“ EVALUASI PEMBELAJARAN
”
Pemberian Skor & Sistem Penilaian
DOSEN PEMBIMBING
BUDI PURWANINGSIH, M.Pd.I
Di Susun Oleh
:
M. Samsudin 201305010075
Durrotin
Nasihah 201305010137
M.Hendra 201305010134
F A K U L A T A S A G A M A I S L A M
UNIVERSITAS SUNAN GIRI SURABAYA
2015
KATA
PENGANTAR
Puji syukur
penyusun panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Pemberian Skor dan Sistem Penilaian”. Makalah ini di ajukan
guna memenuhi tugas mata kuliah Evaluasi Pembelajaran.
Kami mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat
diselesaikan sesuai dengan waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah ini.Semoga makalah ini memberikan informasi bagi
masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan khususnya di
bidang Evaluasi Pembelajaran.
Sidoarjo, 29 Oktober 2015
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Mendidik adalah tugas
utama seorang Guru, di dalam mendidik terdapat kriteria-kriteria tertentu dalam
menentukan apakah siswa atau siswi yang didik tersebut berhasil dalam mencapai
kompetensi mata pelajaran yang di pelajari. Dalam menentukan keberhasilan
tersebut guru harus bisa memberi penskoran dan penilaian yang adil dan obyektif
kepada siswa dan siswinya .
Setelah kita melakukan
kegiatan tes terhadap siswa, kegiatan berikutnya adalah memberikan skor pada
setiap lembar jawaban siswa. Kegiatan ini harus dilakukan dengan cermat karena
menjadi dasar bagi kegiatan pengolahan hasil tes sampai menjadi nilai prestasi.
Sebelum melakukan tes, sebaiknya Anda sudah menyusun teknik pemberian skor
(penskoran). Bahkan sebaiknya Anda sudah berpikir strategi pemberian skor sejak
perumusan kalimat pada setiap butir soal. Pada kegiatan belajar ini akan
disajikan pemberian skor pada tes domain kognitif, afektif, dan psikomotor
sesuai dengan pedoman yang telah dikeluarkan oleh Diknas (2004) yang telah
dimodifikasi. Membuat pedoman penskoran sangat diperlukan, terutama untuk soal
bentuk uraian dalam tes domain kognitif supaya subjektivitas Anda dalam
memberikan skor dapat diperkecil. Pedoman menyusun skor juga akan sangat
penting ketika Anda melakukan tes domain afektif dan psikomotor peserta didik.
Karena sejak tes belum dimulai, Anda harus dapat menentukan ukuran-ukuran sikap
dan pilihan tindakan dari peserta didik dalam menguasai kompetensi yang
dipersyaratkan.
Pada makalah ini, kita akan mempelajari teknik pemberian skor (penskoran) dan
prosedur mengubah skor ke dalam nilai standar pada metode tes. Adapun
kompetensi yang harus Anda kuasai setelah mempelajari tehnik penskoran
ini adalah sebagai mahasiswa mampu membuat pedoman penskoran dan melakukan
analisis hasil penilaian proses dan hasil pembelajaran dengan metode tes. Oleh
sebab itu, setelah mempelajari modul ini diharapkan kita memiliki kemampuan
untuk Memberi skor pada berbagai soal metode tes.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimanakah
teknik dalam pemberian skor ?
2. Bagaimanakah
mengubah skor dengan penilaian acuan patokan ?
3. Bagaimakah
mengubah skor dengan penilaian acuan normatif ?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui teknik pemberian skor
2. Untuk
mengetahui cara mengubah skor dengan penilaian acuan patokan
3. Untuk
mengetahui cara mengubah skor dengan penilaian acuan normatif
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Teknik
Pemberian Skor
Pada hakikatnya pemberian
skor (scoring) adalah proses pengubahan jawaban instrumen menjadi angka-angka
yang merupakan nilai kuantitatif dari suatu jawaban terhadap item dalam
instrumen. Angka-angka hasil penilaian selanjutnya diproses menjadi nilai-nilai
(grade). Skor adalah hasil pekerjaan menyekor (memberikan angka) yang diperoleh
dari angka-angka dar setiap butir soal yang telah di jawab oleh testee dengan
benar, dengan mempertimbangkan bobot jawaban betulnya
Membuat pedoman penskoran
sangat diperlukan, terutama untuk soal bentuk uraian dalam tes domain kognitif
supaya subjektivitas Anda dalam memberikan skor dapat diperkecil. Pedoman
menyusun skor juga akan sangat penting ketika Anda melakukan tes domain afektif
dan psikomotor peserta didik. Karena sejak tes belum dimulai, Anda harus dapat
menentukan ukuran-ukuran sikap dan pilihan tindakan dari peserta didik dalam
menguasai kompetensi yang dipersyaratkan.
1. Pemberian
Skor Tes pada Domain Kognitif
a. Penskoran
Soal Bentuk Pilihan Ganda
Cara penskoran tes bentuk pilihan ganda ada
tiga macam, yaitu: pertama penskoran tanpa ada koreksi jawaban, penskoran ada
koreksi jawaban, dan penskoran dengan butir beda bobot.
1) Penskoran
tanpa koreksi, yaitu penskoran dengan cara setiap butir soal yang dijawab benar
mendapat nilai satu (tergantung dari bobot butir soal), sehingga jumlah skor
yang diperoleh peserta didik adalah dengan menghitung banyaknya butir soal yang
dijawab benar. Rumusnya sebagai berikut.
Skor = x 100 (skala 0-100)
B = banyaknya butir yang
dijawab benar
N = adalah banyaknya butir
soal
Contohnya adalah sebagai berikut :
Pada suatu soal tes ada 50 butir, Budi menjawab benar 25
butir, maka skor yang dicapai Budi adalah:
Skor = x 100
= 50
2) Penskoran
ada koreksi jawaban yaitu pemberian skor dengan memberikan pertimbangan pada
butir soal yang dijawab salah dan tidak dijawab, adapun rumusnya sebagai
berikut.
Skor = x 100
B = banyaknya butir soal yang dijawab benar
S = banyaknya butir yang dijawab salah
P = banyaknya pilihan jawaban tiap butir
N = banyaknya butir soal
Butir soal yang tidak dijawab diberi skor 0
Contoh :
Pada soal bentuk pilihan ganda yang terdiri dari 40 butir
soal dengan 4 pilihan tiap butir dan banyaknya 40 butir, Amir dapat menjawab
benar 20 butir, mejawab salah 12 butir, dan tidak dijawab ada 8 butir, maka
skor yang diperoleh Amir adalah:
Skor = x 100
= 40
3) Penskoran
dengan butir beda bobot yaitu pemberian skor dengan memberikan bobot berbeda
pada sekelompok butir soal. Biasanya bobot butir soal menyesuaikan dengan
tingkatan kognitif (pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan
evaluasi) yang telah dikontrak guru. Anda juga dapat membedakan bobot butir
soal dengan cara lain, misalnya ada sekelompok butir soal yang dikembangkan
dari buku pegangan guru dan sekelompok yang lain dari luar buku pegangan diberi
bobot berbeda, yang pertama satu, yang lain dua. Adapun rumusnya sebagai
berikut.
Skor = x 100
Bi = banyaknya butir soal
yang dijawab benar peserta tes
bi = bobot setiap butir soal
St = skor teoritis (skor
bila menjawab benar semua butir soal)
Contoh:
Pada suatu soal tes matapelajaran IPA
berjumlah 40 butir yang terdiri dari enam tingkat domain kognitif diberi bobot
sebagai berikut: pengetahuan bobot 1, pemahaman 2, penerapan 3, analisis 4,
sintesis 5, dan evaluasi 6.
Yoyok dapat menjawab benar 8 butir soal
domain pengetahuan dari 12 butir, 12 butir dari 20 butir soal pehamanan, 2
butir soal penerapan dari 4 butir, 1 butir soal analisis dari 2 butir, dan 1
butir soal sintesis dan evaluasi masing-masing 1butir. Berapakah skor yang
diperoleh Yoyok?
Untuk mempermudah memberi
skor disusun Tabel 6.1. sebagai berikut.
Tabel 6.1. Contoh
Pemberian Skor
Domain butir
soal
|
Jumlah butir
|
bi
|
Jumlah butir x bi
|
Bi
|
Pengetahuan
|
12
|
1
|
12
|
8
|
Pemahaman
|
20
|
2
|
40
|
12
|
Penerapan
|
4
|
3
|
12
|
2
|
Analisis
|
2
|
4
|
8
|
1
|
Sintesis
|
1
|
5
|
5
|
1
|
Evaluasi
|
1
|
6
|
6
|
1
|
Jumlah =
|
40
|
-
|
St = 83
|
25
|
Skor = x 100
= 63.9
Jadi, skor yang diperoleh Yoyok adalah 63,9%, artinya
Yoyok dapat menguasai tes matapelajaran IPA sebesar 63,9%
b. Penskoran
Soal Bentuk Uraian Objektif
Pada bentuk soal uraian objektif, biasanya
langkah-langkah mengerjakan dianggap sebagai indikator kompetensi para peserta
didik. Oleh sebab itu, sebagai pedoman penskoran dalam soal bentuk uraian
objektif adalah bagaimana langkahlangkah mengerjakan dapat dimunculkan atau
dikuasai oleh peserta didik dalam lembar jawabannya. Untuk membuat pedoman
penskoran, sebaiknya Anda melihat kembali rencana kegiatan pembelajaran untuk
mengidentifikasi indikator-indikator tersebut.
Perhatikan contoh berikut.
Indikator : peserta didik dapat menghitung isi bangun
ruang (balok) dan mengubah satuan ukurannya.
Butir soal:Sebuah bak mandi berbentuk balok berukuran
panjang 150 cm, lebar 80 cm, dan tinggi 75 cm. Berapa literkah isi bak mandi
tersebut? (untuk menjawabnya tuliskan langkah-langkahnya!)
Tabel
6.2. Pedoman penskoran uraian objektif
Langkah
|
Kunci jawaban
|
Skor
|
1
2
3
4
5
|
Isi balok = panjang x lebar x tinggi
= 150cm x 80cm x 75cm
= 900.000 cm3
Isi bak mandi dalam liter
= liter
= 900 liter
|
1
1
1
1
1
|
Skor maksimum
|
5
|
c. Penskoran
Soal Bentuk Uraian Non-Objektif
Prinsip penskoran soal bentuk uraian
non-objektif sama dengan bentuk uraian objektif yaitu menentukan indikator
kompetensinya. Perhatikan contoh berikut.
Indikator: peserta didik dapat mendeskripsikan alasan
Warga Negara Indonesia bangga menjadi Bangsa Indonesia.
Butir soal: tuliskan alasan-alasan yang
membuat Anda berbangga sebagai Bangsa Indonesia!
Pedoman penskoran:
Jawaban boleh bermacam-macam namun pada
pokok jawaban tadi dapat dikelompokkan sebagai berikut.
Tabel 6.3. Contoh Pedoman
Penskoran
Kriteria jawaban
|
Rentang skor
|
Kebanggaan yang berkaitan dengan kekayaan alam Indonesia
|
0 - 2
|
Kebanggaan yang berkaitan dengan keindahan tanah air Indonesia
(pemandangan alamnya, geografisnya, dll)
|
0 - 2
|
Kebanggaan yang berkaitan dengan keanekaragaman budaya, suku, adat,
istiadat tetapi tetap bersatu.
|
0 - 2
|
Kebanggaan yang berkaitan dengan keramahtamahan masyarakat Indonesia
|
0 - 2
|
Skor tertinggi
|
8
|
d. Pembobotan
Soal Bentuk Campuran
Dalam beberapa situasi bisa digunakan soal
bentuk campuran, yaitu bentuk pilihan dan bentuk uraian. Pembobotan soal bagian
soal bentuk pilihan ganda dan bentuk uraian ditentukan oleh cakupan materi dan
kompleksitas jawaban atau tingkat berpikir yang terlibat dalam mengerjakan
soal.
Pada umumnya cakupan materi soal bentuk
pilihan ganda lebih banyak, sedang tingkat berpikir yang terlibat dalam
mengerjakan soal bentuk uraian biasanya lebih banyak dan lebih tinggi. Suatu
ulangan terdiri dari n1 soal pilihan ganda dan n2 soal uraian. Bobot untuk soal
pilihan ganda adalah w1 dan bobot untuk soal uraian adalah w2. Jika seorang
peserta didik menjawab benar n1 pilihan ganda, dan n2 soal uraian, maka peserta
didik itu mendapat skor:
Skor = b1 + b2
b1 = bobot soal 1
b2 = bobot soal 2
Contoh:
Suatu ulangan terdiri dari 20 bentuk
pilihan ganda dengan 4 pilihan, dan 4 buah soal bentuk uraian. Titi dapat
menjawab benar soal pilihan ganda 16 butir dan salah 4 butir, sedang bentuk
uraian bisa dijawab benar 20 dari skor maksimum 40. Apabila bobot pilihan ganda
adalah 0,40 dan bentuk uraian 0,60, maka skor yang diperoleh Titi dapat
dihitung sebagai berikut.
a. skor pilihan ganda tanpa koreksi jawaban dugaan :
(16/20)x100 = 80
b. skor bentuk uraian adalah : (20/40)x100 = 50
c. skor akhir adalah : 0,4 x (80) + 0,6 x
(50) = 62
2. Pemberian
Skor Tes pada Domain Afektif
Domain afektif ikut
menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Paling tidak ada dua komponen
dalam domain afektif yang penting untuk diukur, yaitu sikap dan minat terhadap
suatu pelajaran. Sikap peserta didik terhadap pelajaran bisa positif bisa
negatif atau netral. Tentu diharapkan sikap peserta didik terhadap semua mata
pelajaran positif sehingga akan timbul minat untuk belajar atau mempelajarinya.
Peserta didik yang memiliki minat pada pelajaran tertentu bisa diharapkan
prestasi belajarnya akan meningkat secara optimal, bagi yang tidak berminat
sulit untuk meningkatkan prestasi belajarnya. Oleh karena itu, Anda memiliki
tugas untuk membangkitkan minat kemudian meningkatkan minat peserta didik
terhadap mata pelajaran yang diampunya. Dengan demikian akan terjadi usaha yang
sinergi untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
Langkah pembuatan instrumen domain afektif termasuk sikap
dan minat adalah sebagai berikut:
a. Pilih
ranah afektif yang akan dinilai, misalnya sikap atau minat.
b. Tentukan
indikator minat: misalnya kehadiran di kelas, banyak bertanya, tepat waktu
mengumpulkan tugas, catatan di buku rapi, dan sebagainya. Hal ini selanjutnya
ditanyakan pada peserta didik.
c. Pilih
tipe skala yang digunakan, misalnya Likert dengan 5 skala: sangat berminat,
berminat, sama saja, kurang berminat, dan tidak berminat.
d. Telaah
instrumen oleh sejawat.
e. Perbaiki
instrumen.
f. Siapkan
kuesioner atau inventori laporan diri.
g. Skor
inventori.
h. Analisis
hasil inventori skala minat dan skala sikap.
Contoh:
Instrumen untuk mengukur minat peserta
didik yang telah berhasil dibuat ada 10 butir. Jika rentangan yang dipakai
adalah 1 sampai 5, maka skor terendah seorang peserta didik adalah 10, yakni
dari 10 x 1 dan skor tertinggi sebesar 50, yakni dari 10 x 5. Dengan demikian,
mediannya adalah (10 + 50)/2 atau sebesar 30. jika dibagi menjadi 4 kategori,
maka skala 10-20 termasuk tidak berminat, 21 sampai 30 kurang berminat, 31 – 40
berminat, dan skala 41 – 50 sangat berminat.
3. Pemberian
Skor Tes pada Domain Psikomotor
a. Penyusunan
Tes Psikomotor
Kinerja (performance) yang telah dikuasai
peserta didik. Tes tersebut menurut Lunetta dkk. (1981) dalam Majid (2007)
dapat berupa tes paper and pencil, tes dentifikasi, tesimulasi, dan tes unjuk
kerja. Skala penilaian cocok untuk menghadapi subjek yang jumlahnya sedikit.
Perbuatan yang diukur menggunakan alat ukur
berupa skala penilaian terentang dari sangat tidak sempurna sampai sangat
sempurna. Jika dibuat skala 5, maka skala 1paling tidak sempurna dan skala 5
paling sempurna.Misal dilakukan pengukuran terhadap keterampilan peserta didik
menggunakan thermometer badan. Untuk itu dicari indikator-indikator apa saja
yang menunjukkan peserta didik terampil menggunakan thermometer tersebut, misal
indikator-indikator sebagai berikut:
1. Cara
mengeluarkan termometer dari tempatnya.
2. Cara
menurunkan posisi air raksa serendah-rendahnya.
3. Cara
memasang termometer pada tubuh orang yang diukur suhunya.
4. Lama
waktu pemasangan termometer pada tubuh orang yang diukur suhunya.
5. Cara
mengambil termometer dari tubuh orang yang diukur suhunya.
6. Cara
membaca tinggi air raksa dalam pipa kapiler termometer.
Dari contoh cara
pengukuran suhu badan menggunakan skala penilaian, ada 6 butir soal yang
dipakai untuk mengukur kemampuan seorang peserta didik jika untuk butir 1
peserta didik yang bersangkutan memperoleh skor 5 berarti sempurna/benar, butir
2 memperoleh skor 4 berarti benar tetapi kurang sempurna, butir 3 memperoleh
skor 4 berarti juga benar tetapi kurang sempurna, butir 4 memperoleh skor 3
berarti kurang benar, butir 5 memperoleh skor 3 berarti kurang benar, dan butir
6 juga memperoleh skor 3 berarti kurang benar, maka total skor yang dicapai
peserta didik tersebut adalah (5 + 4 + 4 + 3 + 3 + 3) atau 22. Seorang peserta
didik yang gagalakan memperoleh skor 6, dan yang berhasil melakukan dengan
sempurna memperoleh skor 30; maka median skornya adalah (6 + 30)/2 = 18.
Jika dibagimenjadi 4
kategori, maka yang memperoleh skor 6 – 12 dinyatakan gagal, skor 13 – 18
berarti kurang berhasil, skor 19 – 24 dinyatakan berhasil, dan skor 25 – 30
dinyatakan sangat berhasil. Dengan demikian peserta didik dengan skor 21 dapat
dinyatakan sudah berhasil tetapi belum sempurna/belum sepenuhnya baik jika
sifat keterampilannya adalah absolut, maka setiap butir harus dicapai dengan
sempurna (skala 5). Dengan demikian hanya peserta didik yang memperoleh skor
total 30 yang dinyatakan berhasil dan dengan kategori sempurna.
B. Mengubah
Skor dengan Penilaian Acuan Patokan
Penilaian Acuan Patokan
(criterion referenced evaluation) yang dikenal juga dengan standar mutlak
berusaha menafsirkan hasil tes yang diperoleh siswa dengan membandingkannya
dengan patokan yang telah ditetapkan. Sebelum hasil tes diperoleh atau bahkan
sebelum kegiatan pengajaran dilakukan, patokan yang akan dipergunakan untuk
menentukan kelulusan harus sudah ditetapkan.
Standar atau patokan
tersebut memuat ketentuan-ketentuan yang dipergunakan sebagai batas-batas
penentuan kelulusan testee atau batas pemberian nilai pada testee. Jika skor
yang diperoleh oleh testee memenuhi batas minimal maka testee dinyatakan telah
memenuhi tingkat penguasaan minimal terhadap materi yang disampaikan dan
sebaliknya jika testee belum bisa memenuhi batas minimal yang ditentukan maka
testee dianggap belum “lulus” atau belum menguasai materi. Karena
batasan-batasan tersebut bersifat mutlak/ pasti maka hasil yang diperoleh tidak
dapat di tawar lagi.
Berhubung standar
penilaian ditentukan secara mutlak, banyaknya testee yang memperoleh nilai
tinggi atau jumlah kelulusan testee banyak akan mencerminkan penguasaannya
terhadap materi yang disampaikan. Pengolahan skor mentah menjadi nilai
dilakukan dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut :
a) Menggabungkan
skor dari berbagai sumber penilaian untuk memperolah skor akhir.
b) Menghitung
skor minimum penguasaan tuntas dengan menerapkan prosentase Batas
Minimal Penguasaan (BMP).
c) Menentukan
tabel konversi
C. Mengubah
Skor dengan Penilaian Acuan Normatif
Penilaian Acuan Norma
(Norm Referenced Evaluation) dikenal pula dengan Standar Relatif atau Norma
Kelompok. Pendekatan penilaian ini menafsirkan hasil tes yang diperoleh testee
dengan membandingkan dengan hasil tes dari testee lain dalam kelompoknya. Alat
pembanding tersebut yang menjadi dasar standar kelulusan dan pemberian nilai
ditentukan berdasarkan skor yang diperoleh testee dalam satu kelompok. Dengan
demikian, standar kelulusan baru daat ditentukan setelah diperoleh skor dari
para peserta testee.
Hal ini berarti setiap kelompok mempunyai standar masing-masing dan standar satu kelompok tidak dapat dipergunakan sebagai standar kelompok yang lain. Standar dari hasil tes sebelumnya pun tidak dapat dipergunakan sebagai standar sehingga setiap memperoleh hasil tes harus dibuat norma yang baru. Dasar pemikiran dari penggunaan standar PAN adalah adanya asumsi bahwa di setiap populasi yang heterogen terdapat siswa dengan kelompok baik, kelompok sedang dan kelompok kurang.
Hal ini berarti setiap kelompok mempunyai standar masing-masing dan standar satu kelompok tidak dapat dipergunakan sebagai standar kelompok yang lain. Standar dari hasil tes sebelumnya pun tidak dapat dipergunakan sebagai standar sehingga setiap memperoleh hasil tes harus dibuat norma yang baru. Dasar pemikiran dari penggunaan standar PAN adalah adanya asumsi bahwa di setiap populasi yang heterogen terdapat siswa dengan kelompok baik, kelompok sedang dan kelompok kurang.
Pengolahan skor dengan
Penilaian Acuan Norma (PAN) mengharuskan kita menghitung dengan
statistik. Perhitungan dilakukan atas skor akhir (penggabungan berbagai sumber
skor), Kelemahan sistem PAN adalah dengan tes apapun dalam kelompok
apapun dan dengan dasar prestasi yang bagaimanapun, pemberian nilai dengan
sistem ini selalu dapat dilakukan. Karena itu penggunaan sistem PAN dapat
dilakukan dengan baik apabila memenuhi syarat yang mendasari kurva normal,
yaitu :
a) Skor
nilai terpencar atau dapat dianggap terpencar sesuai dengan pencaran kurva
normal
b) Jumlah
yang dinilai minimal 50 orang atau sebaiknya 100 orang ke atas.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Dari pembahasan diatas
dapat disimpulkan bahwa pemberian skor (scoring) adalah proses pengubahan
jawaban instrumen menjadi angka-angka yang merupakan nilai kuantitatif dari
suatu jawaban terhadap item dalam instrumen. Dalam pemberian skor tes ada 3
jenis domain yang dinilai yaitu domain kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Untuk menginterpretasikan
suatu skor menjadi nilai atau mengolah skor menjadi nilai diperlukan suatu
acuan atau pedoman. Terdapat dua acuan guna menafsirkan skor menjadi nilai.
Kedua pendekatan ini memiliki tujuan, proses, standard an juga akan
menghasilkan nilai yang berbeda. Karena itulah pemilihan dengan tepat
pendekatan yang akan digunakan menjadi penting. Kedua pendekatan tersebut
adalah criterion-referenced atau Pendekatan Acuan Patokan (PAP)
dan norms-referenced atau Pendekatan Acuan Norma (PAN)
B. Saran
Pemberian skor dilakukan
untuk mengetahui skor yang diperoleh siswa setelah dilakukan tes hasil belajar
yang bertujuan untuk menyaring, seperti tes seleksi. Pendidik sebaiknya
mengetahui berbagai macam teknik dalam pemeriksaan hasil tes, pemberian skor,
dan mengolah serta merubah skor menjadi nilai sehingga akan mempermudah
pekerjaan apabila memilih teknik yang sesuai dengan situasi dan kondisi baik
dari segi feasibilitas, sarana dan prasarana, dan sebagainya. sehingga dapat dijadikan
sebagai evaluasi bagi pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran
DAFTAR
PUSTAKA
Balitbang Depdiknas. (2006). Panduan
Penilaian Berbasis Kelas. Jakarta:
Depdiknas.
Depdiknas. (2004). Panduan Analsis
Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Depdiknas.
Ibrahim Muslimin. (2003). Asesmen
Alternatif. Bahan Pelatihan Terintegrasi
Berbasis Kompetensi Guru
Mata Pelajaran Biologi. Direktorat Pendidikan
Lanjutan Pertama
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.
Jakarta: Depdiknas.
Majid, Abdul. (2007). Perencanaan
Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Poerwanti, Endang. (2001). Evaluasi
Pembelajaran, Modul Akta Mengajar. UMM
Press.
Rofiq Ainur. (2002). Analisis
Statistik. UMM Press
Sudjana. (1996). Metode Statistika.
Bandung: Penerbit Tarsito
Sudijono Anas. (2006). Pengantar Evaluasi
Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Thoha, M. Chabib. (1991). Teknik
Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar