluas bahasan materi.
c. Card Sort (Cari Kawan)
Metode ini merupakan aktifitas kolaboratif
yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, karakteristik klasifikasi, fakta
tentang objek atau mereview informasi.Metode ini meminta kepada masing-masing
kelompok siswa untuk mempresentasikan isi kartu yang ada di kelompoknya.
Adapun
langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.Guru
membagi kertas yang berisi informasi kepada setiap siswa.
2.Guru
meminta siswa untuk bergerak dan berkeliling di dalam kelas untuk menemukan
kartu yang kategorinya sama.
3.Guru
meminta siswa mempresentasikan kategori masing-masing di depan kelas.
4.Guru
memberikan poin-poin penting terkait dengan bahan materi.
d.
The Power of Two (Gabungan Dua Kekuatan)
Metode ini merupakan
aktifitas pembelajaran yang digunakan untuk mendorong pembelajaran kooperatif dan
memperkuat pentingnya serta manfaat sinergi.Metode ini meminta kepada siswa
untuk menjawab pertanyaan dari guru secara individual, kemudian melakukan
sharing bersama seorang siswa di sebelahnya.
Adapun
langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.Guru mengajukan satu atau dua pertanyaan
kepada siswa yang menuntut perenungan dan pemikiran.
2.Guru meminta setiap siswa menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut secara individual.
3.Setelah selesai, guru meminta mereka untuk
berpasangan dan saling bertukar jawaban dan membahasnya.
4.Guru meminta pasangan-pasangan tersebut
membuat jawaban baru atas pertanyaan dan memperbaiki jawaban indiviual mereka.
5.Kemudian guru membandingkan jawaban-jawaban
mereka
e.
Rotating Roles (Permainan Bergilir)
Metode ini merupakan aktifitas yang memberikan
kesempatan kepada siswa untuk melatih kecakapan dalam bermain peran terhadap
situasi kehidupan nyata.Metode ini meminta kepada siswa untuk membuat skenario
kehidupan yang nyata berkaitan dengan materi yang sedang didiskusikan.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai
berikut:
1.Guru
membagi siswa dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari tiga
siswa.
2.Guru
memerintahkan setiap kelompok membuat tiga skenario kehidupan nyata yang
berkaitan dengan topik diskusi.
3.Kemudian
guru meminta satu anggota dari setiap kelompok untuk menyampaikan skenario
kepada kelompok lain. Selanjutnya, setiap tim mempunyai kesempatan untuk
latihan peran utama, dan dalam skenario tersebut guru konsentrasi pada
identifikasi pelaku utama dalam penggunaan konsep dan kecakapan serta bagaimana
pengembangannya.
4.Setelah
selesai, guru mengumpulkan seluruh kelompok untuk diskusi umum dari poin-poin
belajar skenario dan nilai aktifitas di dalamnya.
f.
Reading Guide
Pembelajaran
dilakukan berbasis bacaan (teks). Agar proses membaca ini bisa efektif, maka
guru memberikan pedoman (guide)
membaca. Pedoman ini berisi pertanyaan – pertanyaan yang harus dijawab siswa
berdasarkan isi bacaan (teks), bisa berisi tugas – tugas yang harus dilakukan
siswa dalam pembelajaran.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai
berikut:
1.Berilah siswa teks (bacaan) yang harus mereka pelajari,
akan lebih baik lagi bila ditunjukkan halamannya.
2.Mintalah peserta didik untuk membaca teks (bacaan) secara
individual, kemudian membuat resume mengenai topik – topik penting yang ada
dalam bacaan tersebut (berbentuk pointers).
3.Diskusikan topik – topik penting hasil temuan siswa dan
nyatakan bahwa ada sejumlah topik itu memang penting namun ada pula yang tidak
penting.
4.Selanjutnya guru membagikan memberikan lembaran pedoman
belajar dalam memahami teks (bacaan), biasanya berbentuk pertanyaan.
5.Para siswa diminta menjawab pertanyaan – pertanyaan yang
ada dalam lembar pedoman tersebut.
6.Diskusikan jawaban – jawaban siswa tersebut.
g.
Info Search
Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar di
luar kelas, keluar dari lingkungan kelas. Mereka bisa belajar di perpustakaan, warnet, mencari jurnal,
dan sumber – sumber belajar yang lain.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai
berikut:
1.Bagilah siswa dalam kelompok –
kelompok kecil, sekitar 2 atau 3 orang.
2.Berilah masing - masing kelompok pertanyaan atau tugas yang
bisa dicari jawabannya di tempat – tempat yang sudah ditunjukkan guru.
3.Pertanyaan atau tugas yang
diberikan sebaiknya disandarkan pada beberapa buku (leteratur).
4.Kelompok mengerjakan tugas atau
menjawab pertanyaan, dan sekitar 30 menit sebelum habis jam pelajaran mereka
harus kembali masuk ke dalam kelas.
5.Di kelas, masing – masing kelompok
melaporkan hasil belajarnya dalam mencari informasi diberbagai sumber belajar
tersebut.
6.Diskusikan temuan – temuan
kelompok tersebut
h.
Index Car Match
Metode ini adalah cara menyenangkan lagi aktif untuk meninjau ulang
materi pembelajaran. Selain itu memberi kesempatan pada peserta didik untuk berpasangan dan
memainkan kuis kepada kawan sekelas.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.Pada kartu indeks terpisah,
tulislah pertanyaan tentang apa pun yang diajarkan dalam kelas. Buatlah kartu
pertanyaan yang sesuai dengan jumlah siswa.
2.Pada kartu terpisah, tulislah
jawaban bagi setiap pertanyaan – pertanyaan tersebut.
3.Gabungkan dua lembar kartu dan
kocok bebrapa kali sampai benar – benar acak.
4.Berikan satu kartu pada setiap
peserta didik. Jelaskan bahwa ini adalah latihan permainan. Sebagian memegang
pertanyaan dan sebagian lain memegang jawaban.
5.Perintahkan peserta didik menemukan
kartu pemainnya. Ketika permainan dibentuk, perintahkan peserta didik yang
bermain utnuk mencari tempat duduk bersama.
i. Everyone
is A Teacher Here
Metode ini mudah dalam memperoleh pertisipasi kelas yang
besar dan tanggung jawab individu.Metode ini memberikan kesempatan pada
setiap peserta didik untuk bertindak sebagai seorang “pengajar” terhadap
peserta didik lain.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai
berikut:
1.Bagikan kartu indeks kepada setiap
peserta didik. Mintalah para peserta menulis sebuah pertanyaan yang mereka miliki tentang materi pelajaran
yang sedang dipelajari di dalam kelas atau topik khusus yang akan mereka
diskusikan di kelas.
2.Kumpulkan kartu, koscok dan
bagikan satu pada setiap siswa. Mintalah siswa membaca diam – diam pertanyaan
atau topik pada kartu dan pikirkan satu jawaban.
3.Panggilah sukarelawan yang akan
membaca dengan keras kartu yang mereka dapat dan memberi respons.
4.Setelah diberi respons, mintalah
yang lain di dalam kelas untuk menambahakan apa yang telah disumbang
sukarelawan.
5.Lanjutkan selama masih ada
sukarelawan.
j. Student
Created Case Study
Studi kasus merupakan salah satu di antara sekian metode
pembelajaran yang dianggap sangat baik. Satu tipe diskusi kasus menfokuskan isu
menyangkut suatu situasi nyata kasus atau contoh yang mengharuskan siswa untuk
mengambil tindakan, menyimpulkan manfaat yang dapat dipelajari dan cara – cara
mengendalikan atau menghindari situasi serupa pada waktu yang akan datang. Teknik berikut memungkinkan
peserta didik menciptakan studi kasus sendiri.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai
berikut:
1.Bagi kelas menjadi pasangan –
pansangan atau trio. Ajaklah mereka mengembangkan sebuah studi kasus dan sisa
kelas dapat menganalisis dan mendiskusikan.
2.Jelaskan bahwa tujuan studi kasus
adalah mempelajari topik dengan menguji situasi nyata atau contoh yang
merefleksikan topik.
3.Berikan waktu yang cukup bagi
seetiap pasangan atau trio untuk mengembangkan kasus atau isu untuk
didiskusikan atau suatu problem untuk dipecahkan, yaitu suatu masalah yang
relevan dengan materi pembelajaran.
4.Kemudian setiap pasangan membuat
rangkuman studi kasus, secara khusus detail kejadian yang mengarah pada
pemecahan masalah.
5.Ketika studi kasus selesai,
mintalah kelompok – kelompok agar mempresentasikan kepada kelas. Persilahkan
seorang anggota kelompok memimpin diskusi kasus.
k.
Point-Counterpoint
Metode ini merupakan sebuah teknik untuk merangsang diskusi dan
mendapatkan pemahaman lebih mendalam tentang berbagai isu yang kompleks. Format tersebut mirip dengan sebuah
perdebatan, namun tidak terlalu formal dan berjalan dengan lebih cepat.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai
berikut:
1.Pilihlah sebuah masalah yang
mempunya dua perspektif (sudut pandang) atau lebih.
2.Bagilah kelas ke dalam kelompok –
kelompok menurut jumlah perspektif yang telah ditetapkan, dan mintalah tiap
kelompok mengungkapkan mendiskusikan alasan – alasan yang melandasi sudut
pandang masing – masing tim. Doronglah mereka bekerja dengan patner tempat
duduk atau kelompok – kelompok inti yang kecil.
3.Gabungkan kembali seluruh kelas,
tetapi mintalah para anggota dari tiap kelompok untuk duduk bersama dengan
jarak antara sub – sub kelompok .
4.Jelaskan bahwa peserta didik bisa
memulai perdebatan . Setelah itu peserta didik mempunyai kesempatan
menyampaikan sebuah argument yang sesuai dengan posisi yang telah
ditentukan.Teruskan diskusi tersebut, dengan bergerak secara cepat maju –
mundur di antara kelompok – kelompok.
5.Simpulkan kegiatan tersebut dengan
membandingkan isu – isu sebagaimana Anda melihatnya. Berikan reaksi dan diskusi
lanjutan.
l. Students
Questions Have
Metode ini merupakan cara yang mudah untuk mempelajari tentang
keinginan dan harapan siswa. Cara ini menggunakan sebuah teknik mendapatkan
partisipasi melalui tulisan dari pada lisan atau percakapan.Harapan siswa ini
bisa dilihat dari jumlah centangan yang ada pada sebuah pertanyaan.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai
berikut:
1.Bagikan kartu kosong setiap siswa (kertas HVS dibagi 4
bagian).
2.Mintalah setiap siswa menulis beberapa pertanyaan yang
mereka miliki tentang pembelajaran yang sedang dipelajari (tidak usah
mencantumkan nama peserta didik).
3.Putarlah kartu tersebut searah jarum jam. Ketika setiap
kartu diedarkan pada peserta berikutnya, siswa harus membacanya dan memberikan
tanda centang pada kartu itu apabila kartu itu berisi pertanyaan yang setujui.
4.Saat kartu kembali pada penulisnya, setiap peserta berarti
telah membaca seluruh pertanyaan kelompok tersebut. Selanjutnya,
mengidentifikasi pertanyaan mana yang memperoleh suara terbanyak.Jawab masing –
masing pertanyaan tersebut dengan mengembangkan diskusi kelas.
5.Panggil juga beberapa peserta untuk berbagi pertanyaan
secara sukarela, sekalipun mereka tidak memperoleh suara terbanyak.
6.Kumpulkan semua kartu. Kartu tersebut mungkin berisi
pertanyaan yang mungkin dijawab oleh guru pada pertemuan berikutnya.
m.
Listening Team
Metode ini merupakan sebuah cara membantu peserta didik agar tetap
terfokus dan siap dalam pembelajaran yang berlangsung. Strategi Listening Team ini
menciptakan kelompok – kelompok kecil yang bertanggung jawab menjelaskan materi
pembelajaran sesuai dengan posisinya masing – masing.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai
berikut:
1.Bagilah peserta didik menjadi
empat tim, dan berilah tim – tim itu tugas ini:
Tim
|
Peranan
|
Tugas
|
A
|
Penanya
|
Setelah pelajaran yang didasarkan
ceramah selesai, paling tidak menanyakan dua pertanyaan mengenai materi yang
disampaikan
|
B
|
Setuju
|
Setelah pelajaran yang didasarkan
pada ceramah selesai, menyatakan poin – poin yang mereka sepakati dan
menjelaskan alasannya
|
C
|
Tidak Setuju
|
Setelah pelajaran yang didasarkan
pada ceramah selesai, mengomentari poin yang tidak mereka setujui dan
menjelaskan alasannya
|
D
|
Pemberi contoh
|
Setelah pelajaran yang didasarkan
pada ceramah selesai, memberi contoh – contoh kasus atau aplikasi materi.
|
2.Sampaikan materi pembelajaran
berbasis ceramah (kuliah). Setelah selesai, berilah tim waktu beberapa saat
untuk mendiskusikan tugas – tugas mereka.
3.Persilahkan tiap – tiap tim untuk
bertanya, menyepakati, menyanggah, memberi contoh, dan sebagainya. Strategi ini
akan memperoleh partisipasi peserta didik yang mencengangkan lebih daripada yang
pernah dibayangkan.
2.6 Kelebihan dan
Kelemahan Active Learning
Active
learning sebagai model dalam
pembelajaran mempunyai keuntungan sebagai berikut :
1.Peserta
didik lebih termotivasi
Model pembelajaranactive learning memungkinkan terjadinya
pembelajaran yang menyenangkan. Suasana yang menyenangkan merupakan faktor
motivasi untuk peserta didik. Lebih mudah menyampaikan materi ketika
peserta didik menikmatinya. Dengan melakukan hal yang
sedikit berbeda, peserta didik akan lebih termotivasi untuk berpartisipasi
dalam pembelajaran.
2.Mempunyai
lingkungan yang aman
Kelas
merupakan tempat di mana terjadi percobaan serta kegagalan-kegagalan.
Kita tidak hanya membolehkan terjadinya hal-hal tersebut, tetapi juga memberi
semangat bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.Resiko harus diambil
untuk mendapatkan sesuatu yang berharga.Pendidik dapat menyediakan
lingkungan yang aman melalui modelling dan setting batas- batas
perilaku dalam kelas.
3.Pertisipasi
oleh seluruh kelompok belajar
Peserta
didik merupakan bagian dari rencana pembelajaran.
Informasi tidak diberikan pada peserta didik, tetapi peserta didik
mencarinya.Beberapa kegiatan membutuhkan kekuatan, kecerdasan, dan membutuhkan
peserta didik untuk menjadi bagiannya.Semua mempunyai tempat dan berkontribusi
berdasarkan karakteristik masing-masing.
4.Setiap orang
bertanggungjawab dalam kegiatan belajarnya sendiri
Setiap orang
bertanggungjawab untuk memutuskan apakah sesuatu hal tepat untuk mereka. Setiap
orang dapat menginterpretasikan tindakan-tindakan untuk mereka sendiri dan
mengaplikasikannya sesuai dengan kondisi mereka.
5.Kegiatan
bersifat fleksibel dan ada relevansinya
Peraturan
dan bahasa boleh diubah menyesuaikan dengan tingkat kebutuhan. Dengan membuat
perubahan, kita dapat melakukan kegiatan yang relevan dengan berbagai
usia kelompok yang bervariasi dengan mengeksplorasi konsep yang sama.
6.Reseptif
meningkat
Dengan
menggunakan active learning sebagai model dalam
pembelajaran di mana prinsip-prinsip dan penerapan dari prinsip-prinsip
diekspresikan oleh peserta didik, informasi menjadi lebih mudah untuk diterima
dan diterapkan.
7.Pendapat induktif
distimulasi
Jawaban atas
pertanyaan tidak diberikan tetapi pertanyaan
tersebut dieksplorasi.Pertanyaan dan jawaban muncul dari peserta didik selama
kegiatan pembelajaran.
8.Partisipan
mengungkapkan proses berpikir mereka
Sementara
kegiatan diskusi berlangsung, pendidik dapat mengukur tingkat pemahaman peserta
didik.Dengan demikian pendidik dapat berkonsentrasi pada hal-hal yang harus
diberikan sesuai dengan kebutuhan.
9.Memberi
kesempatan untuk memperbaiki kesalahan
Jika peserta
didik melakukan kesalahan yang menyebabkan kegagalan, hentikan kegiatan
dan pikirkan alternatif lain dan mulai lagi kegiatan. Dengan demikian peserta
didik dapat belajar bahwa kesalahan dapat menjadi sesuatu hal yang
menguntungkan dan membimbing kita
untuk menjadi lebih baik.
10. Memberi
kesempatan untuk mengambil resiko
Peserta
didik merasa bebas untuk berpartisipasi dan belajar melalui keterlibatan mereka
karena mereka tahu bahwa kegiatan yang dilakukan
merupakan simulasi. Mengambil resiko merupakan hal yang sulit dalam
masyarakat yang mengidolakan pemenang. Dengan memberikan kesempatan pada
siswa untuk berpartisipasi tanpa tekanan untuk menjadi pemenang, kita telah
memberi kebebasan untuk mencoba tanpa merasa malu untuk melakukan kesalahan.
Sedangkan kelemahan-kelemahan dalam
penerapan model pembelajaranactive
learning adalah:
1.Keterbatasan
waktu
Waktu yang disediakan untuk
pembelajaran sudah ditentukan sebelumnya, sehingga untuk kegiatan pembelajaran
yang memakan waktu lama akan terputus menjadi dua
atau lebih pertemuan.
2.Kemungkinan
bertambahnya waktu untuk persiapan
Waktu yang digunakan untuk persiapan
kegiatan akan bertambah, baik waktu untuk merancang kegiatan maupun untuk
mempersiapkan agar peserta didik siap untuk melakukan kegiatan.
3.Ukuran kelas
yang besar
Kelas yang mempunyai jumlah
peserta didik yang relatif banyak akan mempersulit terlaksananya kegiatan
pembelajaran dengan active learning. Kegiatan diskusi tidak akan dapat
memperoleh hasil yang optimal.
4.Keterbatasan
materi, peralatan dan sumberdaya
Keterbatasan materi, peralatan yang
digunakan untuk melakukan kegiatan pembelajaran, serta sumberdaya akan
menghambat kelancaran penerapan active learning dalam pembelajaran.
5.Resiko
penerapan active learning
Hambatan terbesar adalah keengganan
pendidik untuk mengambil berbagai resiko diantaranya resiko peserta didik tidak
akan berpartisipasi, menggunakan kemampuan berpikir yang lebih tinggi atau
mempelajari konten yang cukup. Pendidik takut untuk dikritik dalam mengajar dan merasa kehilangan kendali kelasserta keterbatasan keterampilan.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Pembelajaran aktif (active learning) untuk mengoptimalkan penggunaan semua
potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai
hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi mereka miliki. Di samping itu, pembelajaran
aktif juga untuk menjaga perhatian siswa atau anak didik agar tetap tertuju
pada proses pembelajaran. Dan dalam proses kegiatan
belajar mengajar akan lebih mudah dipahami serta lebih lama diingat siswa,
apabila siswa dilibatkan secara aktif baik mental, fisik, dan sosial. Dalam
pelaksanaan pembelajaran aktif guru dapat menggunakan berbagai metode yang
sesuai dengan kondisi siswa. Penggunaan metode belajar aktif dalam kegiatan
belajar mengajar akan lebih efektif apabila disesuaikan dengan kondisi belajar
dan kemampuan guru dalam melaksanakan metode tersebut.
3.1 Saran
Untuk mewujudkan pembelajaran yang inovatif maka dapat
digunakan model pembelajaran active learning sehingga proses pembelajarannya tidak hanya berpusat pada guru, tetapi siswa
juga harus terlibat aktif dalam proses pembelajaran sehingga pembelajaran akan
menjadi lebih bermakna. Dibutuhkan kecakapan guru dalam mengendalikan
kelas, keaktifan siswa dalam proses belajar, waktu dan fasilitas pendukung yang memadai dalam
penerapan pembelajaran
aktif.
Semoga dengan
makalah yang telah dibuat ini dapat memberi tambahan pengetahuan terkait model
pembelajaran aktif (active learning) sehingga guru dapat memilih dan
menerapkannya dengan baik dalam pembelajaran yang lebih inovatif dan bermakna.
DAFTAR PUSTAKA
Bellamy, L., Barry, W., &
Foster, S. (1999).A Learning Centered
Approach to EngineeringEducation for the 21st Century: The Workshop.
College of Engineering and AppliedSciences :Arizona
State University.
Bonwell, C.C. (1995). Center forTeaching and Learning,Active Learning: Creating excitement in the
classroom.St. Louis College of Pharmacy.
Hamruni. 2012. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta :
Insan Madani
Machmudah, Ummi. 2008. Active Learning Dalam Pembelajaran Bahasa
Arab. Malang : UIN-Malang
Press
Silberman,
Mel.(2004). Active Learning, 101
Strategi Pembelajaran Aktif, (terjemahan Sarjuli et al.). Yogyakarta:Yappendis.
Siregar,
Eveline dan Hartini Nara.(2010). Teori Belajar dan Pembelajaran.Jakarta:Ghalia Indonesia.
Thomas, J. (1972). The
variation of memory with time for information appearing during alecture.
Studies in Adult Education, 4, 57-62
Zaini, Hisyam. (2008). Strategi Pembelajaran Aktif.
Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar